Survei Pilpres 2019: Pemilih Tak Terpengaruh Serangan Online terhadap Capres
Berita Politik Indonesia

Survei Pilpres 2019: Pemilih Tak Terpengaruh Serangan Online terhadap Capres

Berita Internasional >> Survei Pilpres 2019: Pemilih Tak Terpengaruh Serangan Online terhadap Capres

Di musim kampanye Pilpres 2019 ini, para pendukung calon presiden dari kedua kubu telah saling melakukan serangan online. Baik kubu calon petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) maupun penantangnya, mantan jenderal Prabowo Subianto telah secara aktif menggunakan media sosial untuk menjatuhkan lawan. Namun survei menunjukkan, serangan online ini tidak mempengaruhi penilaian pemilih atas kandidat favorit mereka.

Oleh: The Straits Times

Baca Juga:  Debat Pilpres 2019: Kisi-Kisi Hambat Publik Ketahui Kemampuan Asli Paslon

Walau para pendukung Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan calon presiden Prabowo Subianto telah saling menyerang secara online jelang Pilpres 2019, tapi hasil survei terbaru menunjukkan bahwa serangan pribadi terhadap para kandidat tidak banyak berpengaruh pada pendapat para pemilih tentang calon yang mereka pilih.

Jajak pendapat dari badan survei yang berbasis di Jakarta, Indikator Politik Indonesia—yang mensurvei 1.220 orang di 34 provinsi antara tanggal 16 dan 26 Desember—menemukan bahwa dukungan terhadap para kandidat adalah faktor penentu terbesar dalam apakah responden memberikan kredibilitas terhadap serangan semacam itu.

Para responden ditanya apakah mereka mengetahui empat rumor yang tersebar luas mengenai para kandidat Pilpres 2019: bahwa orang tua Jokowi adalah Kristen, bahwa Jokowi berasal dari etnis China, bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sekarang sudah tidak ada lagi bangkit kembali, dan bahwa Prabowo terlibat dalam penculikan aktivis pro-demokrasi antara tahun 1997 dan 1998.

Sementara tiga masalah pertama tidak berdasar, dokumen militer yang bocor pada tahun 2014 menunjukkan bahwa Dewan Kehormatan Perwira Militer Indonesia (TNI) benar-benar membebaskan Prabowo karena keterlibatannya dalam penghilangan paksa.

Survei menemukan bahwa 20 hingga 30 persen responden mengetahui setiap rumor itu. Dari mereka yang mengetahuinya, 20 persen percaya bahwa orang tua Jokowi adalah Kristen, 24 persen percaya bahwa Jokowi adalah etnis China, 85 persen percaya bahwa PKI merupakan ancaman bagi negara, dan 40 persen percaya bahwa Prabowo terlibat dalam penculikan.

Jajak pendapat itu juga memeriksa apakah reaksi terhadap tuduhan tersebut bervariasi di antara orang-orang yang menggambarkan diri mereka tertarik pada politik. Walau mereka yang tertarik dengan politik lebih cenderung untuk mengetahui rumor tersebut, namun proporsi mereka yang percaya pada rumor tersebut tidak berubah secara signifikan.

Yang penting adalah apakah responden sudah menjadi pendukung Jokowi atau Prabowo. Kurang dari 10 persen responden pendukung Jokowi percaya bahwa orang tua Jokowi beragama Kristen atau bahwa Jokowi beretnis China. Sebaliknya, lebih dari 80 persen pendukung Prabowo percaya kedua rumor itu.

Demikian pula, 65 persen pendukung Jokowi percaya bahwa Prabowo terlibat dalam penculikan aktivis, sementara 63 persen pendukung Prabowo tidak percaya akan hal ini.

“Ini mengarah pada kesimpulan bahwa pendukung Jokowi dan Prabowo hidup di dunia yang berbeda,” kata Burhanuddin Muhtadi dari Indikator Politik Indonesia, pada Selasa (8/1).

Pengamat Kuskridho Ambardi mengatakan bahwa sebagian besar pendukung hanya mencari dan percaya informasi yang sejalan dengan pandangan politik mereka sebelumnya.

“Selama ini, elit politik terus memikirkan efek media, dan mereka membayangkan pemilih sebagai penonton pasif yang dapat dibombardir dengan pesan dan dibentuk dengan cara itu,” katanya. “Bukan itu yang terjadi.”

Dia mengutip pengalamannya berpartisipasi dalam grup-grup WhatsApp yang didominasi oleh pendukung Jokowi dan Prabowo.

“Apa yang terjadi adalah, jika ada pesan dari oposisi di grup pendukung petahana, para pendukung petahana hanya akan menghapusnya, dan hal yang sama terjadi di grup pendukung oposisi,” katanya.

“Walaupun kita mungkin membayangkan bahwa grup WhatsApp dan internet akan membuka lebih banyak ruang untuk diskusi dan dialog publik, saya pikir itu tidak benar. Yang terjadi adalah monolog, bukan dialog.”

Hasil survei juga menunjukkan bahwa tidak ada perubahan signifikan dalam elektabilitas pasangan calon sejak periode kampanye secara resmi dimulai pada bulan September. Elektabilitas Jokowi turun sedikit menjadi 54,9 persen pada Desember, dari 57,7 persen pada September, sementara elektabilitas Prabowo naik sedikit menjadi 34,8 persen dari 32,3 persen. Proporsi pemilih yang belum memutuskan tetap hampir sama yaitu sekitar 9 persen.

Sekretaris tim kampanye Jokowi, Hasto Kristiyanto, mengatakan bahwa survei itu menegaskan fokus kampanye pada “gagasan dan masalah positif”.

Dia menambahkan bahwa peran partai politik juga akan menjadi kunci dalam menentukan pemenang pemilu, dengan mengatakan: “Karena ini adalah pemilihan serentak, fungsi partai sangat penting, bukan hanya ‘kekuatan udara’ melalui media sosial dan media lain, tetapi ‘teritorial’ kekuasaan’.”

Wakil ketua tim kampanye Prabowo Mardani Ali Sera, sementara itu, mengatakan bahwa Prabowo akan berupaya untuk menggunakan debat mendatang “untuk menjangkau sebanyak mungkin (pemilih) dan membiarkan mereka menilai dan memutuskan”.

Kuskridho mengatakan bahwa strategi terbaik bagi kedua kandidat adalah dengan menargetkan sebanyak mungkin kelompok yang lebih kecil, daripada mencoba mengubah kelompok besar.

“Saya tidak berpikir bahwa media sosial dapat memindahkan sekelompok besar orang dari satu kubu ke kubu lainnya.”

Baca Juga: Debat Pilpres 2019: Kisi-Kisi, Solusi KPU demi Ajang Debat Bersubstansi

Keterangan foto utama: Para responden ditanya apakah mereka mengetahui empat rumor yang tersebar luas mengenai Presiden Jokowi Widodo (kiri) dan calon presiden Prabowo Subianto. (Foto: AFP/Facebook/Prabowo Subianto)

Survei Pilpres 2019: Pemilih Tak Terpengaruh Serangan Online terhadap Capres

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top