Eksklusif: Badan Pengawas Senjata Kimia Investigasi Serangan Rezim Assad di Ghouta
Timur Tengah

‘Suriah Masih Gagal Jawab Masalah Penggunaan Senjata Kimia’

Seorang pria bersama seorang anak terlihat di sebuah rumah sakit di kota Douma yang terkepung, Ghouta Timur, Damaskus, Suriah, pada tanggal 25 Februari 2018. Pasukan rezim Assad dilaporkan telah menggunakan senjata kimia dalam serangannya. (Foto: Reuters/Bassam Khabieh)
Berita Internasional >> ‘Suriah Masih Gagal Jawab Masalah Penggunaan Senjata Kimia’

Suriah telah dituduh menggunakan senjata kimia, gas klorin, dalam setidaknya dua serangan pada tahun 2014 dan 2015, dan agen saraf sarin dalam serangan udara di Khan Sheikhoun pada April 2017, yang menewaskan sekitar 100 orang, termasuk warga sipil Suriah, dan memberi dampak terhadap sekitar 200 orang lainnya. Dewan Keamanan PBB telah membentuk tim investigasi gabungan PBB-OPCW, untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas serangan-serangan kimia di Suriah. 

Oleh: Edith M. Lederer (The Associated Press)

   Baca Juga: Konflik Suriah: Dapatkah Trump Yakinkan Putin untuk Lawan Iran?

Suriah masih gagal menjawab pertanyaan tentang program senjata kimianya, bertahun-tahun setelah menjadi bagian dari konvensi senjata kimia, anggota Dewan Keamanan PBB mengatakan pada Rabu (4/7).

Duta Besar Swedia Olof Skoog—ketua dewan saat ini—mengatakan bahwa banyak anggota yang mengangkat masalah ini selama pertemuan tertutup tentang senjata kimia Suriah, di mana kepala perlucutan senjata PBB Izumi Nakamitsu memberikan pengarahan melalui video.

“Ada banyak ketidakpastian” dalam deklarasi Suriah kepada Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW) terkait program senjata kimianya, “dan itu adalah bagian dari masalah,” kata Skoog kepada The Associated Press setelah pertemuan tersebut.

Wakil Duta Besar Inggris untuk PBB, Jonathan Allen, mengatakan sebelum pertemuan, bahwa para anggota akan membahas “bagaimana memastikan rezim Suriah membongkar program senjata kimia mereka.”

Pertemuan dewan itu menyusul pemungutan suara dengan perolehan hasil 82-24 pada pekan lalu oleh negara-negara anggota OPCW, yang memberikan wewenang kepada badan pengawas senjata kimia internasional tersebut, untuk menentukan siapa yang bersalah atas serangan kimia untuk pertama kalinya, dengan keberatan kuat dari Rusia dan Suriah.

   Baca Juga : Jika Trump Tarik Pasukan Amerika dari Suriah, Putin yang Akan Diuntungkan

OPCW didirikan untuk mengimplementasikan konvensi tahun 1997 yang melarang senjata kimia, tetapi tidak memiliki mandat untuk menyebutkan pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab karena menggunakannya.

Dewan Keamanan PBB membentuk tim investigasi gabungan PBB-OPCW, untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas serangan-serangan kimia di Suriah.

Tetapi Rusia memveto sebuah resolusi yang didukung Barat pada bulan November, yang akan memperbarui mandat Mekanisme Investigasi Gabungan, atau JIM. Duta Besar Rusia Vassily Nebenzia mengatakan bahwa badan itu “menjadi boneka di tangan pasukan anti-Damaskus.”

JIM menuduh Suriah menggunakan gas klorin dalam setidaknya dua serangan pada tahun 2014 dan 2015, dan agen saraf sarin dalam serangan udara di Khan Sheikhoun pada April 2017, yang menewaskan sekitar 100 orang dan memberi dampak terhadap sekitar 200 orang lainnya. Serangan Khan Sheikhoun mendorong serangan udara Amerika Serikat (AS) di sebuah lapangan terbang Suriah.

JIM juga menuduh kelompok ekstremis ISIS menggunakan gas mustard sebanyak dua kali pada tahun 2015 dan 2016.

Presiden Suriah Bashar Assad mengatakan dalam sebuah wawancara pada bulan lalu dengan saluran televisi NTV milik pemerintah Rusia, bahwa pemerintahnya telah menyingkirkan semua senjata kimia pada tahun 2013, dan bahwa tuduhan penggunaan senjata kimia itu adalah dalih untuk invasi oleh negara lain.

Namun Suriah telah dituduh berulang kali menggunakan senjata kimia dalam perang sipil selama tujuh tahun tersebut, di mana yang paling terakhir terjadi pada bulan April di kota Douma. Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris meluncurkan serangan udara sebagai pembalasan atas serangan itu.

Duta Besar Belanda Karel Van Oosterom juga menekankan pertanyaan yang luar biasa tentang deklarasi OPCW Suriah.

Dia menyambut baik keputusan OPCW minggu lalu untuk memperluas mandatnya, untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas serangan kimia tersebut, dan menyebutnya “langkah besar ke arah yang benar.”

Dalam perkembangan terkait, Van Oosterom mengatakan bahwa sekelompok “negara yang berpikiran sama” berupaya untuk memperkuat Mekanisme Internasional, yang Imparsial dan Independen, yang ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada bulan Desember 2016, untuk membantu dalam penyelidikan dan penuntutan terhadap orang-orang yang bertanggung jawab atas kejahatan paling serius, sejak konflik Suriah dimulai pada Maret 2011.

Kamis (28/6) lalu, katanya, kelompok itu bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk membahas “pendanaan berkelanjutan” untuk badan investigasi tersebut, dan “untuk melihat apa yang bisa kami lakukan dengan berkas-berkas JIM, dan dengan cara lain yang membantu untuk memastikan pertanggungjawaban.”

Keterangan foto utama: Seorang pria bersama seorang anak terlihat di sebuah rumah sakit di kota Douma yang terkepung, Ghouta Timur, Damaskus, Suriah, pada tanggal 25 Februari 2018. Pasukan rezim Assad dilaporkan telah menggunakan senjata kimia dalam serangannya. (Foto: Reuters/Bassam Khabieh)

‘Suriah Masih Gagal Jawab Masalah Penggunaan Senjata Kimia’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top