Al-Shabaab
Afrika

Serangan Teroris Al-Shabaab di Kenya, Apa dan Bagaimana?

Berita Internasional >> Serangan Teroris Al-Shabaab di Kenya, Apa dan Bagaimana?

Serangan terbaru kelompok teroris Al-Shabaab di kompleks elit di ibu kota Kenya, Nairobi, menimbulkan banyak pertanyaan. Al-Shabaab adalah kelompok teroris tertua di Afrika yang berafiliasi dengan Al-Qaeda. Di tahun-tahun sebelumnya, kelompok yang berbasis di Somali itu juga telah melakukan serangan besar-besaran yang memakan korban sampai ratusan jiwa.

Baca juga: Al-Shabaab: Siapakah Kelompok Jihad Afrika Ini dan Apa Tujuan Mereka?

Oleh: Matina Stevis-Gridneff dan Gabriele Steinhauser (The Wall Street Journal)

Pengepungan kompleks kelas atas yang berlangsung selama 18 jam oleh militan Islam telah terjadi di Kenya, negara yang merupakan sekutu kunci AS dalam perang melawan terorisme, dan memunculkan pertanyaan tentang bagaimana pemberontak yang berbasis di Somalia itu bisa bertahan lebih dari satu dekade dari kampanye militer internasional.

Pada hari Selasa sore (15/1), para penyerang yang membawa senapan AK-47 dan bahan peledak, menyerbu hotel di Riverside 14 dan kompleks perkantoran—tempat berkumpul favorit bagi orang asing dan warga Kenya kelas atas—meledakkan setidaknya satu bom bunuh diri dan menyandera ratusan orang semalaman. Rabu pagi (16/1), pasukan khusus Kenya berhasil membunuh lima pria bersenjata dan membebaskan para sandera.

Pada saat itu, setidaknya 20 orang, termasuk seorang akuntan Kenya untuk Colgate-Palmolive Co. dan seorang berkewarganegaraan Amerika yang bekerja di bidang keuangan pembangunan, tewas. Seorang petugas polisi kemudian meninggal karena lukanya di rumah sakit.

Serambi hotel DusitD2, hotel lambang kebangkitan Nairobi sebagai pusat bisnis Afrika Timur, berlumuran darah dan puing-puing; di lahan parkirnya terparkir mobil-mobil yang terbakar.

Al-Shabaab, kelompok ekstremis Somalia yang berafiliasi dengan Al Qaeda, mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Polisi Kenya mengatakan mereka telah menangkap dua orang yang diyakini membantu memfasilitasi serangan itu.

Polisi Kenya mengamankan jalan di dekat lokasi serangan pada hari Rabu (16/1). (Foto: Reuters/Thomas Mukoya)

Kelompok itu mengatakan bahwa serangan itu berasal dari arahan al-Qaeda untuk menargetkan Barat dan Zionis sebagai balasan atas keputusan Presiden Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan Kedutaan Besar AS di sana, menurut sebuah pernyataan di situs web SITE Intelligence Group, yang melacak kelompok jihadis.

Pernyataan itu mengatakan bahwa kompleks itu dipilih karena menampung perusahaan-perusahaan Barat dan banyak ekspatriat yang makan di restoran-restorannya.

Sebagai salah satu gerakan Islamis tertua di Afrika, al-Shabaab secara teratur melakukan serangan mematikan, yang sebagian besar dilakukan di Somalia. Dalam serangan mereka yang paling mematikan, ia menewaskan lebih dari 500 warga Somalia di ibukota, Mogadishu, pada tahun 2017. Serangan gaya pemberontakannya, yang sering dilakukan dengan bahan peledak, telah terbukti sulit untuk dikendalikan dengan taktik militer konvensional.

Bagi banyak warga Kenya, pengepungan itu membawa kembali kenangan menyakitkan tentang serangan Al-Shabaab tahun 2013 di pusat perbelanjaan Westgate di Nairobi, yang menewaskan 67 orang dan berlangsung selama empat hari. Dua tahun kemudian, militan al-Shabaab mengamuk di Universitas Garissa di Kenya, yang menewaskan 147 orang.

“Kami tidak akan membiarkan ini begitu saja,” kata Presiden Kenya Uhuru Kenyatta dalam konferensi pers yang disiarkan televisi, berjanji untuk mengadili “setiap orang yang terlibat dalam perencanaan, pendanaan, dan melaksanakan tindakan keji ini.”

Di kamar mayat Chiromo di Nairobi, puluhan teman dan kerabat korban—beberapa menangis, yang lain ambruk dalam kesedihan—berkumpul untuk mengidentifikasi dan mengklaim jenazah orang-orang yang mereka cintai.

Di antara mereka ada perwakilan keluarga Jason Spindler, pendiri dan kepala eksekutif I-Dev International, sebuah perusahaan yang berfokus pada inovasi keuangan untuk mengurangi kemiskinan. “Dunia telah kehilangan salah satu orang yang baik dan hebat dalam peristiwa yang tidak masuk akal,” kata seorang temannya di halaman Facebook Spindler.

Seorang pejabat eksekutif senior dari LG Electronics Inc., yang memiliki kantor di kompleks Riverside 14, mengatakan dia berada di sana untuk mengidentifikasi mayat seorang karyawan Kenya. Di dekatnya, janda seorang akuntan Colgate menangis.

Di dalam kamar mayat, tergeletak mayat Luke Potter, direktur Inggris-Afrika Selatan untuk program Gatsby Charitable Foundation yang berbasis di Inggris. Selasa lalu (15/1) adalah hari pertamanya di kantor Riverside setelah pindah secara permanen ke Nairobi, kata seorang teman dan rekan kerjanya.

Serangan itu melanda jantung negara yang sektor pariwisatanya, yang terkenal akan safari dan pantai berpasir putih yang mempesona, belum lama pulih dari serangan Westgate. Kenya juga menjadi tuan rumah pangkalan multinasional regional seperti Coca-Cola dan Microsoft.

Di Riverside 14, terdapat bank, agen perjalanan, dan toko, di samping hotel dan kantor. Pembuat minuman Prancis Pernod Ricard SA dan Adam Smith International, sebuah badan ahli terkemuka, memiliki kantor di kompleks tersebut.

Banyak bangunan publik di Nairobi, termasuk kompleks Riverside, memiliki detektor logam dan penjaga keamanan yang selalu menyisir mobil untuk memeriksa apakah ada senjata atau bahan peledak. Para penyerang berhasil menembus dua sistem keamanan itu dengan menembakkan AK-47 dan melemparkan granat ke kendaraan yang diparkir, yang menyebabkan beberapa ledakan.

Para pejabat Kenya mengatakan bahwa pasukan keamanan telah menahan konfrontasi dengan orang-orang bersenjata itu sementara pekerja kantor bersembunyi di dalam kompleks, untuk mencegah terjadinya baku tembak. Dua diplomat Barat mengatakan mereka bangga dengan tanggapan pasukan Kenya.

Namun, fakta bahwa al-Shabaab mampu meluncurkan serangan yang sedemikian canggih—yang membutuhkan koordinasi yang cermat dan sejumlah besar amunisi—mengejutkan banyak warga Kenya dan pengamat internasional. Di bawah Trump, AS telah meningkatkan serangan pesawat tak berawak terhadap militan di Somalia. AS juga mendukung pasukan militer regional berkekuatan 22.000 personil yang memerangi pemberontakan, dan mempertahankan sekitar 500 tentara di Somalia yang melatih pasukan elit Somalia.

Baca juga: 10 Penjaga Perdamaian PBB Terbunuh dalam Serangan di Mali

“Ini menjawab pertanyaan tentang mengapa investasi AS dilakukan di Kenya dan Somalia—bahkan jika mereka belum sepenuhnya berhasil, ancaman al-Shabaab kemungkinan besar tidak akan hilang jika AS berhenti melawannya,” kata Katherine Zimmerman, seorang peneliti di Institut Perusahaan Amerika yang berbasis di Washington.

Kenya, adalah kontributor utama AMISOM, pasukan militer yang ditempatkan di Somalia yang mencakup pasukan dari Ethiopia, Uganda, Djibouti dan Burundi. Serangan Riverside 14 menghidupkan kembali perdebatan di Kenya tentang apakah negara itu harus mempertahankan pasukan mereka di Somalia, mengingat pembalasan dendam yang kejam.

“Tidak ada yang ingin melihat pasukan mereka berada dalam masalah negara lain, tetapi afiliasi Al Qaeda di Somalia ini telah menciptakan kekacauan di Kenya,” kata Abdirashid Hashi, direktur badan ahli Heritage Institute yang berbasis di Mogadishu. “Somalia saja tidak bisa menanganinya.”

Keterangan foto utama: Seorang wanita pingsan pada hari Rabu (16/1) setelah melihat jenazah seorang anggota keluarganya yang terbunuh ketika penyerang menyerbu kompleks hotel dan kantor di Nairobi. (Foto: Rex/Shutterstock/European Pressphoto Agency/Dai Kurokawa)

Serangan Teroris Al-Shabaab di Kenya, Apa dan Bagaimana?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top