Menantu Presiden Turki Tayyip Erdogan dan Menteri Keuangan dan Perbendaharaan yang baru diangkat, Berat Albayrak (kiri) dan Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu, berdiri bersebelahan saat menekan di Istana Presiden di Ankara, Turki, 9 Juli 2018. (Foto: Reuters/Umit Bektas)
Timur Tengah

Sistem Presidensial Dimulai: Menantu Erdogan Jadi Menteri Keuangan Turki

Menantu Presiden Turki Tayyip Erdogan dan Menteri Keuangan dan Perbendaharaan yang baru diangkat, Berat Albayrak (kiri) dan Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu, berdiri bersebelahan saat menekan di Istana Presiden di Ankara, Turki, 9 Juli 2018. (Foto: Reuters/Umit Bektas)
Home » Featured » Timur Tengah » Sistem Presidensial Dimulai: Menantu Erdogan Jadi Menteri Keuangan Turki

Setelah pelantikan Presiden Erdogan dari Turki, negara tersebut memasuki sistem presidensial, di mana ia menunjuk menantu laki-lakinya bertanggung jawab atas ekonomi sebagai menteri keuangan Turki. Mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai “musuh suku bunga,” Erdogan ingin biaya pinjaman menjadi lebih rendah untuk memacu pertumbuhan. 

Baca juga: Pelantikan Erdogan: Presiden Turki Ambil Sumpah dan Umumkan Kabinet pada 9 Juli

Oleh: David Dolan, Daren Butler (Reuters)

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memasuki sistem presidensial eksekutif baru yang telah lama ia kampanyekan untuk menempatkan menantu laki-lakinya bertanggung jawab atas ekonomi dan menjanjikan perombakan yang lebih besar atas negara yang telah ia dominasi selama 15 tahun.

Beberapa jam setelah dia disumpah untuk memegang kekuatan baru di sebuah upacara di ibukota Ankara, Senin malam (9/7), Erdogan menunjuk Berat Albayrak sebagai menteri keuangan dan perbendaharaan. Albayrak (40 tahun) sebelumnya menjabat sebagai menteri energi dan, sebelum itu, memimpin sebuah perusahaan yang dekat dengan pemerintah.

Pengangkatannya—dan tidak adanya menteri-menteri yang familiar dan ramah pasar dari kabinet—telah menyebabkan turunnya lira secara tajam. Erdogan mengatakan bahwa kepresidenan eksekutif yang kuat sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan untuk memastikan keamanan setelah kudeta militer tahun 2016 yang gagal.

Presiden Turki Tayyip Erdogan mengumumkan kabinet barunya di Istana Presiden di Ankara, Turki 9 Juli 2018. (Foto: Reuters/Umit Bektas)

Presiden Turki Tayyip Erdogan mengumumkan kabinet barunya di Istana Presiden di Ankara, Turki 9 Juli 2018. (Foto: Reuters/Umit Bektas)

Sekutu dan kelompok hak asasi Barat mengecam bahwa sistem kepresidenan itu meningkatkan otoritarianisme dan menggiring negara itu ke pemerintahan dengan satu pemimpin. Investor khawatir akan ada pengetatan-pengetatan yang akan diimplementasikan Erdogan pada kebijakan moneter.

“Fakta bahwa Albayrak menjadi menteri keuangan bukanlah pertanda baik terutama karena hubungannya yang dekat dengan Presiden Erdogan. Ini adalah tanda bahwa Erdogan akan mengendalikan kebijakan ekonomi lebih jauh lagi,” kata Guillaume Tresca, ahli strategi pasar berkembang senior di Credit Agricole.

“Independensi bank sentral dapat dirusak.”

Mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai “musuh suku bunga,” Erdogan ingin biaya pinjaman menjadi lebih rendah untuk memacu pertumbuhan. Investor, yang telah memperingatkan bahwa ekonomi yang bertumpu pada kredit akan berdampak negatif, ingin suku bunga naik untuk menjinakkan inflasi dua digit.

Berpidato selama upacara serah terima di Ankara, Albayrak berjanji untuk bekerja keras untuk membawa inflasi ke satu digit dan juga untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan sehat.

“Kita sedang menghadapi periode di mana kita harus bekerja keras untuk membawa inflasi ke satu digit lagi,” kata Albayrak menambahkan bahwa Turki akan memiliki kebijakan moneter yang lebih kuat di periode mendatang.

Di bawah sistem baru, jabatan perdana menteri telah dihapus dan presiden memilih kabinetnya sendiri, mengatur kementerian dan dapat mencabut pegawai negeri—semua tanpa persetujuan parlemen.

Demikian juga, kepergian para menteri yang ramah pasar seperti Mehmet Simsek, mantan wakil perdana menteri yang dihormati, dan Naci Agbal, yang sebelumnya menteri keuangan, juga telah merusak kepercayaan kepada sistem baru ini.

“Tidak ada yang bisa dianggap positif untuk yang satu ini,” kata Edwin Gutierrez, kepala pasar negara berkembang utang di Aberdeen Standard Investments. “Jelas dia merupakan kemunduran dalam kapasitas dibandingkan dengan Simsek.”

Mengubah Turki

Erdogan, pemimpin paling populer dalam sejarah Turki baru-baru ini, kini secara resmi menjadi pemimpin paling kuat sejak Mustafa Kemal Ataturk mendirikan republik dari reruntuhan Kekaisaran Ottoman.

Sama seperti Ataturk mengubah sebuah negara miskin di ujung timur Eropa menjadi sebuah republik sekuler, Erdogan telah berjuang untuk membawa nilai-nilai Islam kembali ke kehidupan publik dan mengangkat jutaan orang Turki yang saleh—yang lama telah dikucilkan oleh elit sekuler—keluar dari kemiskinan.

“Kami meninggalkan sistem yang telah merugikan negara kami karena kekacauan politik dan ekonomi,” kata Erdogan dalam sebuah pidato pada Senin malam (9/7).

Pasca kudeta tahun 2016, Turki, anggota aliansi militer NATO dan secara nominal masih menjadi kandidat untuk bergabung dengan Uni Eropa, telah menahan sekitar 160.000 orang, memenjarakan jurnalis dan menutup puluhan media.

Pemerintah mengatakan tindakannya diperlukan mengingat situasi keamanan.

Dalam salah satu dari tiga keputusan presiden yang dikeluarkan dalam Lembaran Negara resmi pemerintah pada hari Selasa (10/7), diumumkan bahwa presiden akan menunjuk gubernur bank sentral, deputi dan anggota komite kebijakan moneter untuk periode 4 tahun.

Baca juga: Opini: Kemenangan Erdogan dan Kebijakan Luar Negeri Neo-Utsmaniyah

Juga diumumkan dalam Lembaran Resmi bahwa Erdogan telah menunjuk komandan pasukan darat Jenderal Yasar Guler sebagai kepala staf umum yang baru, menggantikan Jenderal Hulusi Akar, yang diangkat sebagai menteri pertahanan di pemerintahan yang baru.

Laporan tambahan oleh Ezgi Erkoyun di Istanbul dan Marc Jones di London, disunting oleh Darren Schuettler, William Maclean.

Keterangan foto utama: Menantu Presiden Turki Tayyip Erdogan dan Menteri Keuangan dan Perbendaharaan yang baru diangkat, Berat Albayrak (kiri) dan Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu, berdiri bersebelahan saat menekan di Istana Presiden di Ankara, Turki, 9 Juli 2018. (Foto: Reuters/Umit Bektas)

Sistem Presidensial Dimulai: Menantu Erdogan Jadi Menteri Keuangan Turki
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top