pemberontak papua
Berita Politik Indonesia

Tak Mau Menyerah, Separatis Papua Tuntut Referendum

Berita Internasional >> Tak Mau Menyerah, Separatis Papua Tuntut Referendum

Kelompok separatis Papua menolak untuk menyerah. Mereka menuntut pemerintah Indonesia untuk kembali mengadakan referendum, memutuskan masa depan daerah tersebut. Papua—wilayah di pulau Nugini bagian barat yang kaya akan sumber daya—telah dilanda oleh konflik separatis yang kejam, sejak bekas jajahan Belanda itu dimasukkan ke Indonesia setelah referendum yang didukung Amerika Serikat (AS) pada tahun 1969.

Oleh: Reuters

Baca Juga: Jakarta Didesak untuk Selidiki Proyek Minyak Kelapa Sawit di Papua

Para pemberontak separatis di Provinsi Papua di Indonesia—yang membunuh sekelompok pekerja yang membangun jembatan pada bulan ini—telah menolak seruan pemerintah untuk menyerah, dan justru menuntut referendum untuk memutuskan masa depan daerah tersebut.

Pasukan keamanan telah melancarkan operasi untuk memburu anggota sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap sedikitnya 16 pekerja dan seorang tentara di daerah pegunungan Nduga.

OPM telah mengatakan bahwa mereka melihat para pekerja tersebut sebagai anggota militer dan korban dalam perang melawan pemerintah Indonesia. Para pejabat Indonesia mengatakan bahwa para pekerja itu adalah warga sipil.

Papua—wilayah di pulau Nugini bagian barat yang kaya akan sumber daya—telah dilanda oleh konflik separatis yang kejam, sejak bekas jajahan Belanda itu dimasukkan ke Indonesia setelah referendum yang didukung Amerika Serikat (AS) pada tahun 1969.

Dalam video yang diunggah di YouTube pada Senin (10/12), juru bicara OPM Sebby Sambom membacakan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo, di mana ia menolak seruan terhadap sayap militer mereka—yang dikenal sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)—untuk menyerah dan memulai dialog.

Berdiri di belakang bendera Bintang Kejora separatis yang dilarang, Sambom menuntut Jokowi untuk mengadakan referendum lain bagi penduduk asli Papua untuk memutuskan apakah mereka ingin diintegrasikan dengan Indonesia.

“TPNPB tidak akan menyerah dalam keadaan apa pun, sebelum kemerdekaan bangsa Papua diwujudkan dari pendudukan Indonesia,” kata Sambom.

“Perang tidak akan berhenti sebelum tuntutan TPNPB dilakukan oleh pemerintah Indonesia.”

Dia menyerukan akses tidak terbatas ke Papua bagi para wartawan asing dan bagi lembaga pengungsi AS dan Palang Merah internasional, untuk membantu merawat warga sipil yang terperangkap dalam konflik.

Sambom mengkonfirmasi kepada Reuters pada Selasa (11/12) terkait keaslian video tersebut.

Seorang juru bicara Presiden Joko Widodo tidak segera menanggapi permintaan untuk komentar.

Pada tahun 2017, seorang pejabat senior pemerintah—dalam menanggapi petisi ke PBB untuk melaksanakan referendum baru—mengatakan bahwa Papua adalah bagian hukum Indonesia dan sudah dimasukkan melalui proses referendum.

OPM telah menuduh militer membunuh warga sipil dalam operasi yang menurut mereka termasuk pengeboman.

Kepala Menteri Keamanan Wiranto, menolak tuduhan itu, tetapi mengatakan bahwa tentara memang menggunakan granat dalam bentrokan.

Dua tentara terluka pada Selasa (11/12) dan tiga separatis tewas dalam bentrokan, kata militer.

Sejak berkuasa pada tahun 2014, Jokowi telah mencoba meredakan ketegangan di Papua dengan membebaskan tahanan, mengatasi masalah hak asasi manusia, dan meningkatkan investasi, termasuk melalui jalan Trans Papua.

Baca Juga: Lakukan Serangan, Separatis Papua Harus Diadili

Pelaporan oleh Agustinus Beo Da Costa dan Gayatri Suroyo; Penyuntingan oleh Ed Davies.

Keterangan foto utama: Indonesia telah memerangi kelompok pemberontak Organisasi Papua Merdeka (OPM) selama puluhan tahun. (Foto: AFP)

Tak Mau Menyerah, Separatis Papua Tuntut Referendum

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top