Standar Ganda Indonesia Mengekang Kebebasan Pers, Terutama di Papua
Berita Tentang Indonesia

Standar Ganda Indonesia Mengekang Kebebasan Pers, Terutama di Papua

Pengunjuk rasa pada peringatan World Press Freedom Day, April 2017. (Foto: Sindo News/Djuli Pamungkas)

Sangat ironis bila mengingat betapa sulitnya Indonesia memulihkan kebebasan pers setelah era diktator Suharto. Pasalnya, standar ganda di Ind0nesia telah membungkam para wartawan, khususnya dalam pemberitaan terkait Papua. Standar ganda Indonesia mengenai kebebasan pers membahayakan keselamatan wartawan Papua.

Oleh: Pacific Media Watch

Pengunjuk rasa pada peringatan World Press Freedom Day 2017.

Pengunjuk rasa pada peringatan World Press Freedom Day, April 2017. (Foto: Sindo News/Djuli Pamungkas)

Pembahasan mengenai Papua Barat dan penindasan terhadap wartawan di Papua telah ditampilkan dalam jurnal penelitian Media Asia edisi terbaru dalam serangkaian laporan khusus tentang keamanan jurnalis pada konferensi Hari Kebebasan Pers 2017 Dunia UNESCO pada bulan Mei.

Ringkasan artikel tersebut, oleh direktur Pacific Media Center Professor David Robie, mengatakan: Laporan Media Asia terbaru.

Sungguh ironis bahwa demonstrasi memperjuangkan kebebasan pers yang sangat menggugah di Indonesia di era Suharto—pemimpin Indonesia yang terkenal membungkam kebebasan pers—dua dekade yang lalu juga mencuri perhatian global karena mencoba “membungkam” diskusi bebas mengenai pelanggaran di ambang pintu geopolitiknya sendiri.

Keramahan Indonesia dipuji secara luas dalam upaya selama empat hari menyelenggarakan Hari Kebebasan Pers Dunia (WFPD) 2017, namun pejabat Jakarta dan UNESCO sangat malu atas kejadian di wilayah paling timur Papua Barat.

Empat hari sebelum acara WPFD berlangsung 30 April, jurnalis Papua Victor Mambor, pemimpin redaksi Tabloid Jubi dan mantan ketua Aliansi Jurnalis Independen Papua Barat antara 2010 dan 2016, telah memperingatkan di New Internationalist bahwa standar ganda Indonesia telah memberlakukan pembungkaman atas masalah Papua Barat.

Bahkan sebuah demonstrasi Papua di luar lokasi penyelenggaraan Konferensi Pusat Jakarta pada Hari Kebebasan Pers Dunia sendiri tetap luput dari perhatian, memastikan bahwa 1.500 wartawan, media akademisi dan pembuat kebijakan komunikasi dari 90 negara tidak mengetahui adanya pelanggaran kebebasan pers yang mengejutkan dan pelanggaran hak asasi manusia yang terus berlanjut yang terjadi hampir setiap hari di provinsi Melanesia di Papua dan Papua Barat.

Standar Ganda Indonesia Mengekang Kebebasan Pers, Terutama di Papua
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top