Serangan Udara Damaskus, Peristiwa Memalukan bagi Rezim Suriah
Timur Tengah

Serangan Udara Damaskus, Peristiwa Memalukan bagi Rezim Suriah

Berita Internasional >> Serangan Udara Damaskus, Peristiwa Memalukan bagi Rezim Suriah

Serangan udara terjadi pada Malam Natal di Damaskus, Suriah. Serangan itu terjadi pada masa kritis ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penarikan pasukannya dari Suriah. Ledakan dan penembakan rudal pada hari Selasa itu menggambarkan bahwa Damaskus masih jauh dari aman saat serangan udara terjadi di sekitar ibu kotanya.

Oleh: Seth J. Frantzman (The Jerusalem Post)

Baca Juga: Kisah Cinta Palestina-Suriah Hancur karena Serangan Udara Israel

Pertahanan udara Suriah menghadapi ancaman yang kompleks di Damaskus pada Selasa malam (25/12). Serangan udara itu muncul setelah selama beberapa bulan situasi tenang untuk rezim Suriah Bashar al-Assad, yang bergulat dengan krisis di Suriah timur ketika pasukan AS menarik diri.

Serangan udara tersebut terjadi ketika media pemerintah Suriah berusaha untuk menyoroti Natal di Suriah. Suriah mencapai “kemenangan atas terorisme,” kata SANA. Namun serangan udara itu adalah serangan yang paling besar sejak bulan September ketika serangan udara Israel menargetkan Latakia dan memicu pertahanan udara Suriah untuk menembak jatuh sebuah pesawat IL-20 Rusia.

Insiden itu menyebabkan Rusia memberi Suriah sistem S-300 dan memperingatkan Israel agar tidak terjadi insiden lebih lanjut.

Selama berbulan-bulan, situasi relatif tenang. Terjadi insiden pada 29 November dan 9 Desember di Damaskus namun teratasi karena pertahanan udara telah diaktifkan. Kedua insiden itu tampak kecil. Salah satunya hanyalah peringatan serangan palsu. Namun serangan pada 25 Desember merupakan eskalasi besar. Serangan itu terjadi ketika Suriah berusaha untuk menangani krisis besar di Suriah timur ketika AS menarik diri.

Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan penarikan pasukannya pada 19 Desember, dan sejak saat itu, telah ada diskusi tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Turki ingin meluncurkan operasi besar ke Suriah timur untuk menyerang Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) yang Turki anggap sebagai teroris yang terkait dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK). YPG adalah mitra kampanye anti-ISIS di koalisi pimpinan AS.

Kelompok pemberontak Suriah yang bersekutu dengan Turki telah mengajukan diri untuk membantu memerangi YPG. Satu kelompok sudah mengumumkan akan menyerang Manbij di Suriah utara.

Bagi rezim Suriah, hal ini menjadi masalah karena ada pasukan Suriah di Suriah timur di Qamishli dan Hasakeh. Rezim Suriah memiliki hubungan damai dengan YPG tetapi rezim tersebut harus bergantung pada Rusia dan Iran untuk membantu bernegosiasi dengan Turki di Suriah timur.

Di saat Suriah berfokus pada hal itu, Suriah juga menginginkan Natal yang tenang untuk menyoroti stabilitas setelah perang sipil selama tujuh tahun. Serangan udara itu meledak di tengah ketenangan itu dan membuat pemerintah Suriah bertanya-tanya apakah akan terjadi serangan yang lebih buruk.

Israel mengatakan pihaknya telah mencapai 200 target dalam dua tahun terakhir di seluruh Suriah. Banyak dari target ini berada di dekat Damaskus menurut laporan setempat. Tetapi Suriah berpikir bahwa S-300 dan dukungan Rusia akan mengurangi serangan udaranya.

Malah tampaknya Suriah belum berhasil mencegah serangan udara di sekitar Damaskus. Meskipun media pemerintahnya mengklaim Suriah telah mencegat semua rudal yang ditembakkan ke sasaran dekat Damaskus pada 25 Desember.

Pemerintah Suriah sekarang harus mempertanyakan apakah Rusia telah melatihnya untuk menggunakan S-300 dengan serius dan apakah S-300 efektif.

Kedua pertanyaan ini berkaitan dengan bagaimana Suriah akan memusatkan tantangan yang masih dihadapinya. Israel mengatakan bahwa ketika AS menarik diri, Israel akan terus menantang Iran di Suriah. Selain itu ada laporan bahwa Rusia dapat menawarkan untuk membantu mengurangi pengaruh Iran atau kehadiran di Suriah dengan imbalan sesuatu.

Rezim Suriah melihat wilayah tersebut dan menyadari bahwa keputusan tentang apa yang terjadi di Suriah tampaknya selalu dialihdayakan ke Rusia, Iran, atau Turki. Misalnya menteri luar negeri Rusia, Iran dan Turki bertemu di Jenewa pada 18 Desember untuk membahas komite konstitusi Suriah.

Pejabat pertahanan Rusia telah mengunjungi Teheran pada 25 Desember, dan Iran membahas perluasan kerja sama dengan Rusia. Rusia juga berbicara langsung dengan Israel dan laporan telah menunjukkan bahwa diskusi ini termasuk diskusi tentang Suriah.

Suriah sedang mencoba membangun kembali reputasinya di wilayah tersebut. Pemimpin Sudan, Omar Bashir, pergi ke Damaskus pada 16 Desember dan kepala intelijen Suriah, Ali Mamluk, pergi ke Kairo pada 23 Desember. Kunjungan-kunjungan ini terjadi ketika Suriah sedang menyambut para pemimpin asing dan bekerja sama dengan rezim Arab setelah bertahun-tahun diperlakukan seperti paria oleh sebagian besar Liga Arab.

Tetapi rezim Suriah juga ingin mengamankan Damaskus dan ingin menegosiasikan apa yang terjadi di Idlib dan di Suriah timur. Namun Suriah masih harus bergantung pada Rusia di banyak hal. Suriah juga harus bergantung pada Rusia untuk meningkatkan pertahanan udaranya di sekitar Damaskus. Ledakan dan penembakan rudal pada hari Selasa (25/12) menggambarkan bahwa Damaskus masih jauh dari aman saat serangan udara terjadi di sekitar ibu kotanya.

Baca Juga: Pasukan Yaman ‘Rebut Rumah Sakit Utama Hodeidah’ di Tengah Serangan Udara

Keterangan foto utama: Tentara Pembebasan Suriah meluncurkan roket Grad dari kota Halfaya di provinsi Hama, menuju pasukan yang setia kepada Presiden Suriah Bashar Assad yang ditempatkan di gunung Zein al-Abidin, Suriah 4 September 2016. (Foto: Reuters/Ammar Abdullah)

Serangan Udara Damaskus, Peristiwa Memalukan bagi Rezim Suriah

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top