Tanda Kemenangan Pemerintah, Perbatasan Suriah Yordania Kembali Dibuka
Timur Tengah

Tanda Kemenangan Pemerintah, Perbatasan Suriah Yordania Kembali Dibuka

Berita Internasional >> Tanda Kemenangan Pemerintah, Perbatasan Suriah Yordania Kembali Dibuka

Dua perbatasan utama dibuka kembali dalam sebuah dorongan besar kepada pemerintah Suriah, seiring pemerintah mengambil alih sebagian besar wilayah pemberontak. Perbatasan Suriah Yordania dan perbatasan Suriah dengan Dataran Tinggi Golan telah bisa dilewati oleh warga. Pemerintah Suriah mengatakan, mereka juga akan membuka perbatasan lainnya dalam waktu dekat.

Baca Juga: Semua yang Perlu Kita Tahu Tentang Konflik Suriah di Perbatasan Israel

Oleh: Al Jazeera

Satu-satunya titik penyeberangan antara Suriah dan wilayah dataran tinggi Golan yang diduduki Israel telah dibuka kembali untuk para pengamat PBB, empat tahun setelah penutupan akibat perang sipil di Suriah.

Dua jeep putih PBB menyeberang ke Dataran Tinggi Golan pada Senin (15/10), melalui penyeberangan yang dibuka kembali di dekat kota perbatasan Suriah Quneitra, setelah kesepakatan antara Israel, Suriah, dan PBB.

Seorang wanita Suriah berjalan menuju perbatasan pos pemeriksaan penyeberangan antara Yordania dan Suriah. (Foto: Reuters/Muhammad Hamed)

Pengamat PBB dan tokoh lokal dari komunitas Druze—populasi dominan di daerah itu—berkumpul di dekat persimpangan.

Pengamat PBB telah meninggalkan perlintasan Quneitra pada tahun 2014 untuk pertama kalinya sejak ditempatkan di sana pada tahun 1974, untuk memantau gencatan senjata dan zona demiliterisasi. Israel menduduki Dataran Tinggi Golan pada tahun 1967.

Pasukan Suriah merebut kembali wilayah Quneitra pada bulan Juli.

Polisi militer Rusia ditempatkan di daerah itu, termasuk di tepi Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, dan mendirikan pos pemeriksaan di daerah itu.

Moskow mengatakan, pihaknya berencana untuk bekerja sama dengan pasukan PBB.

“Ini adalah hari kemenangan,” kata Youssef Jarbou, seorang Pemimpin Druze, kepada TV Al-Ikhbariya Suriah dari Quneitra.

Sementara itu, perbatasan lain antara Suriah dan Yordania dibuka kembali pada Senin (15/10), juga, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, yang menjanjikan pulihnya perdagangan dan pergerakan antara kedua negara yang terhenti karena perang.

Baca Juga: Antisipasi Berlanjutnya Perang Suriah, Turki Kerahkan Pasukan di Perbatasan Idlib

Persimpangan ini “adalah jalur vital untuk perdagangan antara dua negara persaudaraan Yordania dan Suriah, melalui negara-negara itu, menuju ke negara-negara Arab lainnya,” kata Jumana Ghunaimat, juru bicara pemerintah Yordania, menurut kantor berita Petra.

Pembukaan kembali Nassib terjadi pada pukul 8 pagi (05:00 GMT), dan itu terjadi seiring dorongan besar bagi pemerintah Suriah Presiden Bashar al-Assad. Ini juga memperkuat pesan pemerintah Suriah yang secara perlahan muncul sebagai pemenang dari konflik tujuh tahun tersebut.

Puluhan mobil pribadi berbaris untuk menyeberang dari Yordania. Petugas dan anjing keamanan menggeledah kendaraan-kendaraan tersebut.

“Hari ini adalah sebuah pesta, sebuah pesta untuk seluruh negara Arab dan Islam, dan untuk seluruh dunia, persimpangan ini sangat penting bagi seluruh negara Arab,” kata Mohammed Khalil, orang Suriah pertama yang antre untuk kembali ke negaranya.

Menteri Luar Negeri Irak juga memuji langkah itu, dan mengatakan bahwa Suriah seharusnya tidak diasingkan dari tetangga Arabnya, dan memuji Damaskus karena tetap “kuat” dan bersatu dalam menghadapi banyak kesulitan.

Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moualem mengatakan bahwa dia berharap perbatasan al-Bukamal dengan negara tetangganya Irak akan dibuka sesegera mungkin.

“Kami melihat kepentingan rakyat Suriah dan Irak dalam membuka penyeberangan al-Bukamal,” kata Moualem kepada para wartawan pada konferensi gabungan dengan Menteri Luar Negeri Irak Ibrahim al-Jaafari, yang mengunjungi Damaskus.

Seorang polisi Yordania membuka gerbang tempat penyeberangan perbatasan Jaber Yordania dekat pos pemeriksaan Nasib Suriah. (Foto: Reuters/Muhammad Hamed)

Memboikot pemerintah Suriah

Negara-negara Arab telah memboikot pemerintah Suriah sejak masa-masa awal perang, dan membekukan keanggotaannya di Liga Arab yang beranggotakan 22 negara.

Pemberontak Suriah merebut penyeberangan Nassib pada tahun 2015, dan mengganggu jalur perdagangan utama antara Suriah dan Yordania, Lebanon dan negara-negara Teluk yang kaya minyak.

Pasukan pemerintah Suriah merebutnya kembali pada bulan Juli, setelah pemberontak mencapai kesepakatan dengan mediator Rusia untuk mengakhiri kekerasan di provinsi selatan Deraa, dan menyerahkan penyeberangan tersebut.

Persimpangan tersebut juga penting bagi tetangga Suriah, Lebanon, dalam menyediakan produk pertaniannya dengan rute ke pasar luar negeri.

Hampir 450 ribu warga Suriah tewas dalam perang tersebut, dan negara itu telah hancur oleh kekerasan, yang menarik keterlibatan negara-negara regional dan internasional, serta para pejuang asing.

Keterangan foto utama: Seorang tentara Suriah berjaga-jaga di persimpangan perbatasan Nassib dengan Yordania. (Foto: Reuters/Omar Sanadiki)

Tanda Kemenangan Pemerintah, Perbatasan Suriah Yordania Kembali Dibuka

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top