Sultan Malaysia
Asia

Sultan Muhammad V Tinggalkan Tahta, Apa Artinya untuk Malaysia?

Berita Internasional >> Sultan Muhammad V Tinggalkan Tahta, Apa Artinya untuk Malaysia?

Keputusan Sultan Muhammad V kemungkinan akan mengejutkan warga Malaysia yang tidak terbiasa dengan pergolakan modern di monarki. Konfirmasi bahwa dia telah mundur muncul setelah spekulasi selama berbulan-bulan. Perdana Menteri Mahathir Mohamed mengatakan dia tidak mengetahui alasan dibalik mundurnya Sultan.

Baca juga: Aksi Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad di Panggung Global

Oleh: Tashny Sukumaran (South China Morning Post)

Raja Malaysia, Sultan Muhammad V, telah resmi turun tahta, menurut pengumuman istana nasional negara pada hari Minggu (6/1), setelah seminggu berspekulasi tentang status raja setelah cuti dua bulannya.

Perkembangan dramatis, dengan istana tidak memberikan alasan resmi, kemungkinan akan mengejutkan warga Malaysia yang sebagian besar memuja penguasa turun-temurun negara itu dan tidak terbiasa dengan pergolakan modern di monarki.

“Yang Mulia telah secara resmi menyampaikan ini [keputusan untuk turun tahta] kepada para penguasa Melayu melalui surat yang dikeluarkan kepada sekretaris Majlis Raja-Raja,” menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh istana. “Raja, selama masa jabatannya, telah bekerja untuk memenuhi tanggung jawabnya dan kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Kepala Negara, bekerja untuk menjadi jangkar stabilitas, sumber keadilan, inti pemersatu, dan pelindung persatuan di antara rakyat.”

Dalam pernyataan itu, sultan menyampaikan terima kasih kepada penguasa Melayu lainnya yang memilihnya sebagai Yang di-Pertuan Agong pada bulan Desember 2016, serta kepada Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan pemerintah yang bekerja sama dalam mengawasi negara.

Majlis Raja-Raja adalah pertemuan sembilan sultan Melayu Malaysia dan kepala negara sipil lainnya.

Sultan Muhammad V bersiap untuk menyampaikan pidato pada upacara pembukaan parlemen di Kuala Lumpur, didampingi oleh Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad. (Foto: AFP)

Malaysia adalah monarki konstitusional di mana berbagai penguasa dan gubernur melakukan peran yang mirip dengan Ratu Inggris. Jabatan Yang di-Pertuan Agong atau “raja segala raja” ditunjuk untuk bertugas selama lima tahun di posisi itu, yang digilir bersama para sultan lainnya, oleh Majlis Raja-Raja.

Sultan Muhammad V, penguasa negara bagian Kelantan, diangkat menjadi raja negara pada tahun 2016.

Pria berusia 49 tahun lulusan Universitas Oxford tersebut telah mengambil cuti dua bulan pada bulan November 2018 dan dijadwalkan kembali pada tanggal 1 Januari 2019, tetapi muncul pertanyaan minggu lalu tentang apakah ia telah kembali.

Pada konferensi pers hari Jumat (4/1), Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan bahwa dia tidak mengetahui tentang status raja, meskipun dia juga sudah mendengar desas-desus.

Sultan Muhammad V mengambil cuti karena alasan medis. Laporan media asing mengatakan dia telah menikahi seorang ratu kecantikan Rusia ketika dia cuti dari kantor nasional, meskipun dia maupun istana tidak pernah mengkonfirmasi hal ini.

Pernikahannya dengan Oksana Voevodina, yang dilaporkan oleh kanal media asing, dikabarkan berkaitan dengan pengunduran dirinya, meskipun hal ini belum dikonfirmasi atau diungkapkan secara resmi.

Ketika Mahathir diminta untuk mengonfirmasi pernikahan pada bulan November 2018, dia mengatakan dia “tidak memiliki konfirmasi resmi, jadi saya tidak bisa mengatakan apa-apa.”

Spekulasi di antara warga Malaysia memuncak pada hari Jumat (4/1) ketika harian berbahasa Inggris setempat The New Straits Times melaporkan bahwa Majlis Raja-Raja telah mengadakan pertemuan “langka dan tidak terjadwal” pada hari Rabu (2/1) malam.

Sultan Muhammad V dan istri barunya Oksana Voevodina. (Foto: Instagram)

Mohd Amar Nik Abdullah, wakil kepala menteri dari jabatan Muhammad V di Kelantan, mengatakan pada hari Kamis (3/1) bahwa pemerintahannya belum mendengar apa-apa dan mendesak jaksa agung negara itu untuk “mengambil tindakan” terhadap desas-desus yang menyebar.

Menurut sistem rotasi yang memutuskan siapa yang akan menjadi Agong berikutnya, penguasa negara bagian Pahang akan mengambil alih, meskipun Majlis Raja-Raja memiliki kekuatan untuk menghasilkan tatanan suksesi yang beragam.

Baca juga: Isu Ras dan Agama Menggerakkan Demonstrasi di ‘Malaysia Baru’

Pakar politik Awang Azman Awang Pawi dari Institute of Malay Studies, Universitas Malaya, mengatakan bahwa pengunduran diri secara tiba-tiba tidak akan menimbulkan ancaman bagi stabilitas pemerintah Pakatan Harapan.

“Tidak ada krisis konstitusi, ini adalah masalah internal yang diselesaikan oleh ritus kerajaan. Majlis Raja-Raja akan segera bertemu untuk memilih Agong berikutnya. Sementara itu, wakil agong [Sultan Nazrin Shah, dari negara bagian Perak] akan menjalankan fungsi Agong, sehingga hal ini tidak akan memengaruhi operasional pemerintah sehari-hari.”

Selama putaran pertama Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri dari tahun 1981 hingga 2003, ia mengamandemen konstitusi untuk melucuti kekebalan kriminal dan hak-hak tertentu dari anggota monarki. Mengomentari sejarah hubungan Mahathir yang tegang dengan monarki, Awang Azman mengatakan bahwa hubungan perdana menteri dengan para penguasa Melayu sebagian besar positif.

“Satu-satunya hal ialah bahwa di negara-negara bagian tertentu karena perbedaan, kepribadian Mahathir dan sultan-sultan tertentu yang sama kuat, hubungan telah menjadi tegang.”

Keterangan foto utama: Sultan Muhammad V telah mengundurkan diri sebagai raja Malaysia setelah seminggu adanya spekulasi tentang status raja setelah cuti dua bulan. (Foto: AFP)

 

Sultan Muhammad V Tinggalkan Tahta, Apa Artinya untuk Malaysia?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top