Seorang tentara Suriah memfilmkan kerusakan Pusat Penelitian Ilmiah Suriah yang diserang oleh serangan militer AS, Inggris dan Prancis untuk menghukum Presiden Bashar Assad atas dugaan serangan kimia terhadap warga sipil, di Barzeh, dekat Damaskus, Suriah, Sabtu, 14 April 2018. (Foto: AP/Hassan Ammar)
Amerika

Terlepas dari Serangan Udara, Amerika Kalah dalam Permainan Jangka Panjang Suriah

Seorang tentara Suriah memfilmkan kerusakan Pusat Penelitian Ilmiah Suriah yang diserang oleh serangan militer AS, Inggris dan Prancis untuk menghukum Presiden Bashar Assad atas dugaan serangan kimia terhadap warga sipil, di Barzeh, dekat Damaskus, Suriah, Sabtu, 14 April 2018. (Foto: AP/Hassan Ammar)
Home » Featured » Amerika » Terlepas dari Serangan Udara, Amerika Kalah dalam Permainan Jangka Panjang Suriah

Kecaman Presiden AS Donald Trump terhadap serangan kimia mengekspos inkoherensi dan kontradiksi dari pendekatannya, serta kurangnya strategi nyata permainan jangka panjang di Suriah. Kini terasa bahaya nyata bahwa Suriah akan menjadi tempat terjadinya pembantaian yang bahkan mungkin lebih mengerikan daripada pernah terjadi di sana sejak 2011.

    Baca juga: 7 Hal Penting Terkait Serangan Udara Suriah oleh Aliansi Amerika

Oleh: Fawas Gerges (Asia Times)

Amerika Serikat (AS), bersama dengan sekutunya Inggris dan Prancis, telah melakukan serangan udara kepada Suriah, namun langkah taktis ini tidak mengubah citra strategisnya dalam permainan jangka panjang di Suriah: Dadu yang dilemparkan telah menunjukkan bahwa misi AS di Suriah akan segera berakhir.

Dengannya, hilang pula kesempatan untuk terwujudnya sebuah resolusi yang damai dan permainan jangka panjang bagi perang sipil brutal yang telah berlansung selama tujuh tahun di negara tersebut. Serangan mengggunakan senjata kimia yang diduga telah diluncurkan pada minggu lalu oleh pasukan Presiden Bashar al-Assad di Douma, yang merupakan kota terakhir yang masih dikuasai kelompok pemberontak di wilayah Timur Ghouta, menunjukkan bagaimana berbahayanya prospek tersebut bagi Suriah dan dunia.

Kecaman Presiden AS Donald Trump terhadap serangan kimia mengekspos inkoherensi dan kontradiksi dari pendekatannya, serta kurangnya strategi nyata permainan jangka panjang di Suriah. Memerintahkan satu atau dua serangan terhadap pasukan Assad, seperti yang baru saja dilakukannya, tidak akan mengubah keseimbangan kekuasaan di Suriah, atau meningkatkan posisi Trump di negara yang dilanda perang tersebut, apalagi Timur Tengah pada umumnya.

Yang pasti, penasihat militer papan atas Trump telah membujuknya untuk mempertahankan 2.000 personel militer yang saat ini ditempatkan di Suriah. Tetapi ia telah membatasi tujuan Amerika di sana untuk menghilangkan keberadaan ISIS yang tersisa—upaya yang seharusnya memakan waktu sekitar enam bulan.

Dalam upayanya membatasi komitmen Amerika, Trump telah kehilangan kesempatan dalam permainan jangka panjang untuk membantu membentuk masa depan Suriah, memperkuat persepsi yang sedang tersebar luas—yang terjadi di antara sekutu dan musuh—bahwa kepemimpinan global AS sedang menurun. Dia juga mengabaikan krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di Suriah, yang merupakan krisis terburuk yang pernah terjadi sejak Perang Dunia II.

Penarikan Pasukan = Kekalahan Amerika

Ironisnya, pendekatan sempit ini juga merongrong upaya untuk mencapai satu-satunya tujuan Trump, karena kekalahan yang langgeng dari ISIS dan para jihadis lainnya akan menuntut transisi politik yang kredibel yang mengakhiri perang sipil secara permanen. Transisi semacam itu hanya mungkin diwujudkan melalui keterlibatan diplomatik oleh para aktor yang memiliki kepentingan di Suriah.

Dengan penarikan yang dilakukan Trump menyiratkan bahwa AS dan sekutunya telah kalah dalam perang, Assad sudah merasa berani untuk maju—dengan dukungan Rusia dan Iran—mewujudkan rencananya untuk merebut kembali wilayah yang masih dikuasai pemberontak dengan segala cara. Setelah menetapkan “fakta di lapangan,” Assad dan sekutunya akan mampu memberikan sebuah kenyataan yang harus dihadapi oleh dunia: Assad tetap berkuasa, tanpa membuat konsesi nyata kepada oposisi.

Para aktor lokal dan regional yang menempatkan keyakinan mereka pada komitmen Amerika akan membayar harga yang sangat mahal. Secara khusus, Kurdi—sekutu Amerika yang paling dapat diandalkan dan efektif dalam perang melawan ISIS—kemungkinan akan ditinggalkan sendirian, meskipun ada jaminan resmi AS tentang pengaturan keamanan setelah penarikan AS.

Belum-belum, kelompok Kurdi telah mengkritik pemerintahan Trump karena mengorbankan mereka di altar hubungan strategis Amerika dengan Turki. AS menutup mata terhadap invasi dan pendudukan Turki baru-baru ini di kota Afrin yang dikuasai Kurdi di Suriah barat laut, yang menyebabkan pembantaian lebih dari 1.000 Kurdi, termasuk sejumlah warga sipil.

Penarikan AS menyebabkan kelompok Kurdi mungkin merasa mereka harus bersekutu dengan Assad untuk mencari perlindungan. Ratusan pejuang Kurdi telah meninggalkan perang melawan ISIS di timur laut Suriah, melakukan perjalanan ke Afrin untuk melawan serangan gabungan Turki dan kelompok sempalan pemberontak Suriah. Beberapa pemuda Kurdi mulai bergabung dengan unit paramiliter Assad untuk membalas kekalahan di Afrin.

    Baca juga: Foto-foto Serangan Udara Amerika atas Suriah Dirilis

Tetapi ini akan menjadi pertempuran yang sulit, karena kepergian Amerika kemungkinan akan memperkuat pengaruh Turki lebih jauh. Pada akhirnya, tanpa AS, kekuatan asing utama lainnya dalam konflik Suriah—Turki, Rusia, dan Iran—akan dapat mengkonsolidasikan lingkup pengaruh mereka dan membagi rampasan rekonstruksi pasca-perang di antara mereka sendiri. Sementara kepentingan khusus mereka mungkin berbeda, ketiga negara itu berbagi visi mengenai pembagian “lunak” Suriah yang menjadikan Assad dan para pemberontak sekedar proksi belaka.

Rusia dan Iran jadi pemenang terbesar

Rusia dan Iran akan menjadi dua pemenang terbesar. Presiden Rusia Vladimir Putin adalah raja yang campur tangan militernya yang tepat waktu telah menyelamatkan rezim Assad dari kekalahan dan mengubah gelombang perang sehingga menguntungkannya. Sementara AS hampir tidak terlihat di Suriah, Rusia ada di mana-mana, terus-menerus menata ulang potongan-potongan di papan catur konflik.

Koordinasi Rusia dengan semua kekuatan regional utama—termasuk Turki, anggota NATO—membuktikan dinamisme (dan sinisme) dari kebijakan luar negeri Pemerintah Rusia. Ketika AS menarik kepentingan mereka di Suriah, hubungan militer dan ekonomi Turki ke Rusia hanya akan semakin mendalam.

Seperti Rusia, Iran telah menginvestasikan banyak darah dan uang untuk menyelamatkan rezim Assad—dan menuai hasil yang bagus. Iran sekarang adalah kekuatan regional yang paling berpengaruh di Suriah, seperti di Irak dan Lebanon. Tapi kesibukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh AS mungkin memberikan percikan yang memicu perang di seluruh wilayah.

Ada kekhawatiran yang sah bahwa Israel mungkin menggunakan penarikan pasukan AS sebagai dalih untuk mengintensifkan serangannya terhadap Iran dan Hizbullah di Suriah—keputusan yang dapat meningkat menjadi konflik regional habis-habisan, yang ditarik di AS, Irak, dan Arab Saudi. Saudi, saingan utama Iran untuk hegemoni regional.

Bahkan walaupun mengesampingkan permusuhan Trump terhadap perjanjian nuklir Iran 2015—yang menambahkan satu lagi sumber risiko ke dalam situasi yang sudah berbahaya—sekarang terasa bahaya nyata bahwa Suriah akan menjadi tempat terjadinya pembantaian yang bahkan lebih mengerikan daripada pernah terjadi di sana sejak 2011.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Seorang tentara Suriah memfilmkan kerusakan Pusat Penelitian Ilmiah Suriah yang diserang oleh serangan militer AS, Inggris dan Prancis untuk menghukum Presiden Bashar Assad atas dugaan serangan kimia terhadap warga sipil, di Barzeh, dekat Damaskus, Suriah, Sabtu, 14 April 2018. (Foto: AP/Hassan Ammar)

Terlepas dari Serangan Udara, Amerika Kalah dalam Permainan Jangka Panjang Suriah
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top