Tentang Gerakan Rompi Kuning, Pemicu Demonstrasi di Prancis
Eropa

Tentang Gerakan Rompi Kuning, Pemicu Demonstrasi di Prancis

Berita Internasional >> Tentang Gerakan Rompi Kuning, Pemicu Demonstrasi di Prancis

Setiap akhir pekan selama empat minggu lebih, gerakan rompi kuning turun ke jalan-jalan Prancis. Jumlahnya luar biasa besar dan berhasil mengguncang pemerintahan Presiden Emmanuel Macron. Sebenarnya, siapakah yang berada di balik protes rompi kuning ini?

Oleh: Hilary Clarke dan Gianluca Mezzofiore (CNN)

Baca Juga: Protes Rompi Kuning: Menteri Prancis Tegur Trump Agar Tak Ikut Campur

Gerakan rompi kuning dimulai sebagai gerakan di antara beberapa masyarakat kelas menengah ke bawah Prancis yang memprotes pajak lingkungan baru atas bahan bakar, yang menurut mereka akan mempersulit kondisi keuangan mereka.

Pemerintah Prancis menutup berbagai kawasan sebagai bentuk persiapan untuk kemungkinan protes yang diwarnai kekerasan untuk akhir pekan keempat, ketika gerakan rompi kuning semakin banyak disusupui oleh kelompok ekstremis. Nama gerakan tersebut berasal dari rompi kuning mencolok yang harus dibawa setiap pengendara Prancis di kendaraan mereka.

Tuntutan mereka juga terus meluas. Kalangan siswa telah turut serta turun ke jalan, menyerukan perubahan pada ujian sekolah menengah dan prosedur masuk universitas.

Di antara para pengunjuk rasa juga terdapat kelompok anarkis, elemen-elemen populis anti-imigrasi, dan kelompok fasis garis keras. Bahkan ada kelompok-kelompok di media sosial yang mengklaim sebagai gerakan rompi kuning lingkungan, sebuah kontradiksi langsung dari tuntutan para demonstran sesungguhnya yang menyerukan potongan atas pajak lingkungan baru.

Koordinasi aksi di Facebook

Sebagian besar koordinasi untuk protes dilakukan di Facebook. Menurut perhitungan perusahaan media sosial itu sendiri, 67 persen orang Prancis menggunakan Facebook, dengan 22 juta orang bergabung setiap hari.

Protes telah dikoordinasikan melalui kelompok yang disebut “groupes colères” atau “kelompok marah,” yang telah mengumpulkan ratusan ribu anggota selama tahun 2018.

Grup Facebook terbesar adalah “Compteur Officiel de Gilets Jaunes” atau hitungan jaket kuning resmi, yang memiliki 1,7 juta anggota. Kelompok lain adalah “Carte des Rassemblements” yang berarti peta demonstrasi, dengan 300 ribu anggota. Kelompok yang lebih menyeramkan, “Angry Patriots,” memiliki 53 ribu anggota.

Pemimpin gerakan rompi kuning

Pelopor gerakan rompi kuning yang sesungguhnya adalah mekanik motor Ghislain Coutard, 36 tahun, dari Narbonne, Prancis selatan. Dijuluki “vestman” di media sosial, video yang ia buat dan mendorong orang untuk menunjukkan penolakan mereka terhadap pajak dengan mengenakan jaket kuning dengan cepat menjadi popular dan telah ditonton sebanyak 5,4 juta kali.

Sosok penggagas gerakan rompi kuning lain yang popular di media sosial adalah Jacline Mouraud, 51 tahun, p”main akordeon dan hipnoterapis dari Brittany. Dia adalah bagian dari kelompok yang disebut “Rompi Kuning Bebas,” yang menyerukan demonstran untuk menjauh dari Paris karena apa yang mereka katakan sebagai “perangkap” yang dibentuk oleh pemerintah, yang mereka tuduh mengupayakan “strategi kekacauan.”

“Saya tidak melihat manfaat dari turun ke jalanan Paris, itu adalah bagian dari teater. Ini bukan permainan, semua orang perlu mengerti sekarang, semua orang perlu menyadari apa yang telah kami capai dan fakta bahwa kami telah diberi hak untuk mendiskusikan,” katanya kepada surat kabar Prancis Le Parisien.

Favorit baru-baru ini di media adalah Jean-François Barnaba, 62 tahun, mantan direktur budaya dan pariwisata di Indre, sebuah departemen di Prancis tengah, yang dikeluarkan dari jabatannya dan ditempatkan pada cuti “gardening leave” yang diperpanjang atas 80 persen dari gajinya sejak 10 tahun yang lalu. Barnaba saat ini menerima 2.900 Dolar AS sebulan, yang dia katakan memberinya dengan hanya 1.000 Dolar AS per bulan untuk menghidupi istri dan ketujuh anaknya setelah semua tagihan dibayar.

Menurut kantor berita AFP, Barnaba menulis dan menerbitkan sendiri sebuah novel pada tahun 2016 dan telah melakukan lebih dari 30 wawancara ke media Prancis atas nama gerakan rompi kuning.

Éric Drouet, 33 tahun, seorang pengemudi truk dari Melun di pinggiran timur kota Paris dengan 47 ribu pengikut Facebook, memulai gerakan rompi kuning di klub mobil setempat, Muster Crew, menurut surat kabar Le Monde. Dia mengatakan kepada afiliasi CNN, BFMTV pada hari Rabu (12/12): “Sabtu akan menjadi tujuan akhir. Sabtu itu adalah Elysée (kediaman presiden). Kami semua ingin pergi ke Elysée. Ini benar-benar akan terjadi hari Sabtu. Kami semua bersatu sampai akhir dan kami bergerak ke arah Elysée.”

Namun, dalam sebuah video Facebook yang diunggah kemudian, Drouet meredam amarahnya dan berkata: “Saya meminta orang untuk keluar untuk berdemonstrasi, bukan untuk menghancurkan segalanya,” katanya dalam video itu. “Saya ingin pergi ke Elysée bukan untuk merusaknya, tapi agar kami didengarkan.”

Media Prancis melaporkan hari Jumat (7/12) bahwa dia sekarang sedang diselidiki oleh jaksa penuntut umum.

Rekan Drouet adalah Priscillia Ludosky, 33 tahun, yang menjalankan perusahaan parfum online dari pinggiran Paris tenggara. Dia menjadi sosok pemimpin boneka gerakan rompi kuning yang lainnya setelah memulai petisi online untuk meminta harga bahan bakar lebih rendah, yang berhasil mengumpulkan lebih dari satu juta tanda tangan.

Ludosky mengatakan dia menentang semua partai politik, tetapi pada hari Kamis (6/12) menerbitkan manifesto politik yang menyerukan, antara lain, referendum populer, pembentukan majelis rakyat, pemotongan gaji pejabat public, serta mengekang pengeluaran mereka. Sebagai seorang wanita kulit hitam, banyak pengikut Facebooknya berasal dari komunitas non-kulit putih Prancis.

Di sayap kanan gerakan adalah Maxime Nicolle, 31 tahun, atau dikenal sebagai Fly Rider, yang tulisannya telah dilihat oleh ratusan ribu orang, menurut Le Monde. Identik dengan janggut merah dan topi bisbol terbalik, dia adalah penggerak teori konspirasi. Dia dikaitkan dengan online blogger dan ahli teori konspirasi Étienne Chouard, yang pertama kali dikenal di Prancis 13 tahun lalu ketika menyerukan referendum atas konstitusi Uni Eropa.

Nicolle diduga telah menyebarkan kekhawatiran bahwa Macron sedang mempersiapkan untuk menandatangani perjanjian PBB untuk mengizinkan 480 juta lebih imigran masuk ke Eropa. Pada unggahan video Facebook baru-baru ini, dia menyarankan orang-orang untuk menyiapkan persediaan makanan, mengamankan rumah mereka dari kasus penjarahan, serta meminta kekuatan hukum untuk membela “rakyat melawan pemerintah.”

“Saya pasti tidak akan mundur sekarang,” katanya kepada CNN hari Rabu (12/12), menyusul penangguhan pajak bahan bakar baru. “Moratorium [tentang pajak bahan bakar] tidak ada gunanya. Rakyat menginginkan referendum, referendum dalam hal Macron, senat, dan majelis nasional.”

Laman Facebooknya diturunkan pada hari Jumat (7/12).

Kekhawatiran saat ini, dan alasan untuk mobilisasi polisi secara kuat pada hari Sabtu adalah pembajakan “kelompok marah” oleh para ekstremis politik yang melakukan kekerasan.

“Dalam tiga pekan terakhir ini telah terjadi kelahiran monster yang telah melarikan diri dari penciptanya,” kata Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner pada konferensi pers hari Jumat (7/12).

Baca Juga: Protes Rompi Kuning Menjalar ke Belgia dan Belanda

Kontributor artikel: Saskya Vandoorne dari CNN.

Keterangan foto utama: Gerakan rompi kuning dimulai sebagai gerakan di antara beberapa masyarakat kelas menengah ke bawah Prancis yang memprotes pajak lingkungan baru atas bahan bakar (Foto: Chris McGrath/Getty Images)

Tentang Gerakan Rompi Kuning, Pemicu Demonstrasi di Prancis

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top