Pemimpin ISIS
Timur Tengah

Setelah Lama Tak Terdengar, Pemimpin ISIS Serukan Jihad

Para pejuang ISIS. (Foto: AFP)
Berita Internasional >> Setelah Lama Tak Terdengar, Pemimpin ISIS Serukan Jihad

Pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi ‘bangkit dari kematian’—dan menyerukan kepada para pendukungnya untuk bangkit berjihad. Seruan itu diungkapkan Baghdadi dalam sebuah rekaman audio berdurasi hampir satu jam, yang merupakan rekaman pertamanya dalam hampir satu tahun. ISIS saat ini sedang mengalami kekalahan besar, dan pemimpin ISIS itu sudah lama dikabarkan tewas.

Baca juga: Putra Pemimpin ISIS Terbunuh Saat Melawan Pasukan Suriah dan Rusia

Oleh: Alison Tahmizian Meuse (Asia Times)

Para pendukung Negara Islam (ISIS) bangkit pada Kamis (23/8), setelah adanya rekaman yang dirilis oleh Abu Bakr al-Baghdadi.

Ini adalah rekaman audio pertama dari pemimpin ISIS tersebut yang muncul dalam hampir setahun—bukti nyata bahwa pemimpin ekstremis tersebut masih hidup, meskipun kelompoknya mengalami kekalahan besar di medan perang, dan terdapat rumor yang menyebar tentang kematiannya.

Baghdadi mengecam janji Arab Saudi sebesar $100 juta dalam bentuk bantuan untuk Suriah barat laut—di mana pasukan ISIS digulingkan dari ibu kota de facto mereka, Raqqa, oleh pasukan Kurdi yang didukung Amerika Serikat (AS) kurang dari setahun lalu. Janji Saudi diumumkan pada Jumat (17/8) lalu, yang berarti bahwa rekaman Baghdadi sudah lebih dari seminggu yang lalu.

Pidato yang berlangsung selama hampir satu jam itu, meminta para pendukungnya untuk melanjutkan jihad mereka, dan untuk melakukan serangan di Barat. Baghdadi juga berbicara soal Yordania, mengecam para penduduknya karena protes atas roti—dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus bangkit untuk berjihad.

“Mereka yang melupakan agama mereka, kesabaran mereka, melupakan jihad melawan musuh-musuh mereka, sangatlah memalukan,” kata Baghdadi. “Tapi ketika mereka mempertahankannya, mereka kuat dan menang, bahkan jika itu membutuhkan waktu.”

Abu Bakr al-Baghdadi

Wilayah terakhir yang dipegang oleh ISIS akan jatuh, dan itu membuat banyak orang bertanya-tanya apakah hadiah terakhirnya adalah kepala pemimpin ISIS yang terkenal, Abu Bakr al-Baghdadi. (Foto: AP/Video Militan)

Pemimpin ISIS itu sangat ahli dalam ‘permainan menunggu’.

Kelompoknya mengambil fondasinya dari Negara Islam Irak, yang dibentuk oleh militan Sunni setelah invasi AS pada tahun 2003. Kelompok ini menemukan tanah subur untuk berkumpul kembali di tengah kekacauan perang sipil Suriah, di mana Baghdadi mengumumkan pada tahun 2013 pembentukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

ISIS menyerbu banyak wilayah yang membentang di perbatasan Irak dan Suriah pada tahun 2014. Bulan Juni itu, Baghdadi melakukan tindakannya yang paling berani—memberikan khotbah umum di kota Mosul Irak dan menyatakan dirinya sebagai khalifah.

Pada puncaknya, ISIS mengendalikan wilayah dengan sekitar 10 juta jiwa, memberlakukan interpretasi keras hukum Islam, menjalankan kamp militer untuk anak-anak, dan menggunakan eksekusi publik untuk membuat penduduk tunduk padanya.

Pada tahun-tahun berikutnya, para militan menghadapi perlawanan dari berbagai musuh—dari pasukan Suriah yang didukung Rusia, pasukan Kurdi yang didukung AS, hingga paramiliter yang didukung Iran.

Pada Desember 2017, Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengumumkan “kemenangan” atas ekstremis tersebut. Beberapa hari sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa ISIS telah dikalahkan di Suriah.

Baca juga: Pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi Ternyata Masih Hidup, Bersembunyi di ‘Jazirah’

Kelompok ini masih menguasai beberapa wilayah dan telah menunjukkan kemampuannya untuk melakukan serangan berdarah, tetapi tidak lagi mengontrol pusat-pusat dengan populasi besar. Dalam rekaman terbarunya, Baghdadi meminta para pengikutnya untuk mempertahankan iman.

“Kalifah akan tetap ada, insya Allah,” katanya.

Wassim Nasr—seorang analis gerakan jihadis di France 24—mengatakan bahwa kelompok itu sudah akan merencanakan fase berikutnya sejak tahun 2015, ketika ISIS mulai kehilangan kekuatan di beberapa wilayah.

“Perang gerilya, era gurun, adalah perang di mana mereka melakukannya dengan sangat baik antara tahun 2009 dan 2013. Mereka bertaruh pada kekacauan di negara-negara seperti Irak dan Suriah dan musuh-musuh mereka yang sibuk bertarung. Jika Anda melihat bagaimana mereka berevolusi dari awal revolusi Suriah pada tahun 2011 hingga hari ini—di mana orang-orang berada di kamp-kamp, kota-kota hancur sepenuhnya—begitu situasi militer telah tenang, mereka memiliki apa yang diperlukan untuk kembali,” katanya kepada Asia Times.

Baghdadi, sementara itu, tidak perlu bersembunyi di salah satu benteng pertahanan terakhir para pengikutnya.

“Seseorang seperti dia sangat berpengalaman dalam bersembunyi. Dia akan melakukannya jika dia bisa melakukannya lagi. Apa yang harus Anda bayangkan adalah, bahwa dia tidak bepergian seperti para pemimpin Arab dengan 20 mobil dan Mercedes mengkilap,” kata Nasr.

“Dia bisa bepergian dengan duduk di atas punggung unta di Anbar.”

Keterangan foto utama: Para pejuang ISIS. (Foto: AFP)

Setelah Lama Tak Terdengar, Pemimpin ISIS Serukan Jihad

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top