Suu Kyi Kehilangan Kontrol atas Proses Perdamaian yang Tadinya Penuh Harapan
Asia

Suu Kyi Kehilangan Kontrol atas Proses Perdamaian yang Tadinya Penuh Harapan

Pemimpin Negara Myanmar dan Menteri Luar Negeri Aung San Suu Kyi bertolak setelah memberikan penghormatan kepada almarhum ayahnya selama upacara untuk menandai peringatan ke-71 Hari Martir di Yangon, tanggal 19 Juli 2018. (Foto: AFP/Ye Aung Thu)
Home » Featured » Asia » Suu Kyi Kehilangan Kontrol atas Proses Perdamaian yang Tadinya Penuh Harapan

Inisiatif pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi lewat Panglong 21 telah dikooptasi oleh militer, digerogoti oleh China, dan ditolak oleh sebagian besar tentara etnis. Suu Kyi sekarang tampaknya telah dikesampingkan oleh militer, yang dikenal sebagai Tatmadaw, yang terus melenturkan kekuatan mematikannya di berbagai medan perang yang mengamuk di seluruh penjuru Myanmar.

Oleh: Bertil Lintner (Asia Times)

Baca Juga: Facebook Berupaya Bungkam Sentimen Kebencian Biksu Myanmar

Putaran ketiga pembicaraan damai Panglong 21 dengan ambisius bertujuan mengakhiri perang saudara puluhan tahun Myanmar berakhir secara tidak meyakinkan pada tanggal 16 Juli 2018. Aung San Suu Kyi, putri pahlawan kemerdekaan nasional dan pemimpin nasional Myanmar de facto saat ini, mengambil alih pemerintahan pada bulan April 2016 dengan harapan tinggi untuk mencapai perdamaian untuk melemahkan konflik sipil.

Namun, masalah dan hambatan yang diwarisi Suu Kyi dari presiden sebelumnya, Thein Sein, dan pembatasan hukum dalam jabatannya mencabut kendali kepemimpinan Suu Kyi atas militer otonom, yang telah melawan keberhasilan hal yang secara luas dipandang sebagai kebijakan utama pemerintah yang dipimpin oleh Partai Liga Nasional untuk Demokrasi.

Hampir dua tahun ke dalam upaya perdamaian pribadinya, Suu Kyi sekarang tampaknya telah dikesampingkan oleh militer, yang dikenal sebagai Tatmadaw, yang terus melenturkan kekuatan mematikannya di berbagai medan perang yang mengamuk di seluruh penjuru Myanmar. Seperti pada konferensi Panglong 21 putaran sebelumnya yang diadakan pada bulan Agustus-September 2016 dan Mei 2017, pertemuan ketiga yang baru-baru ini berakhir pada pertengahan bulan Juli menunjukkan bahwa Tatmadaw kian mendominasi sepanjang prosesnya.

Militer sekali lagi menunjukkan sedikit minat atau bahkan sama sekali tidak peduli dalam upaya mengubah konstitusi 2008, yang memberi kekuasaan besar kepada Tatmadaw yang telah dijanjikan untuk mempertahankan diri terhadap amandemen serta untuk membuka jalan bagi kelompok-kelompok etnis bersenjata federal yang dianggap penting bagi perdamaian yang abadi dan bermakna.

Posisi militer yang pantang menyerah terlihat sepenuhnya di putaran ketiga Panglong 21. Panglima Senior Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan dalam pidato pembukaan bahwa militer, bukan kelompok etnis bersenjata maupun partai politik, merupakan perwakilan sejati dari seluruh rakyat Myanmar.

Pidato tersebut, yang direproduksi dalam harian resmi Global New Light of Myanmar edisi tanggal 12 Juli 2018, mengatakan bahwa “kelompok etnis bersenjata di beberapa wilayah tidak dapat mewakili 52 juta rakyat nasional, sedangkan partai politik hanya mewakili jalan hidup tertentu. Tatmadaw kami, Tatmadaw milik rakyat yang terlahir dari kelompok etnis, merupakan organisasi yang mewakili negara dan rakyat.”

Pimpinan militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing memberi hormat dalam latihan militer di wilayah delta Ayeyarwaddy, bulan Februari 2018. (Foto: AFP/Pool/Stringer)

Pimpinan militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing memberi hormat dalam latihan militer di wilayah delta Ayeyarwaddy, bulan Februari 2018. (Foto: AFP/Pool/Stringer)

Keikutsertaan partai-partai politik dalam pernyataan Min Aung Hlaing menimbulkan reaksi yang jauh melampaui jajaran kelompok-kelompok etnis yang beragam di Myanmar. Aktivis hak asasi manusia, politisi, dan pekerja komunitas mengunggah pesan di Facebook dan media sosial lainnya mengatakan bahwa, “Tatmadaw tidak mewakili saya.”

Hal itu juga menunjukkan bagaimana berbagai tentara etnis di Myanmar menilai situasi. Jenderal Gun Maw dari Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA/Kachin Independence Army), kelompok pemberontak yang memerangi militer di bagian utara negara, menyanyikan lagu ikonik Beatles “Let It Be” dalam acara makan malam Panglong 21 yang diadakan di Naypyitaw, ibu kota negara.

Ironi dari pilihan lagu Gun Maw tampaknya tidak ditangkap oleh sebagian besar penonton, tetapi lirik seperti “di jam kegelapan saya” dan merujuk pada “orang-orang yang patah hati” diikuti oleh “let it be” yang secara fatalistik menunjukkan betapa kecil keyakinannya dan para pemimpin etnis minoritas lainnya dalam pembicaraan yang sejauh ini berlangsung tidak efektif.

Sejak mantan jenderal militer Thein Sein pertama kali mengumumkan proses perdamaiannya pada tahun 2011, pertempuran telah meningkat di seluruh negara hingga ke tingkat yang tidak terlihat sejak tahun 1980-an yang bergolak. KIA secara khusus telah menanggung beban serangan-serangan baru Tatmadaw, termasuk serangan udara yang sampai sekarang tak terlihat.

Baca Juga: Myanmar Akan Terima Kembali Seluruh Pengungsi Rohingya dari Bangladesh

KIA dan sekutunya di antara etnis Wa, Palaung, Kokang, Shan, Arakanese, dan minoritas di timur negara bagian Shan, yang bersama-sama mewakili 80 persen dari semua kelompok bersenjata non-negara, diizinkan masuk ke perundingan hanya sebagai pengamat, bukan peserta.

Pemerintahan Tatmadaw dan Suu Kyi terus mendesak agar mereka menandatangani apa yang disebut sebagai Perjanjian Gencatan Senjata Nasional (NCA/Nationwide Ceasefire Agreement) sebelum pembicaraan politik substansial menuju arah federalisme penyerahan otonomi dapat diadakan. Pemerintah berpendapat bahwa sepuluh organisasi bersenjata etnis sejauh ini telah menandatangani NCA.

Namun, di antara mereka, hanya empat kelompok, yakni Serikat Nasional Karen, Tentara Buddha Demokratis Karen, Dewan Pemulihan Negara Bagian Shan, dan Partai Negara Mon Baru, yang sebenarnya memiliki angkatan bersenjata. Enam lainnya merupakan milisi lokal kecil atau organisasi non pemerintah yang memiliki sedikit atau bahkan sama sekali tanpa adanya kepentingan politik.

Pimpinan KIA Jenderal Gun Maw berpose dengan perempuan etnis Kachin pada konferensi Panglong 21 sebelumnya di Naypyidaw. (Foto: AFP/Romeo Gacad)

Pimpinan KIA Jenderal Gun Maw berpose dengan perempuan etnis Kachin pada konferensi Panglong 21 sebelumnya di Naypyidaw. (Foto: AFP/Romeo Gacad)

Pasukan terkuat, KIA, Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA/Ta’ang National Liberation Army), Tentara Persatuan Negara Bagian Wa (UWSA/United Wa State Army), dan Tentara Arakan, serta sekutu mereka di antara etnis Shans dan Kokang, telah menolak untuk menandatangani NCA dan tidak mungkin untuk melakukannya karena sama saja dengan menyerah sebelum serikat federal yang mereka bayangkan akan dibentuk.

Suatu hal yang lebih menyulitkan gambaran ini ialah sejumlah sarana yang sebagian besar dibiayai Barat dan menghasilkan apa yang dijuluki para kritikus di Yangon secara sinis sebagai “kompleks industri perdamaian.” Partisipasi mereka dalam proses itu meliputi pembelanjaan yang melimpah di proyek berbagai bidang yang sebagian besar tidak efektif, sejauh ini telah memberikan sedikit hal untuk memajukan perdamaian, menurut para kritikus yang sama.

China, di sisi lain, saat ini secara luas dipandang sebagai satu-satunya aktor luar yang penting. Hal itu tidaklah mengherankan mengingat bahwa China merupakan tetangga terkuat Myanmar dengan kepentingan geostrategis yang mendalam di seluruh negeri, termasuk pipa minyak dan gas penting yang mengalir dari pantai barat Myanmar ke provinsi Yunnan selatan yang dikuasai daratan China dan pelabuhan air dalam yang terbuka ke Samudera Hindia.

Perwujudan perdamaian hanyalah salah satu dari beberapa kartu yang dimainkan China di Myanmar untuk mencapai tujuan strategisnya. Beberapa tujuan lainnya ialah perdagangan, investasi, pembangunan infrastruktur, dan diplomasi soft-power dalam bentuk “kunjungan persahabatan” berbayar ke China untuk politisi, jurnalis, dan akademisi Myanmar.

Meski terdapat kepercayaan yang tersebar luas di antara berbagai pihak pencipta perdamaian di Barat, China tidak memaksa kelompok-kelompok etnis bersenjata di bawah kekuasaannya di utara Myanmar untuk menandatangani NCA. Para mediator China yang telah bertemu dengan para pemimpin kelompok bersenjata pada beberapa kesempatan hanya mendesak mereka untuk menghindari pertempuran di dekat perbatasan China-Myanmar.

Karena mengetahui banyak kelemahan NCA, para mediator China justru mendorong kelompok-kelompok bersenjata tertentu untuk mencapai kesepakatan lain dengan otoritas pusat, termasuk bahkan perjanjian perdamaian bilateral yang mungkin terjadi.

Pada saat yang sama, China memainkan permainan ganda dengan memungkinkan UWSA untuk memperoleh persenjataan canggih buatan China yang kemudian sering dibagi dengan sekutu-sekutunya tentara etnis tertentu. Para pengamat mengatakan bahwa transfer senjata rahasia mencerminkan pandangan pemerintah China bahwa hanya kelompok etnis yang kuat dan cukup dipersenjatai yang dapat membuat Tatmadaw mempertimbangkan kembali sikapnya yang kaku dan keras.

Tangan tersembunyi China dalam perang Myanmar secara tidak mengherankan telah menimbulkan motif mencurigakan bagi Tatmadaw yang sangat nasionalis. Sumber-sumber yang memiliki akses ke kepemimpinan Tatmadaw menegaskan bahwa hal ini telah membuat para jenderal lebih bertekad untuk menjaga pemerintah terpilih Myanmar keluar dari gambaran perdamaian.

Hal itu tampaknya menjelaskan referensi Min Aung Hlaing ke partai politik sebagai sekadar mewakili “jalan hidup tertentu,” sambil menekankan peran militer, yang seharusnya menyatukan. Pendekatan China tidak diragukan lagi lebih canggih daripada pendekatan yang dikerahkan oleh para pencipta perdamaian dari Barat yang sebagian besar dikesampingkan, banyak di antaranya bahkan tidak memiliki pemahaman dasar tentang masalah dan konflik etnis yang rumit.

Suu Kyi juga tampaknya telah kehilangan cengkeramannya dengan menyerukan dalam penutupannya pada tanggal 16 Juli 2018 untuk kesabaran dan visi strategis baru untuk membangun kerangka kerja perdamaian, sekali lagi tanpa memberikan rincian tentang apakah visi itu dan apa saja yang harus diperlukan. Sebagai kesimpulan, Suu Kyi mengatakan sedikit lebih banyak dari “konferensi kita tidaklah berhenti, itu tidak berbalik, namun bergerak maju dengan susah payah.”

Panglong 21 Suu Kyi diharapkan menjadi versi konferensi abad ke-21 dari yang diadakan pada tahun 1946-1947 di kota Shan negara bagian Panglong, ketika ayahnya Aung San dan para pemimpin beberapa kelompok etnis meletakkan landasan bagi kemerdekaan Myanmar dari Inggris pada tahun 1948 dan landasan bagi serikat federal yang tidak pernah direalisasikan.

Terlepas dari silsilah nasionalistik yang kuat, tampaknya mustahil bahwa Tatmadaw untuk memandang Suu Kyi, yang rezim menjadi tahanan rumah rezim militer selama lebih dari 15 tahun sementara anggota partai NLD Suu Kyi dianiaya dengan kejam, sebagai orang yang akhirnya menghadirkan perdamaian di Myanmar setelah beberapa dekade perang.

Memang, pidato Min Aung Hlaing mencerminkan fakta bahwa tidak hanya para pencipta perdamaian Barat, tetapi juga Suu Kyi sendiri, yang telah semakin tidak relevan dalam proses penciptaan perdamaian yang dengan cepat berubah menjadi kontes antara Tatmadaw dan China, ketika kelompok-kelompok etnis bersenjata yang belum menandatangani NCA menjadi pion dalam permainan geopolitik yang lebih besar.

Terjebak di tengah-tengah kerumitan tersebut merupakan lebih dari serratus ribu warga yang mengungsi dan kehilangan rumah mereka akibat pertempuran yang semakin intensif terutama di bagian utara Myanmar. Namun hal itu hampir tidak mungkin menimbulkan kekhawatiran bagi Tatmadaw atau China, karena bahkan dengan upaya simbolis atau mungkin sepenuh hati yang tulus dari Suu Kyi, perang, bukan perdamaian, berada di cakrawala Myanmar sejauh mata memandang.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Pemimpin Negara Myanmar dan Menteri Luar Negeri Aung San Suu Kyi bertolak setelah memberikan penghormatan kepada almarhum ayahnya selama upacara untuk menandai peringatan ke-71 Hari Martir di Yangon, tanggal 19 Juli 2018. (Foto: AFP/Ye Aung Thu)

Suu Kyi Kehilangan Kontrol atas Proses Perdamaian yang Tadinya Penuh Harapan
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top