Setelah Serangan Amerika, Apa yang Terjadi Selanjutnya di Suriah?
Timur Tengah

Setelah Serangan Amerika, Apa yang Terjadi Selanjutnya di Suriah?

Berita Internasional >> Setelah Serangan Amerika, Apa yang Terjadi Selanjutnya di Suriah?

Setelah serangan Amerika pada Jumat (13/4), terdapat beberapa pertanyaan yang ditimbulkan. Pertama, dan paling mendasar, apa sebenarnya kebijakan AS di Suriah? Apakah pemimpin Suriah Bashar al Assad harus pergi, seperti yang telah dinyatakan sebagai kebijakan Amerika Serikat di masa-masa awal perang sipil Suriah di bawah Presiden Barack Obama? Atau apakah hanya ada garis merah pada penggunaan senjata kimia oleh Assad, dan tidak lebih dari itu?

    Baca juga: Putin Masih Mendominasi di Suriah, dan Tim Trump Nampaknya Tahu Itu

Oleh: Peter Bergen (CNN)

(CNN)—Serangan militer pimpinan Amerika Serikat (AS) di Suriah menimbulkan sejumlah pertanyaan:

Pertama, dan paling mendasar, apa sebenarnya kebijakan AS di Suriah? Presiden Donald Trump mengatakan hanya dua minggu yang lalu dalam sebuah pidato di Ohio, bahwa AS akan “segera keluar dari Suriah.” Sekarang, Trump telah memimpin operasi pengeboman besar-besaran yang menargetkan tiga lokasi produksi dan penyimpanan senjata kimia di Suriah, termasuk di Damaskus, ibu kota Suriah.

Jadi apa kebijakan pemerintah Trump? Apakah pemimpin Suriah Bashar al Assad harus pergi, seperti yang telah dinyatakan sebagai kebijakan Amerika Serikat di masa-masa awal perang sipil Suriah di bawah Presiden Barack Obama? Atau apakah hanya ada garis merah pada penggunaan senjata kimia oleh Assad, dan tidak lebih dari itu?

Jawabannya tidak jelas. Ketika Presiden Trump mengumumkan serangan Amerika pada Jumat (13/4) ia menekankan tentang garis merah, sementara Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan pada awal pekan ini bahwa tidak ada solusi politik di Suriah apabila Assad masih berkuasa.

Kedua, selain menanggapi penggunaan senjata kimia rezim Suriah, apakah pemerintahan Trump memiliki rencana untuk melindungi warga sipil Suriah dalam perang yang telah menghancurkan negara tersebut selama tujuh tahun terakhir?

Hampir setengah juta warga Suriah tewas dalam perang, di mana senjata kimia hanya membunuh sebagian kecil. Dalam kampanyenya, kandidat Trump terkadang mengangkat gagasan untuk menciptakan “zona aman” bagi warga sipil Suriah.

Apakah langkah selanjutnya dari pemerintahan Trump yaitu menciptakan zona-zona tersebut? Dan bagaimana cara kerjanya? Zona aman semacam itu akan membutuhkan “zona larangan terbang” karena angkatan udara Suriah hingga saat ini masih menikmati superioritas udara totalnya yang memungkinkan mereka untuk menjatuhkan senjata kimia, “bom barel”, dan amunisi lainnya kurang lebih sesuka hati. Menegakkan zona larangan terbang seperti itu dipersulit oleh fakta bahwa terdapat sejumlah besar pesawat Rusia yang terbang di atas Suriah.

Serangan Amerika pada Jumat (13/4) oleh rudal Amerika, Inggris, dan Prancis melawan pertahanan udara canggih Suriah, dan mereka juga tidak mendapatkan campur tangan Rusia dalam operasi tersebut. Apakah serangan Amerika ini membuka pintu bagi upaya yang lebih proaktif oleh koalisi pimpinan AS untuk melindungi warga sipil Suriah dari rezim Assad? Sampai sekarang yang memberatkan upaya semacam itu umumnya berpusat pada kecanggihan pertahanan udara Suriah, dan AS yang tidak ingin menciptakan konflik yang lebih dalam dengan Rusia.

Ketiga, mungkinkah perhatian Trump yang mulia tentang korban sipil yang disebabkan oleh senjata kimia dalam perang sipil Suriah, mengubah pandangannya tentang pengungsi Suriah yang memasuki Amerika Serikat? Saat ini pemerintahan Trump telah secara efektif melarang masuknya pengungsi Suriah ke AS, terlepas dari kenyataan bahwa sebagian besar pengungsi adalah wanita dan anak-anak.

Keempat, apakah serangan Amerika ini menandai semacam titik balik antara Trump dan Rusia? Presiden tersebut selama ini tidak mau mengkritik Presiden Rusia Vladimir Putin, namun pada Jumat (13/4) dia mengutarakan kata-kata kasar untuk Rusia, dengan mengatakan: “Untuk Rusia, saya bertanya: Jenis negara apa yang ingin dikaitkan dengan pembunuhan massal orang-orang yang tidak bersalah, perempuan, dan anak-anak?”

    Baca juga: Terlepas dari Serangan Udara, Amerika Kalah dalam Permainan Jangka Panjang Suriah

Kelima, ketika Menteri Pertahanan AS James Mattis berbicara di konferensi pers di Pentagon pada Jumat (13/4) malam, dia mengatakan bahwa wewenang hukum untuk serangan itu berada di bawah pasal 2 kekuasaan presiden dalam Konstitusi sebagai panglima tertinggi. Banyak pakar hukum–serta sejumlah anggota Kongres–akan mengemukakan pendapat yang berbeda. Menyerang target rezim Suriah, yang bertentangan dengan target ISIS, belum disahkan oleh Kongres yang seharusnya memberi sanksi terhadap tindakan militer AS, meskipun presiden tersebut baru-baru ini cenderung meminimalkan peran Kongres dalam hal-hal seperti itu.

Keenam, apakah ada sedikit unsur pengalihan perhatian di balik semua ini? Itu merupakan dugaannya, yang diadaptasi dari judul film populer berjudul ‘Wag the Dog’, terkait Presiden Bill Clinton yang, di tengah-tengah perselingkuhannya dengan Monica Lewinsky, melancarkan serangan militer terhadap kamp pelatihan al Qaeda di Afghanistan pada Agustus 1998, setelah al Qaeda mengebom dua kedutaan AS di Afrika.

Seperti yang telah diamati oleh Mark Twain, “Sejarah tidak terulang, tetapi seirama.”

Peter Bergen adalah analis keamanan nasional CNN, wakil presiden di New America dan seorang profesor di Arizona State University. Dia menulis sebuah buku tentang kebijakan keamanan nasional Presiden Donald Trump. Uraian ini telah diperbarui untuk mencerminkan berita tersebut.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Sebuah konvoi kendaraan lapis baja pasukan AS bergerak di dekat desa Yalanli, di pinggiran barat kota Manbij di Suriah utara, pada tanggal 5 Maret 2017. (Foto: AFP)

Setelah Serangan Amerika, Apa yang Terjadi Selanjutnya di Suriah?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top