Perang Dagang
Amerika

Survei: Perusahaan Amerika di China Menderita Akibat Perang Dagang

Kontainer-kontainer pengiriman terlihat di pelabuhan di Shanghai pada bulan April. (Foto: Aly Song/Reuters)
Survei: Perusahaan Amerika di China Menderita Akibat Perang Dagang

Sebuah survei mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika di China menderita akibat perang dagang dan tarif yang dijatuhkan Amerika terhadap barang-barang impor China. Para pebisnis Amerika di China pun memohon kepada Trump untuk segera menghentikan pemberlakuan tarif dan mengakhiri perang dagang dengan China.

Baca juga: Presiden Jokowi dan Kelompok Avengers-nya akan Bertarung dalam Infinity War Perang Dagang

Oleh: Danielle Paquette (The Washington Post)

Kelompok-kelompok bisnis Amerika terbesar di China mengeluarkan permohonan kepada Presiden Trump pada Kamis (13/9): Tolong hentikan tarif.

Sebuah survei dari AmCham China dan AmCham Shanghai menemukan bahwa hampir dua pertiga dari 430 perusahaan Amerika Serikat (AS) di China mengatakan, bahwa tarif yang dijatuhkan Trump terhadap impor China senilai miliaran dolar pada musim panas ini, telah menyiksa bisnis mereka.

Hampir separuh responden—yang bekerja di ritel, makanan, dan manufaktur—mengatakan bahwa biaya produksi telah meningkat, dan 42 persen mengatakan bahwa mereka melihat penurunan permintaan untuk barang-barang mereka.

Hanya 6 persen, sementara itu, yang mengatakan bahwa mereka akan mempertimbangkan untuk memindahkan pabrik mereka ke wilayah AS.

Ketua AmCham William Zarit mengatakan bahwa para pemimpin bisnis Amerika di China ingin agar Trump memikirkan kembali pajak tambahan yang dia usulkan terhadap impor China senilai $200 miliar, termasuk banyak barang-barang konsumsi. Pajak perbatasan baru tersebut diperkirakan akan mulai berlaku musim gugur ini.

“Pemerintahan AS memicu risiko serangan ke bawah dan serangan balik, dan tidak menguntungkan siapa pun,” kata Zarit dalam pernyataan.

Sekitar 64 persen dari perusahaan yang menanggapi survei AmCham—yang dilakukan antara tanggal 29 Agustus hingga 5 September—mengatakan bahwa putaran pertama tarif yang diberlakukan Trump terhadap impor China senilai $50 miliar tahun ini, telah berdampak negatif terhadap operasi mereka, sementara 63 persen mengatakan hal yang sama tentang jumlah tarif yang sama yang dikenakan Beijing sebagai pembalasan.

Setengah responden melaporkan bahwa mereka telah mengalami lebih banyak pemeriksaan, penundaan bea cukai, dan bentuk lain dari pengawasan yang tinggi.

Perang Dagang AS-China: Motor dan Kereta Target Berikutnya

Sebuah truk pengirim kontainer melewati kontainer-kontainer pada bulan lalu, yang ditumpuk di Pelabuhan Long Beach, termasuk kontainer dari COSCO—perusahaan pengiriman dan logistik milik pemerintah China. (Foto: AFP/Getty Images/Frederic J. Brown)

Eric Zheng, Ketua AmCham Shanghai, mengatakan bahwa dia mendukung tujuan pemerintah untuk mendorong Beijing agar merombak praktik perdagangan yang dianggap Trump tidak adil. Gedung Putih menuduh China memaksa perusahaan AS untuk bermitra dengan perusahaan lokal dan kemudian China mencuri kekayaan intelektual mereka, di antara keluhan lainnya.

“Kami mendukung upaya Presiden Trump untuk mengatur ulang hubungan perdagangan AS-China, mengatasi ketidakadilan yang telah lama berlangsung, dan mencapai keadilan,” kata Zheng dalam sebuah pernyataan. “Tapi kita bisa melakukannya melalui cara-cara lain selain tarif.”

Trump berusaha untuk mengakhiri apa yang dikecamnya sebagai defisit perdagangan raksasa. Namun pemerintah China sejauh ini menolak untuk mengalah pada tuntutan Gedung Putih, dan berjanji akan membalas setiap serangan Amerika.

Jika Trump melanjutkan ancamannya untuk memperluas pertempuran perdagangan hingga empat kali lipat, Beijing mengatakan akan memberlakukan pajak hingga 25 persen terhadap 5.207 jenis impor Amerika. Daftar ini mencakup bagian-bagian industri, bahan kimia, dan alat-alat medis.

Para pejabat China menyebut target-target itu “dipertimbangkan dengan baik dan terkendali”, dan berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memaksa Beijing untuk mengambil tindakan yang pada akhirnya akan merugikan kedua negara.

China juga telah memperingatkan bahwa pihaknya bisa mengeluarkan langkah-langkah “kualitatif”, di mana kelompok-kelompok bisnis AS telah menafsirkannya sebagai peraturan yang lebih memberatkan, pemberian visa yang terhenti, dan hambatan birokrasi lainnya.

Baca juga: [INFOGRAFIK] Perang Dagang Amerika vs China, Turki dan Dunia

Hasil survei AmCham datang sehari setelah lebih dari 60 kelompok industri AS meluncurkan sebuah koalisi yang disebut ‘Amerika untuk Perdagangan Bebas’, yang bertujuan untuk menghentikan tarif yang diusulkan Gedung Putih.

Kampanye jutaan dolar tersebut—yang terdiri dari ribuan perusahaan, petani, dan produsen—mengatakan bahwa perang dagang akan membunuh pekerjaan di AS dan menaikkan harga untuk rumah tangga Amerika.

Sejauh ini, tidak ada lagi negosiasi perdagangan yang dijadwalkan antara Amerika Serikat dan China.

Namun Larry Kudlow—Kepala Dewan Ekonomi Gedung Putih—mengatakan pada Rabu (12/9) di Fox Business Network, bahwa Menteri Keuangan Steven Mnuchin telah mengundang para pejabat senior China untuk menghidupkan kembali perundingan.

Dan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengatakan dalam konferensi pers pada Kamis (13/9), bahwa Beijing telah menerima undangan tersebut. Kedua pihak sedang mengerjakan rinciannya, tambahnya.

“China selalu menganggap bahwa eskalasi konflik perdagangan,” kata Geng, “tidak ada dalam kepentingan siapa pun.”

Keterangan foto utama: Kontainer-kontainer pengiriman terlihat di pelabuhan di Shanghai pada bulan April. (Foto: Aly Song/Reuters)

Survei: Perusahaan Amerika di China Menderita Akibat Perang Dagang

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top