Sri Mulyani: ‘Tarif Amerika dan China Hanya Merugikan Diri Sendiri’
Berita Tentang Indonesia

Sri Mulyani: ‘Tarif Amerika dan China Hanya Merugikan Diri Sendiri’

Home » Berita Tentang Indonesia » Sri Mulyani: ‘Tarif Amerika dan China Hanya Merugikan Diri Sendiri’

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani mengatakan bahwa dalam perang dagang, tarif Amerika dan China hanya merugikan diri sendiri. Selain itu, ia pun yakin bahwa permintaan domestik akan melindungi perekonomian Indonesia dalam perang dagang.

    Baca juga: Xi Jinping vs Donald Trump: Siapa yang Lebih Hebat Tangani Perang Dagang?

Oleh: Shotaro Tani (Nikkei)

JAKARTA—Amerika Serikat (AS) dan China akan merugikan perekonomian dan merugikan diri sendiri dengan meningkatkan perselisihan perdagangan, Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati mengatakan pada Kamis (12/4), meskipun ia menunjukkan keyakinan bahwa negaranya dapat menahan dampak dari sengketa tersebut.

“Salah satu risiko buruk yang dilihat sangat besar dan signifikan adalah perang perdagangan AS-China ini,” kata Sri Mulyani saat konferensi pers di Jakarta Foreign Correspondents Club. AS pada awal April mengumumkan akan memberlakukan tarif terhadap sekitar 1.300 produk yang diimpor dari China, senilai sekitar $50 miliar. Beijing segera membalas dengan pajak impor baru terhadap barang AS senilai $50 miliar.

Menteri keuangan tersebut—yang juga menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia sebelum mengambil jabatannya saat ini untuk kedua kalinya—mengatakan bahwa skala tarif “bukan intinya.” Masalah sebenarnya adalah bahwa tindakan-tindakan Washington dan Beijing ini “merugikan sumber pertumbuhan dan merugikan diri sendiri,” katanya.

China, meski mengambil langkah untuk mengubah ekonominya menjadi model yang lebih didorong oleh konsumsi domestik, tetap bergantung pada ekspor untuk pertumbuhan, kata Sri Mulyani. Untuk AS, konsumsi rumah tangga yang didukung oleh barang impor murah mendorong perekonomian, dan menteri keuangan tersebut mengatakan bahwa tarif akan merusak kecenderungan ini oleh konsumen untuk mengeluarkan uang.

“(Perselisihan tarif ini) akan menjadi sesuatu seperti—Anda menyerang musuh Anda, tetapi sebenarnya Anda sedang menyerang perekonomian Anda sendiri,” katanya. “Pertanyaan yang banyak akan ditanyakan adalah berapa lama (yang akan dibutuhkan) bagi para pemimpin untuk menyadari hal itu, dan menyadari ini tidak akan membantu kedua negara.”

Eskalasi ketegangan perdagangan AS-China yang terus berlanjut, dapat membahayakan pertumbuhan di beberapa bagian Asia yang sedang berkembang pada tahun ini, Bank Pembangunan Asia memperingatkan dalam laporan yang diterbitkan pada Rabu (11/4).

    Baca juga: Opini: Perang Dagang Amerika-China akan Banyak Mengorbankan Amerika

“(Lebih lanjut), tindakan dan pembalasan terhadap mereka dapat merusak optimisme bisnis dan konsumen yang mendasari pandangan regional,” kata ADB.

Namun Sri Mulyani menunjukkan kepercayaan diri di Indonesia dalam mengatasi badai ini.

“Indonesia, di antara (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara), kami adalah negara yang masih didominasi oleh permintaan domestik kami,” katanya. “Jika Anda membandingkan dengan Malaysia, Thailand, atau bahkan Vietnam, negara-negara tersebut sebenarnya memiliki ekspor (yang berkontribusi lebih besar terhadap produk domestik bruto) daripada Indonesia.”

Nilai ekspor barang dan jasa sebagai persentase dari PDB berjumlah 19,1 persen untuk Indonesia pada tahun 2016, Bank Dunia mengatakan, jauh lebih kecil dari 67,7 persen untuk Malaysia, 68,9 persen untuk Thailand, dan 93,62 persen untuk Vietnam.

Fokus yang lebih besar pada ekspor ini menjelaskan mengapa pertumbuhan melonjak selama setahun terakhir untuk Malaysia, Vietnam, dan Thailand di tengah pemulihan ekonomi global, kata Sri Mulyani.

“Beberapa analis mengatakan, ‘Mengapa perekonomian Indonesia tidak melonjak?'” kata Menteri Keuangan tersebut. “Tetapi itu juga akan menyelamatkan Indonesia ketika sengketa global dan regional terjadi, karena kami memiliki permintaan domestik untuk mendukung kekuatan ekonomi.”

Indonesia juga mendapat keuntungan dari upaya Beijing baru-baru ini untuk meredakan ketegangan perdagangan. Presiden China Xi Jinping meluncurkan serangkaian tindakan yang luas pada Selasa (10/4) untuk membuka ekonomi negara itu, termasuk tarif impor yang lebih rendah pada mobil dan pembatasan yang lebih longgar pada kepemilikan asing di sektor otomotif.

Untuk perlindungan hak kekayaan intelektual—kekhawatiran utama AS dan negara-negara lain—Xi berjanji bahwa China akan “secara signifikan menaikkan biaya bagi para pelanggar dan memberikan efek jera dari undang-undang.”

China menjadi mitra dagang utama Indonesia, menyumbang 12 persen dari total ekspor negara kepulauan tersebut dan 23 persen untuk impor.

Keterangan foto utama: Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati mendengarkan pidato pembukaan pada awal Pertemuan Menteri Keuangan ASEAN ke-8 di Singapura. (Foto: AP)

Sri Mulyani: ‘Tarif Amerika dan China Hanya Merugikan Diri Sendiri’
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top