Asia Tenggara
Asia

Survei Buktikan Asia Tenggara Khawatirkan Inisiatif Sabuk dan Jalan China

Berita Internasional >> Survei Buktikan Asia Tenggara Khawatirkan Inisiatif Sabuk dan Jalan China

Survei oleh think tank yang berbasis di Singapura menunjukkan bahwa Asia Tenggara khawatir akan berkurangnya komitmen Amerika Serikat ketika ambisi China terus membesar. Kurang dari satu dari 10 orang melihat China sebagai “kekuatan yang ramah dan bermaksud baik,” dengan hampir setengahnya mengatakan China memiliki “niat untuk mengubah Asia Tenggara menjadi wilayah jangkauan pengaruhnya.”

Baca Juga: Menatap 2019: 3 Peristiwa Politik Penting Menanti di Asia Tenggara

Oleh: Al Jazeera

Negara-negara Asia Tenggara menunjukkan kewaspadaan tentang kebangkitan China dan Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI/Belt and Road Initiative) andalannya, menurut survei kebijakan baru. Survei yang dirilis pada hari Senin (7/1) oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute yang berbasis di Singapura tersebut meliputi 1.008 responden dari 10 negara anggota ASEAN, termasuk orang-orang di lingkup pemerintahan, komunitas akademik dan bisnis, hingga masyarakat sipil dan media.

China dipandang oleh 73 persen responden telah memiliki pengaruh ekonomi terbesar di kawasan itu dan juga diyakini memiliki pengaruh politik dan strategi yang lebih besar daripada Amerika Serikat.

Tetapi orang-orang yang disurvei oleh think-tank tersebut juga menyatakan keprihatinan tentang ambisi geostrategis pemerintah China. Kurang dari satu dari 10 orang melihat China sebagai “kekuatan yang ramah dan bermaksud baik,” dengan hampir setengahnya mengatakan China memiliki “niat untuk mengubah Asia Tenggara menjadi wilayah jangkauan pengaruhnya.”

“Hasil ini adalah seruan bagi China untuk memoles citra negatifnya di seluruh Asia Tenggara meskipun China telah berulang kali menjamin kebangkitan yang ramah dan damai,” menurut para penulis laporan itu, dilansir dari kantor berita Reuters.

Sekitar 70 persen responden mengatakan pemerintah mereka “harus berhati-hati dalam menegosiasikan proyek-proyek BRI untuk menghindari terseret masuk ke dalam utang keuangan yang tidak bisa dikelola dengan China,” demikian bunyi sebuah pandangan terkuat di Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Hampir setengah responden mengatakan kebijakan khas Presiden China Xi Jinping tersebut akan membawa ASEAN “lebih dekat ke orbit China,” sementara sepertiga di antaranya mengatakan proyek tersebut kurang transparan dan 16 persen responden memperkirakan proyek itu akan gagal.

Baca Juga: Risiko Pertumbuhan Asia Tenggara Sambut 2019 Stabil, Bukan Kuat

Di tengah jangkauan China yang semakin meningkat, Asia Tenggara semakin merasa skeptis terhadap komitmen Amerika Serikat terhadap kawasan sebagai mitra strategis dan sumber keamanan. Enam dari 10 responden mengatakan bahwa pengaruh AS secara global telah memburuk dari tahun 2018, sementara dua pertiga dari mereka meyakini keterlibatan Amerika dengan Asia Tenggara telah menurun. Sekitar sepertiga responden mengatakan mereka memiliki sedikit atau tidak ada kepercayaan terhadap Amerika sebagai mitra strategis dan penyedia keamanan regional.

“Kearifan konvensional yang dipegang China telah condong ke ranah ekonomi, sementara Amerika Serikat menggunakan pengaruhnya dalam ranah politik-strategis akan perlu ditinjau kembali berdasarkan hasil survei,” demikian lembaga tersebut menyimpulkan.

Beberapa pemerintah Barat menuduh China menarik negara-negara ke dalam perangkap utang dengan proyek infrastruktur besar-besaran BRI, sebuah tuduhan yang telah dibantah China.

Terdapat seruan bagi ASEAN untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam krisis Rohingya di Myanmar, meskipun mayoritas responden mengharapkan mediasi alih-alih tekanan diplomatik.

Tahun 2017, sekitar 730.000 anggota komunitas Rohingya melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari tindakan keras oleh tindakan keras pasukan keamanan Myanmar setelah serangan terhadap pos-pos militer oleh anggota Tentara Solidaritas Arakan Rohingya. Penyelidik PBB menuduh militer Myanmar telah melakukan pembunuhan, pemerkosaan massal, dan pembakaran dengan “niat genosida,” sebuah tuduhan yang dibantah oleh militer Myanmar.

Keterangan foto utama: Seorang pria berdiri di bawah pilar-pilar yang memperlihatkan rencana kebijakan luar negeri Presiden China Xi Jinping “China Dream” dan “One Belt, One Road.” (Foto: AP Photo/Andy Wong)

Survei Buktikan Asia Tenggara Khawatirkan Inisiatif Sabuk dan Jalan China

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top