Selepas Ahok Bebas, Akankah Dia Kembali Berpolitik?
Berita Politik Indonesia

Setelah Dipenjara, Akankah Ahok Kembali ke Dunia Politik?

Home » Berita Politik Indonesia » Setelah Dipenjara, Akankah Ahok Kembali ke Dunia Politik?

Masa hukuman mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok, akan berakhir awal tahun depan. Mengingat sosoknya yang terus populer dan memiliki banyak pendukung, tak heran jika kemudian muncul pertanyaan mengenai Ahok bebas. Apa yang akan dilakukannya? Bocoran mengatakan, sepertinya pria yang mewujudkan jalan layang Semanggi itu tidak akan kembali ke dunia politik.

Oleh: Leo Jegho (Global Indonesian Voices)

Baca Juga: Opini: Radikalisme Masuk ke TK Indonesia, Kenapa Harus Terkejut?

Di tengah kegemparan Asian Games 2018 dan semakin dekatnya pemilihan presiden 2019, beredar berita bahwa mantan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau ‘Ahok’ akan dibebaskan dari penjara pada Januari 2019.

Namun, berita-berita tentang Ahok bebas bukanlah berita baru. Selama beberapa bulan terakhir, telah diungkapkan bahwa Ahok mungkin akan meninggalkan penjara antara bulan Januari dan April tahun depan. Menurut juru bicara Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Ade Kusmanto, Ahok akan bebas pada Januari 2019.

Ahok akan dibebaskan Januari depan jika remisi Hari Kemerdekaan dua bulan dimasukkan dalam remisinya, menurut Ade Kusmanto seperti yang dilaporkan oleh Thejakartapost.com.

Dipenjara di Mako Brimob, Depok, pada bulan Mei tahun lalu, mantan gubernur itu menjalani hukuman dua tahun penjara karena penistaan agama.

Pertanyaan yang sering diajukan oleh sebagian besar orang adalah apa yang akan dilakukan Ahok setelah mengakhiri masa hukumannya. Spekulasi yang telah menyebar menunjukkan bahwa Ahok memiliki beberapa pilihan.

Dia mungkin akan kembali ke dunia politik, kembali ke awal kariernya sebagai pengusaha seperti yang telah dia katakan berulang kali, atau memberi pidato dalam seminar-seminar dan acara bincang-bincang televisi dan sejenisnya. Ahok dikenal sebagai orang yang tidak suka omong-kosong dan tidak pernah kehilangan kata-kata.

Ahok adalah penganut agama Kristen dan dikenal luas sebagai sekutu dekat Presiden Joko Widodo atau ‘Jokowi’, pasangannya dalam pemilihan gubernur Jakarta tahun 2014. Meskipun kadang perkataannya kasar, Ahok tetap populer tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di banyak bagian lain di seluruh nusantara berkat keberaniannya yang spektakuler untuk mengubah birokrasi ibu kota menjadi pemerintahan yang bersih dan efisien.

Banyak orang termasuk pejabat pemerintah pusat mengakui prestasi Ahok dalam mengembangkan Jakarta dengan “konsep komprehensif” yang diterjemahkan ke dalam berbagai proyek konkrit dan pro-rakyat.

Proyek-proyek Ahok termasuk pembangunan rumah sakit di 44 kabupaten di seluruh ibu kota, pembuatan tempat pembuangan limbah di hampir semua lingkungan lokal atau RT/RW di seluruh Jakarta, pembentukan sistem transportasi sampah, dan pembangunan moda transportasi massal untuk mendukung mobilitas orang-orang di kota.

Salah satu warisan Ahok yang menonjol adalah pembangunan ulang jalan layang Semanggi, yang saat ini merupakan salah satu proyek paling terkenal di Jakarta dan Indonesia secara keseluruhan.

Presiden Jokowi secara publik memberi Ahok jempol untuk inisiatif ‘pintar’ dan sah dari gubernur dengan membiayai proyek jalan layang dengan uang dari luar anggaran kota. Ahok mengambil alih kursi Jokowi sebagai gubernur setelah Jokowi terpilih sebagai presiden.

Namun, terlepas dari banyaknya apresiasi yang diterima Ahok, lawan-lawan politiknya yang mengandalkan dukungan kelompok-kelompok garis keras berbasis agama mengklaim, ia bukanlah pemimpin yang dibutuhkan oleh Jakarta, terutama warganya yang berpendidikan lebih rendah.

Pengadilan Ahok dan hukuman penjara yang ia terima sempat memecah belah penduduk Jakarta, yang memiliki populasi 10,3 juta orang. Hingga hari ini, para pendukungnya masih mengklaim bahwa kasus penistaan ​​Ahok hanya dibuat-buat.

Akankah Ahok kembali ke dunia politik?

Sementara itu, setelah pembebasan Ahok tahun depan, beberapa orang menyarankan agar dia mempertimbangkan untuk menjadi anggota parlemen setelah dibebaskan dari penjara. Sebelum menjabat sebagai wakil gubernur dan gubernur Jakarta pada bulan Oktober 2014, ia adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Gerindra. Dan, sebelumnya, sebagai kader Partai Golkar, Ahok terpilih sebagai bupati Belitung di Provinsi Bangka Belitung.

Karier politik Ahok secara resmi dimulai ketika ia bergabung dengan Partai Perjuangan Indonesia Baru (PPIB) yang sekarang sudah tidak aktif lagi. Partai itu dulu didirikan pada tahun 2002 dan diketuai oleh Yenny Wahid, putri mantan presiden pluralis Abdurrahman ‘Gus Dur’ Wahid.

Peluang Ahok untuk kembali ke dunia politik penuh dengan pro dan kontra. Profesor hukum terkemuka Mahfud MD mengatakan, setelah meninggalkan penjara Ahok tidak akan dapat menjadi presiden, wakil presiden, maupun anggota parlemen.

Selain menyebutkan ketentuan hukum yang digunakan oleh hakim pengadilan untuk menjatuhkan hukuman kepada Ahok, Mahfud MD mendukung argumennya dengan menunjuk ketentuan hukum yang berlaku saat ini tentang kelayakan anggota parlemen.

Kamis lalu (16/8), muncul jawaban yang agak jelas untuk menjawab pertanyaan tentang karir masa depan Ahok. Penerusnya, Djarot Saiful Hidayat, mengatakan Ahok berencana untuk menjadi pembicara di forum diskusi dan atau forum sejenisnya.

Baca Juga: Mengapa Gempa Terus Guncang Lombok?

“Dia (Ahok) memberi tahu saya bahwa dia ingin menjual buku-bukunya. Sekarang dia sering menulis. Setelah meninggalkan penjara, ia mungkin akan memberikan ceramah di mana-mana, sebagai narasumber, atau sebagai pembicara acara bincang-bincang, atau apa pun,” kata Djarot Saiful dalam pertemuan yang diadakan di Jakarta Pusat untuk membahas buku Ahok yang baru diterbitkan yang berjudul Kebijakan Ahok.

Djarot, yang mengambil alih kursi wakil gubernur setelah Ahok maju menjadi gubernur, telah dilaporkan mengunjungi Ahok beberapa kali di Depok. Djarot mengatakan, mantan bosnya itu cukup sibuk di penjara, ia menghabiskan waktunya untuk membaca dan menulis.

Sementara itu, laporan sebelumnya mengatakan Ahok menerima hampir 90 tamu setiap hari, jumlah maksimum yang diizinkan oleh para pemimpin penjara. Jumlah itu dikatakan jauh lebih sedikit daripada ratusan pendukung Ahok yang telah mengajukan pendaftaran untuk menemuinya.

Dalam pertemuan peluncuran buku Kamis lalu (16/8), putra tertua Ahok, Nicholas Sean, dilaporkan membacakan surat ayahnya. Surat itu berbunyi, “Saya menulis buku Kebijakan Ahok dengan tujuan agar semua kebijakan yang saya buat dan pikirkan sebagai pejabat publik akan memberi kita pelajaran yang berharga, yang dapat dipelajari, dikritik, dan dipahami bersama oleh semua orang.”

Di surat tersebut Ahok juga mengatakan bahwa bukunya bisa memberikan beberapa masukan untuk anggota dewan kota dan pemerintahannya.

Leo Jegho adalah jurnalis berbasis di Jakarta dan koresponden senior GIV.

Keterangan foto utama: Mantan Gubernur Jakarta Ahok. (Foto: Halaman Facebook Ahok)

Setelah Dipenjara, Akankah Ahok Kembali ke Dunia Politik?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top