Berita Tentang Indonesia

Taliban Dihimbau untuk Tak Menganggap Indonesia Perpanjangan Tangan Amerika

Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani, ditemani Presiden Indonesia Joko Widodo, memeriksa penjaga kehormatan dalam upacara selamat datang di istana presiden Jakarta. (Foto: AFP)
Home » Berita Tentang Indonesia » Taliban Dihimbau untuk Tak Menganggap Indonesia Perpanjangan Tangan Amerika

Indonesia tidak akan didikte atau dilindungi oleh perwakilan Afghanistan dan Pakistan, menurut pejabat Majelis Ulama Indonesia (MUI). Indonesia menyatakan diri tetap netral dan tidak bias dalam konflik Afghanistan.

Oleh: Pizaro Gozali dan Chandni Vasandani (Anadolu Agency)

Taliban seharusnya tidak melihat Indonesia sebagai perpanjangan tangan pemerintah Afghanistan atau AS, kata pejabat Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Senin (12/3).

Dewan tersebut seharusnya mengadakan konferensi trilateral yang melibatkan perwakilan Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan akhir bulan ini di Jakarta untuk membahas opsi untuk membawa Taliban ke meja perundingan dan membawa perdamaian di Afghanistan yang dilanda perang.

    Baca Juga : Sampai Mana Kesepakatan Pembelian Pesawat A400M untuk Militer Indonesia?

Pada hari Sabtu (10/3), organisasi militan tersebut telah menyebut proses perdamaian yang dimulai Indonesia “menipu” dan mengatakan kepada para ulama agama untuk memboikot acara yang ditetapkan pada akhir Maret tersebut.

Muhyiddin Junaidi, kepala departemen hubungan internasional MUI, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa Taliban Afghanistan belum menerima “informasi lengkap” mengenai konferensi yang diusulkan tersebut.

“Taliban mungkin melihat Indonesia sebagai perpanjangan tangan pemerintah Afghanistan dan negara-negara asing, terutama AS,” kata Junaidi.

Namun, katanya, Indonesia tetap netral dan tidak bias dalam konflik Afghanistan.

“Kami tidak pro-pemerintah maupun pro-Taliban,” katanya.

Dia menambahkan bahwa Indonesia tidak akan mendengarkan atau dilindungi oleh perwakilan Afghanistan dan Pakistan.

Taliban, bagaimanapun, tampaknya tidak berminat untuk berpartisipasi dalam konferensi tersebut.

“Tidak memberi kesempatan kepada orang-orang yang menyerang di Afghanistan untuk menyalahgunakan nama dan partisipasi Anda dalam konferensi ini sebagai sarana untuk mencapai tujuan jahat mereka,” kata kelompok bersenjata tersebut dalam sebuah pernyataan.

‘Kartu Trump’

Majelis Ulama Indonesia mengatakan bahwa pihaknya masih mengevaluasi apakah penolakan dari Taliban bersifat final atau hanya dilakukan di depan media.

Mereka ingin segera bertemu dengan perwakilan Taliban, secara resmi mengundang mereka dan menjelaskan secara jelas tujuan konferensi tersebut.

Namun, anggota dewan tersebut mengatakan bahwa mereka masih menunggu lampu hijau mengenai masalah ini dari pemerintah Pakistan, yang terus “memegang kartu trump.”

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan bahwa semua pemangku kepentingan bersedia menerima peran Indonesia dalam menjadi perantara dalam proses perdamaian Afghanistan.

“Indonesia memiliki rekam jejak yang bagus dalam diplomasi damai dan kita memiliki posisi yang baik untuk berkontribusi dalam pembangunan perdamaian dan proses perdamaian,” Retno Marsudi mengatakan kepada wartawan minggu lalu, mengacu pada resolusi konflik internal yang telah berlangsung lama di Aceh dan Ambon.

Sementara itu, pemerintah Kabul putus asa untuk mencari jalan dan sarana untuk mengakhiri pertumpahan darah saat konflik Afghanistan tersebut memasuki tahun ke-17.

Bulan lalu, Presiden Afghanistan, Mohammad Ashraf Ghani, dengan tegas menawarkan sebuah tawaran perdamaian kepada Taliban dalam konferensi Kabul Process di mana dia berjanji untuk mengakui kelompok bersenjata tersebut sebagai kelompok politik, dan berjanji untuk membebaskan narapidana mereka dan menghapus sanksi terhadap mereka.

Syed Ehsanuddin Tahiri, juru bicara Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan—sebuah badan pemerintah yang bertugas untuk mencapai kesepakatan damai dengan Taliban—mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa Indonesia dapat membuktikan bahwa mereka merupakan tempat netral yang ideal untuk perundingan semacam ini, berkat ulama-ulamanya yang sangat agamis.

    Baca Juga : Misteri Hilangnya Kapal Induk Royal Navy: Inggris Bicara dengan Indonesia

“Kami mendesak Taliban untuk mencalonkan wakil mereka untuk konferensi yang akan datang di Jakarta demi Islam dan Afghanistan… Insya Allah Pakistan juga akan berpartisipasi dalam konferensi Islam ini sesuai dengan janji yang mereka (pejabat Pakistan) buat kepada presiden Indonesia (selama kunjungan terakhirnya).”

Sampai 45 cendekiawan Islam dari tiga negara telah diundang untuk berkumpul di Jakarta untuk diskusi menjelang Konferensi Ulama Internasional tentang Perdamaian dan Pembangunan di Afghanistan.

Shadi Khan dari Kabul, Afghanistan, memberikan kontribusi untuk laporan ini.

Keterangan foto utama: Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani, ditemani Presiden Indonesia Joko Widodo, memeriksa penjaga kehormatan dalam upacara selamat datang di istana presiden Jakarta. (Foto: AFP)

Taliban Dihimbau untuk Tak Menganggap Indonesia Perpanjangan Tangan Amerika
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top