menteri Susi Pudjiastuti
Berita Politik Indonesia

Susi Pudjiastuti: Menteri yang ‘Sedikit Gila’ dan Tak Takut Tantang China

Home » Berita Politik Indonesia » Susi Pudjiastuti: Menteri yang ‘Sedikit Gila’ dan Tak Takut Tantang China

Susi Pudjiastuti adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia yang ‘sedikit gila’ dan tidak takut untuk menantang China. Ia bukanlah menteri yang konvensional, dan mungkin memang dibutuhkan orang yang ‘agak gila’ untuk menantang pemerintah China, hingga menenggelamkan kapal-kapal ilegal.

Oleh: Hannah Beech dan Muktita Suhartono (The New York Times)

Baca Juga: Dilema Perikanan Indonesia: Tenggelamkan Kapal, atau Rusak Hubungan dengan Tetangga?

Susi Pudjiastuti menyendok makan siangnya dengan satu tangan, menggunakan ibu jari dan dua jarinya untuk memisahkan tulang dari sepotong ikan. Dengan tangan yang satunya lagi, dia memeragakan melindas tanah dengan tumit sepatu hak tinggi-nya.

“Ini yang bisa saya lakukan jika orang China mencoba mempermainkan saya,” kata Susi, Menteri Kelautan Dan Perikanan Indonesia. “Saya tersenyum lebar dan kemudian saya menggunakan sepatu hak tinggi saya.”

“Sangat tajam,” tambahnya, menyuap potongan ikan ke mulutnya.

Susi bukanlah wanita Indonesia konvensional, apalagi seorang menteri kabinet konvensional. Dia sering merokok, meskipun Menteri Kesehatan Indonesia—satu dari delapan wanita di kabinet Presiden Joko Widodo—telah memperingatkannya bahwa seorang tokoh masyarakat tidak boleh terlihat sedang merokok.

Susi suka kopi hitam dan alkohol, tapi hanya sampanye saja. “Keluarga saya menganggap saya agak gila,” katanya.

Mungkin dibutuhkan orang yang agak gila untuk menantang pemerintah China, berlayar jauh untuk menyita kapal penangkap ikan China di perairan Indonesia. Dia telah menciptakan banyak musuh sejauh ini, di dalam negeri maupun di luar negeri, tetapi dia mengatakan bahwa kesuksesannya dapat diukur dengan peningkatan kesehatan daerah penangkapan ikan di Indonesia, dan dia tidak akan mundur.

Susi Pudjiastuti: Menteri yang ‘Sedikit Gila’ dan Tak Takut Tantang China

Susi saat Pekan Mode Indonesia di Jakarta pada bulan Maret. Kebayanya—pakaian tradisional—dijahit begitu ketat sampai jahitannya robek ketika dia mencoba untuk duduk. (Foto: The New York Times/Kemal Jufri)

Dengan lebih dari 13 ribu pulau, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, namun kedaulatan maritimnya telah lama diabaikan. Ketika ia ditunjuk pada tahun 2014, Susi—seorang juragan hidangan laut dan penerbangan yang tidak lulus sekolah menengah—mewarisi sebuah kementerian yang terancam dihilangkan. Namun dia telah mengubah portofolionya, menyatakan perang terhadap kapal-kapal nelayan asing yang telah merambah perairan teritorial dan mengancam beberapa lautan dengan keanekaragaman hayati yang paling kaya di dunia tersebut.

Tidak semua pelanggar perairan teritorial berasal dari China. Kapal dari negara-negara Asia Tenggara lainnya juga berkeliaran ke perairan Indonesia, merugikan negara setidaknya $1 miliar per tahun dalam sumber daya yang hilang, PBB melaporkan. Susi tidak menggunakan pendekatan yang lunak: Di bawah pengawasannya, ratusan kapal asing yang disita telah diledakkan.

Tetapi keterlibatan Susi dengan orang-orang China yang telah menciptakan kegemparan besar, dan juga menjadikannya sebagai pahlawan yang tidak bisa dipercaya bagi mereka yang menyerukan perlawanan internasional terhadap kebijakan luar negeri China yang kuat.

Indonesia bukan merupakan penuntut resmi untuk wilayah yang disengketakan di Laut China Selatan, di mana China mendaratkan pesawat-pesawat pengebom di pulau-pulau yang disengketakan. Tetapi sembilan garis putus yang digunakan China pada peta untuk menandai petak Laut China Selatan yang mereka klaim sendiri, memanjang ke perairan sampai ke pulau-pulau Indonesia.

Di situlah ikan—dan Susi—berada.

“Saya bukan orang militer, saya bukan menteri luar negeri,” katanya. “Orang China tidak bisa benar-benar marah pada saya karena semua yang saya bicarakan adalah ikan.”

Susi Pudjiastuti: Menteri yang ‘Sedikit Gila’ dan Tak Takut Tantang China

Susi merupakan tokoh terkenal dan dihormati semua orang, namun ia juga menjadi musuh beberapa orang karena menyita perahu nelayan ilegal dan meledakkannya. (Foto: The New York Times/Kemal Jufri)

Ia tersenyum lagi, dan menyuap makan siangnya lagi, kali ini disiram dengan saus yang pedas yang Susi buat dari sebagian 65 pon cabe yang dia beli saat perjalanan terakhirnya ke Indonesia bagian timur.

Baca Juga: Menteri Indonesia Didesak untuk Hentikan Ledakkan Kapal Ikan Asing

Pada Juni 2016, sebuah kapal perang Indonesia menyeret kapal nelayan China yang tertangkap dekat Natuna—kepulauan Indonesia yang terletak di bagian paling selatan Laut China Selatan. Upaya di awal tahun itu untuk menyeret perahu China yang lain telah digagalkan, ketika Penjaga Pantai China campur tangan, memutuskan tali penyeret yang menyambungkan kapal yang disita dengan kapal patroli Indonesia.

Kedua penyeretan itu terjadi di perairan yang berada dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, sebagaimana didefinisikan oleh hukum laut internasional. Namun Kementerian Luar Negeri China memprotes dan menyebut daerah laut itu sebagai “daerah penangkapan ikan tradisional” China.

Susi tidak terkesan. “Orang-orang Indonesia berlayar ke Madagaskar di zaman kuno,” katanya. “Haruskah kita mengklaim seluruh Samudera Hindia sebagai ‘daerah penangkapan ikan tradisional kita’?”

Sejak Susi mengambil alih kementerian tersebut, sebagian besar dari 10 ribu kapal nelayan asing yang pernah menangkap ikan di perairan Indonesia telah hilang. Persediaan ikan naik lebih dari dua kali lipat dari tahun 2013 hingga 2017, menurut statistik pemerintah.

Susi Pudjiastuti: Menteri yang ‘Sedikit Gila’ dan Tak Takut Tantang China

Susi saat mengunjungi salah satu proyek kementeriannya, di Pangandaran. Sebuah tato yang bergambar burung phoenix di kaki sebelah kanannya membuat seorang pejabat mengatakan bahwa tato itu membuatnya terlihat seperti “preman.” (Foto: The New York Times/Kemal Jufri)

Namun awal tahun ini, Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, mengatakan bahwa tindakan itu perlu dihentikan. Meledakkan perahu mungkin telah membuat Susi menjadi menteri kabinet Indonesia yang paling dicintai, tetapi taktik kejutannya membuat takut para investor asing. Kamar Dagang dan Industri Indonesia setuju akan keluhan itu.

Bahkan komunitas nelayan yang beranggotakan 2,4 juta orang di Indonesia sangat marah, memprotes upaya Susi dalam menghentikan praktik-praktik yang populer namun merusak lingkungan, seperti penggunaan pukat dalam dan penangkapan ikan menggunakan dinamit.

Menteri Perikanan itu tidak peduli. “Ketika saya memulai bisnis hidangan laut, ikan-ikan itu sebesar ini,” katanya, sambil melebarkan lengannya. “Sekarang semuanya kecil. Ikan-ikan itu hilang, ditangkap secara berlebihan, dan pemerintah tidak peduli.”

Dalam dekade sebelum dia mengambil alih, katanya, jumlah pekerjaan nelayan di Indonesia jatuh sebesar 45 persen.

Susi Pudjiastuti —wanita yang berjuang dari titik nol untuk kesuksesannya sendiri—tidak akan menyerah tanpa perlawanan. Ia dilahirkan di sebuah kota nelayan di pantai selatan Jawa, pulau terpadat di Indonesia. Dia putus sekolah. Pernikahan pertamanya melahirkan seorang anak. Pernikahan keduanya melahirkan seorang anak. Hubungannya dengan pasangan ketiganya juga melahirkan seorang anak.

Susi Pudjiastuti: Menteri yang ‘Sedikit Gila’ dan Tak Takut Tantang China

“Saya senang ketika saya berada di laut,” kata Susi, yang merupakan seorang pendayung ulung. (Foto: The New York Times/Kemal Jufri)

Di malam saat dia minum-minum dia mendapat tato phoenix di tulang kering kanannya; tato itu tetap ada sampai sekarang, walaupun pria-pria yang menjadi ayah dari anak-anaknya tidak. (John Kerry, ketika dia menjadi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, pernah bercanda berjanji untuk pergi ke Indonesia jika Susi mengajaknya untuk mendapatkan tato yang sama.)

Baca Juga: Perang Indonesia Lawan Penangkap Ikan Ilegal: Pemerintah Kembali Tenggelamkan Kapal

Susi pernah bertahan hidup dengan mengendarai truk untuk mengangkut katak dan sarang burung. Kemudian dia pindah ke bisnis hidangan laut—lobster ke Jepang, raja udang ke Hong Kong—yang melahirkan perusahaan penerbangan yang dimulai dengan hanya mengangkut udang dan kepiting, sampai akhirnya diperluas untuk mengangkut orang juga.

Saat ini, Susi Air menyediakan 50 armada pesawat ringan. Ketika tsunami Lautan Hindia tahun 2004 memporak-porandakan Aceh di Indonesia bagian barat, menewaskan sekitar 170 ribu orang, Susi mengirim pesawat yang diisi dengan pasokan bantuan.

Akhir-akhir ini, banyak wanita Muslim di Indonesia telah meninggalkan kebaya—busana berenda, ketat, yang dipadukan dengan jarik yang merupakan pakaian nasional Indonesia untuk wanita—ke pakaian yang lebih longgar. Tapi tidak untuk Susi. Menjadi model saat Pekan Mode Indonesia pada awal tahun ini, dia mengenakan kebaya yang dijahit begitu ketat sampai jahitannya robek ketika dia mencoba untuk duduk. Kebaya itu dijahit lagi tetapi harus dilepas ketika Susi ingin pergi ke kamar mandi. Kemudian penjahitnya menjahit untuk ketiga kalinya.

Di ranah politik, ia tetap menjadi sosok yang terpolarisasi. Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR RI, menyebut bahwa tato Susi membuatnya terlihat seperti “preman.”

Para pendukung Susi telah mengajukannya sebagai  calon wakil presiden untuk Joko Widodo, yang akan mengikuti pemilu kembali tahun depan, meskipun terdapat klausul konstitusi yang membatasi dua jabatan teratas negara itu untuk kandidat dengan pendidikan tingkat sekolah menengah. Susi keberatan ketika diminta untuk mengomentari rumor wakil presiden.

Kapan pun dia bisa, dia akan kembali ke laut. Awal tahun ini, Susi dan salah seorang pengurus rumah tangganya, Nurmadia Heremba, melakukan perjalanan ke Pangandaran, kota hutan bakau di mana ia dibesarkan. Perjalanan itu merupakan liburan akhir pekannya, dan dia bersantai dengan mendayung papan dayung ke laut.

Arusnya kuat, tetapi setelah 90 menit mendayung dengan susah payah, Susi bersantai di papan dayungnya sambil merokok dan minum minuman hangat. Matahari yang terbenam bersinar merah di atas Samudra Hindia. “Masa bodoh dengan Jakarta,” kata Susi. “Saya senang ketika saya berada di laut.”

Keterangan foto utama: Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, yang melawan kapal-kapal ikan ilegal, bahkan kapal dari China. (Foto: The New York Times/Kemal Jufri)

Susi Pudjiastuti: Menteri yang ‘Sedikit Gila’ dan Tak Takut Tantang China

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top