Serangan Udara Turki Hantam Irak, Erdogan Serukan Pengosongan 'Rawa Teror'
Timur Tengah

Serangan Udara Turki Hantam Irak, Erdogan Serukan Pengosongan ‘Rawa Teror’

Para pendukung Partai Pekerja Kurdistan berdemonstrasi di depan gedung PBB selama protes yang menuntut pemimpin Abdullah Ocalan dibebaskan, di Erbil, Irak, pada tanggal 15 Desember 2017. (Foto: Getty Images/Younes Mohammad)
Home » Featured » Timur Tengah » Serangan Udara Turki Hantam Irak, Erdogan Serukan Pengosongan ‘Rawa Teror’

Presiden Turki membanggakan operasi anti-teror baru di Irak utara, tetapi tidak ada laporan yang muncul tentang serangan darat, dan konsensusnya adalah bahwa seruan terbaru Erdogan lebih tentang memenangkan suara alih-alih memerangi militan Kurdi.

    Baca juga: Turki Bangun Tembok Keamanan di Sepanjang Perbatasan Suriah

Oleh: Amberin Zaman (Al-Monitor)

Turki telah meluncurkan gelombang serangan udara baru terhadap militan Kurdi di Irak utara, menurut keterangan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Senin (11/6), yang merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk melemahkan dan menghancurkan kelompok yang dikenal sebagai Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Berbicara dalam pawai kampanye di pusat Provinsi Anatolia Nigde, Erdogan mengatakan, “Kami telah memulai operasi anti-teror di Qandil dan Sinjar. Kami telah menghancurkan 14 target penting dengan pesawat kami. (Pekerjaannya) belum selesai.”

Qandil mengacu pada rantai gunung yang menjulang tinggi yang memisahkan Irak dari Iran, di mana komandan utama PKK bermarkas. Sinjar—daerah yang didominasi Yazidi dengan gunungnya sendiri yang lebih kecil—memisahkan Irak dari Suriah. Tujuan strategis Turki adalah untuk mengganggu aliran pejuang PKK antara Qandil dan Suriah, di mana kelompok saudara mereka yang dikenal sebagai Unit Perlindungan Rakyat (YPG) mengontrol wilayah yang luas, dengan dukungan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) dalam melawan ISIS.

Turki menyebut kedua kelompok tersebut sebagai teroris, dan telah meningkatkan tekanan pada mereka dalam beberapa bulan terakhir, mendorong YPG keluar dari Afrin—daerah kantong dengan sebagian besar Kurdi di Suriah barat laut—dengan bantuan Rusia pada bulan Maret. Erdogan mengatakan bahwa Turki telah “menetralisir” 4.500 militan di Afrin. “Kami akan menguras rawa teror di Qandil seperti kami membersihkan Afrin, Jarablus, al-Bab, dan Azaz dari gerombolan pembunuh,” katanya.

Sumber-sumber pemberontak yang dihubungi melalui WhatsApp, mengkonfirmasi bahwa jet tempur Turki telah melakukan serangan mendadak baru, tetapi bahwa ada “tidak ada tanda-tanda” serangan darat Turki terhadap Qandil. Pasukan Turki yang telah menyeberangi perbatasan dari provinsi Hakkari dan Sirnak di Turki tetap berada di wilayah Harkurk yang berdampingan dengan Qandil, salah satu sumber mengatakan kepada Al-Monitor.

Safeen Dizayee—kepala staf untuk Perdana Menteri Pemerintah Daerah Kurdistan di Irak utara—menguatkan versi kejadian ini. Dia mengatakan kepada Al-Monitor, “Kami tidak mengetahui adanya serangan darat Turki terhadap PKK. Tapi kami menentang setiap dan semua ancaman yang dibuat oleh PKK atau kelompok lain kepada tetangga-tetangga kami, dan mendesak semua pihak untuk berhenti dari semua tindakan yang menyebabkan kerugian yang diderita penduduk sipil.”

Laporan intelijen real-time yang disediakan oleh Amerika Serikat (AS) terkait target PKK, dan penggunaan pesawat tanpa awak bersenjata dan teknologi lainnya, telah mempersulit segalanya, militan PKK mengakui. Tetapi PKK telah menyesuaikan taktiknya, dan jika rekaman yang disiarkan di Gerilla TV online adalah asli, maka para militan tampaknya akan menahan diri terhadap pasukan Turki ketika dalam pertempuran jarak dekat.

Turki telah menyerang Pegunungan Qandil sejak awal tahun 1990-an, dan telah melancarkan beberapa serangan darat terhadap PKK di Kurdistan Irak, tetapi hanya berdampak kecil karena luasnya dan kerasnya medan yang tak tertembus. Sementara itu, keefektifan YPG dalam melawan ISIS dan dampak kemitraan dengan Amerika Serikat telah membuat aliran militan pria dan wanita yang terus meningkat.

Ketakutan Ankara bahwa setelah perang melawan ISIS berakhir mereka akan bergabung dengan PKK dan menggunakan senjata dan pelatihan yang disediakan oleh koalisi melawan pasukan Turki, memang berdasar.

Memang, perjanjian kerangka kerja yang diresmikan pekan lalu oleh Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo terkait penarikan dan pelucutan senjata YPG di kota Arab terutama Manbij, adalah ujian besar bagi janji Washington untuk merebut kembali senjata yang diberikan kepada Kurdi dalam perang melawan ISIS, sebelum dan jika Amerika Serikat menarik diri dari Suriah utara.

Namun, konsensusnya adalah bahwa seruan terbaru Erdogan mengenai Qandil lebih untuk memenangkan suara dalam pemilihan parlemen dan pemilihan presiden pada tanggal 24 Juni mendatang, alih0-alih memenangkan perang di mana tidak ada pihak yang berhasil menang, sejak PKK melancarkan serangan pertamanya pada tahun 1984.

Namun, jika dia berharap untuk mendorong PKK agar melanjutkan serangan teror perkotaan semacam itu, yang akan menakut-nakuti para pemilih dari blok pro-Kurdi terbesar di parlemen, Partai Rakyat Demokratik (HDP), maka para militan belum melakukannya. Operasi mereka sebagian besar terbatas pada daerah perbatasan di tenggara Kurdi.

Jika HDP memenangkan minimum 10 persen suara nasional yang diperlukan untuk memenangkan kursi di parlemen, Partai Keadilan dan Pembangunan yang berkuasa milik Erdogan kemungkinan akan kehilangan mayoritas partai. Erdogan melakukan yang terbaik untuk menjadikan kelompok ini sebagai boneka PKK dalam upaya nyata untuk mendorongnya di bawah ambang 10 persen.

    Baca juga: Opini: Mengapa Krisis Hubungan Israel-Turki Harus Segera Diperbaiki

Pada sebuah kampanye di provinsi Anatolia di pusat Kocaeli, Erdogan mengatakan bahwa jika RUU parlemen yang menyerukan eksekusi mantan pemimpin HDP yang dipenjara Selahattin Demirtas, diberikan kepadanya, maka dia akan menandatanganinya “sudah sejak lama.”

Keterangan foto utama: Para pendukung Partai Pekerja Kurdistan berdemonstrasi di depan gedung PBB selama protes yang menuntut pemimpin Abdullah Ocalan dibebaskan, di Erbil, Irak, pada tanggal 15 Desember 2017. (Foto: Getty Images/Younes Mohammad)

Serangan Udara Turki Hantam Irak, Erdogan Serukan Pengosongan ‘Rawa Teror’
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top