Mike Pompeo
Amerika

Tak Ada Duta Besar AS di Timur Tengah, Mike Pompeo Berkeliling Sendirian

Berita Internasional >> Tak Ada Duta Besar AS di Timur Tengah, Mike Pompeo Berkeliling Sendirian

Pemerintahan Trump masih kekurangan duta besar dan diplomat senior untuk membantu mengatasi tantangan kebijakan luar negeri terbesarnya. Menurut American Foreign Service Association—sebuah serikat yang mewakili diplomat AS dan melacak penunjukan duta besar—lebih dari 40 jabatan duta besar dari total 188 jabatan masih kosong. Mike Pompeo, yang mengatakan akan mengisi jabatan-jabatan itu saat ia baru saja diangkat sebagai Menteri Luar Negeri, telah gagal memenuhi janjinya.

Baca juga: Mike Pompeo: Kerja Sama dengan Israel untuk Suriah dan Iran Akan Terus Berlanjut

Oleh: Robbie Gramer (Foreign Policy)

Kunjungan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo ke Timur Tengah bulan ini untuk menenangkan para sekutu yang gelisah, menyoroti masalah yang telah melanda Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) sejak Presiden Donald Trump berkuasa dua tahun lalu: jabatan-jabatan dan jajaran yang kosong.

Dari sembilan negara yang dikunjungi Pompeo, lima tanpa duta besar. Posisi teratas diplomat Timur Tengah juga tetap kosong, diisi dengan kapasitas pelaksana tugas oleh diplomat karier David Satterfield.

Kekosongan ini—menurut para pejabat saat ini dan mantan pejabat—menghambat keterlibatan AS di kawasan itu, seiring Trump dan para deputinya bergulat dengan beberapa tantangan kebijakan luar negeri terberat yang dihadapi Washington: melepaskan pasukan AS dari perang di Suriah, melawan Iran, berurusan dengan kehancuran perang sipil di Yaman, melanjutkan operasi kontraterorisme, dan memperbaiki keretakan yang lama membara antara negara-negara Teluk Persia.

Kekosongan ini khususnya bermasalah, seiring pemerintahan Trump terus mengirim pesan kontradiktif tentang kebijakannya terhadap teman dan musuh di wilayah tersebut. Dan banyak diplomat tingkat rendah dan staf kedutaan yang mengantar menteri tersebut dalam perjalanannya tidak dibayar, seperti yang dilaporkan Bloomberg News, karena penutupan pemerintah di Washington, yang semakin menggarisbawahi disfungsi dalam pembuatan kebijakan AS.

Pompeo bepergian dari tanggal 7 hingga 15 Januari ke Yordania, Irak, Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Oman, dan Kuwait. Yordania, Mesir, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi masih belum memiliki Duta Besar AS.

Jabatan duta besar yang kosong diisi dalam kapasitas sementara oleh diplomat karier, yang tidak memiliki pengaruh yang sama di negara tuan rumah mereka, seperti duta besar yang dicalonkan oleh presiden dan disetujui Senat.

“Dalam banyak kasus, diplomat di tingkat itu tidak akan setegas duta besar dalam menawarkan rekomendasi kebijakan kepada Menteri Luar Negeri, dan rekomendasi yang mereka tawarkan mungkin tidak ditanggapi dengan serius,” kata Michele Dunne, mantan pejabat Departemen Luar Negeri dan direktur program Timur Tengah di Carnegie Endowment for International Peace, sebuah wadah pemikir yang berbasis di Washington.

Mantan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson menghadapi kecaman sengit dari anggota parlemen dan diplomat karena meninggalkan sejumlah jabatan kosong di Departemen Luar Negeri dan posisi duta besar. Ketika ia mengambil alih pimpinan Departemen Luar Negeri pada April 2018, Pompeo mengatakan bahwa ia akan membalikkan kebijakan pendahulunya dan bekerja untuk dengan cepat mengisi kembali jajaran departemen yang terkuras. Tidak adanya diplomat tinggi di beberapa negara Timur Tengah yang dia kunjungi menunjukkan dengan jelas bahwa rencananya gagal, kata pejabat yang berbicara dengan Foreign Policy.

Menurut American Foreign Service Association—sebuah serikat yang mewakili diplomat AS dan melacak penunjukan duta besar—lebih dari 40 jabatan duta besar dari total 188 jabatan masih kosong.

Puluhan lowongan yang tersisa berasal dari pertengkaran politik di Capitol Hill dan Trump yang tampaknya tidak terdesak untuk mengajukan calon. Pompeo telah berdebat dengan anggota parlemen Demokrat atas keterlambatan beberapa pencalonan di Komite Hubungan Luar Negeri Senat.

Senator Demokrat, Tim Kaine, misalnya, telah mencabut pencalonan asisten menteri luar negeri untuk urusan-urusan Timur Dekat, David Schenker, atas kegagalan pemerintah untuk mendapatkan persetujuan kongres untuk serangan udara di Suriah pada 2017.

“Kami telah melakukan bagian kami di Departemen Luar Negeri dengan mengajukan sejumlah kandidat,” kata Pompeo dalam sebuah pernyataan pada Oktober lalu, menuduh Senat Demokrat menggunakan pencalonan Departemen Luar Negeri sebagai “sepak bola politik.”

Tetapi Senat Demokrat mengatakan bahwa banyak calon yang diajukan Trump sepenuhnya tidak memenuhi syarat untuk menjadi duta besar, atau memiliki latar belakang yang menghalangi mereka untuk dapat disetujui—seperti Christine Toretti, calon Duta Besar untuk Malta, yang memiliki perintah penahanan yang diajukan terhadapnya karena “menempatkan lembar target yang penuh peluru” di kantor dokter mantan suaminya. Calon lainnya telah menghadapi tuntutan pelecehan seksual atau terlibat dalam investigasi federal. Untuk jabatan duta besar lainnya, Trump tidak pernah peduli untuk mencalonkan siapa pun.

“Ini kegagalan bipartisan,” kata Mark Dubowitz, kepala eksekutif Foundation for Defense of Democracies, wadah pemikir yang berbasis di Washington. “Sangat penting bahwa setiap pemerintahan memiliki orang-orang di Washington dan di luar negeri untuk menerapkan kebijakan mereka,” katanya. “Sangat memalukan bahwa ini menjadi sesuatu yang normal.”

Pompeo pergi untuk meyakinkan sekutu Timur Tengah yang terguncang oleh pengumuman mendadak Trump pada bulan Desember, bahwa ISIS dikalahkan dan bahwa ia akan menarik 2.000 tentara AS dari Suriah dalam 30 hari. Pengumuman itu menunjukkan proses pembuatan kebijakan yang kacau di Washington, di mana para pejabat tinggi dibiarkan berjuang untuk merekayasa balik kebijakan Suriah yang koheren.

Ini juga memicu pengunduran diri Menteri Pertahanan James Mattis dan Brett McGurk, tokoh diplomatik dalam kampanye melawan ISIS.

Dalam pertemuan Gedung Putih tanggal 3 Januari, Trump lebih lanjut mengguncang pendukungnya, yang melihat jejak militer AS di Suriah sebagai penyeimbang penting terhadap pengaruh Iran di negara yang dilanda perang itu. Para pejabat Iran, Trump mengatakan, “dapat melakukan apa yang mereka inginkan” di Suriah.

Selama kunjungan ke Timur Tengah awal pekan ini, Penasihat Keamanan Nasional John Bolton tampaknya mundur dari pernyataan Trump. Dia bersikeras bahwa pasukan AS hanya akan ditarik setelah ISIS sepenuhnya dikalahkan, dan setelah Turki berkomitmen untuk tidak menyerang pasukan Kurdi yang berperang dengan ISIS bersama pasukan AS.

Baca juga: Timur Tengah Hadapi Era Tanpa Amerika

Baik Bolton maupun Pompeo telah membantah laporan tentang kekacauan kebijakan dan disfungsi, dan bersikeras bahwa mereka berada di posisi yang sama dengan presiden, dan kebijakan Suriah-nya konsisten dan koheren.

“Tidak ada perubahan dalam komitmen kami untuk mengalahkan kekhalifahan atau ISIS secara global. Tidak ada perubahan dalam strategi kontra-Iran kami,” kata Pompeo dalam sebuah wawancara pada Senin (7/1) dengan CNBC. “Kami akan menarik 2.000 tentara kami dari Suriah—tetapi misinya, tujuan kami terlibat selama 24 bulan dalam pemerintahan, tetap penuh.”

Tetapi upaya Pompeo untuk mengendalikan kerusakan, sebagian dibayangi oleh kunjungan berbatu Bolton ke Turki, di mana ia membuat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan marah dengan menarik mundur kebijakan Suriah Trump. Erdogan menolak untuk bertemu Bolton dan menyebut komentar penasihat keamanan nasional itu sebagai “kesalahan serius.”

Amerika Serikat saat ini tidak memiliki Duta Besar untuk Turki.

Robbie Gramer adalah reporter keamanan nasional dan diplomasi di Foreign Policy.

Keterangan foto utama: Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menunggu untuk naik helikopter di Bandara Internasional Baghdad selama kunjungannya ke Irak pada tanggal 9 Januari, di ibu kota Irak. (Foto: AFP/Getty Images/Andrew Caballero-Reynolds)

Tak Ada Duta Besar AS di Timur Tengah, Mike Pompeo Berkeliling Sendirian

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top