Terorisme
Berita Politik Indonesia

Terorisme di Indonesia: Bagaimana ISIS Kumpulkan Dukungan

Home » Berita Politik Indonesia » Terorisme di Indonesia: Bagaimana ISIS Kumpulkan Dukungan

ISIS kian mengumpulkan dukungan dengan meningkatnya serangan terorisme di Indonesia.  ISIS meningkatkan upaya propagandanya di Asia Tenggara setelah serangan Jakarta tahun 2016. Kelompok ini menggunakan orang-orang Indonesia dalam video-videonya untuk mengancam pemerintah dan polisi, dan mendesak para pendukung untuk melakukan serangan lebih lanjut. Pada tahun 2017, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa ISIS telah menyebar ke hampir setiap provinsi di negara itu.

    Baca juga: Aksi Terorisme Pertama di Penjara Indonesia: Apa Pemicunya dan Bagaimana Mencegahnya

Oleh: BBC

Indonesia—negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia—termasuk di antara beberapa negara di Asia Tenggara yang telah mengalami serangan dalam beberapa tahun terakhir oleh kelompok-kelompok terorisme yang disebut-sebut terkait dengan ISIS.

Negara itu—bersama dengan Malaysia dan Singapura—memperingatkan pada tahun 2015 bahwa pertanyaannya adalah kapan, dan bukannya apakah, serangan yang terkait dengan kelompok terorisme itu akan terjadi di wilayah tersebut.

Kemudian, pada Januari 2016, serangkaian ledakan dan penembakan di jantung ibu kota Indonesia, Jakarta, menewaskan empat warga sipil dan empat penyerang. Itu adalah serangan pertama di negara tersebut yang terkait dengan ISIS.

Para penyerang di Jakarta kemudian disebut-sebut menjadi bagian dari kelompok militan Jemaah Ansharut Daulah (JAD) yang berbasis di Indonesia, yang sebelumnya telah berjanji setia kepada ISIS.

Sejak itu, ISIS terus menarik para calon jihadis di seluruh Asia Tenggara.

Bagaimana ISIS pengaruhi kawasan tersebut?

ISIS meningkatkan upaya propagandanya di Asia Tenggara setelah serangan Jakarta. Kelompok ini menggunakan orang-orang Indonesia dalam video-videonya untuk mengancam pemerintah dan polisi, dan mendesak para pendukung untuk melakukan serangan lebih lanjut.

Pada tahun 2017, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa ISIS telah menyebar ke hampir setiap provinsi di negara itu.

Generasi radikal saat ini adalah para pendatang baru yang mendapatkan indoktrinasi mereka dari internet dan situs jihadis, atau pengikut gerakan radikal lama tetapi dengan sedikit ikatan dengan generasi yang lebih tua.

Para ahli mengatakan bahwa setelah melihat para pendahulu mereka yang terlalu penakut, mereka kemudian memutuskan untuk membagi diri menjadi kelompok kecil baru, yang secara efektif berada di bawah radar polisi.

Hingga 30 kelompok Indonesia diketahui telah berjanji setia kepada ISIS dengan beberapa ambisi yang sebelumnya disuarakan untuk mendirikan provinsi ISIS resmi di Asia Tenggara.

Ratusan orang Indonesia juga diyakini telah meninggalkan negara itu untuk bertempur dengan kelompok tersebut di Suriah dan Irak.

Walau banyak pemimpin tinggi militan yang telah terbunuh atau tertangkap, sel-sel yang terinspirasi oleh ISIS tetap ada dan menjadi ancaman berkelanjutan, yang dipengaruhi oleh para pemimpin baik di dalam maupun di luar negeri.

Aman Abdurrahman—pemimpin JAD—diyakini memiliki pengaruh signifikan di kalangan jihadis di Indonesia, meskipun ditahan di negara itu selama 12 tahun terakhir.

Dia saat ini diadili karena menghasut para pengikut untuk melakukan tindakan terorisme saat berada di balik jeruji, di pusat penahanan yang telah digambarkan oleh para analis sebagai tempat berkembang biak bagi militan pro-ISIS.

Bagaimana tanggapan Indonesia?

Setelah serangan terburuk yang pernah terjadi di Indonesia pada tahun 2002—ketika 202 orang tewas oleh gerilyawan terkait al-Qaeda dalam dua pengeboman di luar sebuah bar dan klub malam di Bali—pihak berwenang melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok ekstremis.

Terorisme di Indonesia: Bagaimana ISIS Kumpulkan Dukungan

Sebuah ledakan bom yang menargetkan klub malam di pulau Bali pada tahun 2002 menewaskan lebih dari 200 orang. (Foto: Getty Images)

Ini melibatkan kombinasi penangkapan dan pembunuhan terarah, di samping program deradikalisasi yang berfokus untuk mengubah pola pikir orang Indonesia, dan memberikan pemasukan alternatif bagi beberapa militan yang dibebaskan.

Pihak berwenang Indonesia memenjarakan sekitar 800 militan dan membunuh lebih dari 100 militan sejak bom Bali. Tetapi hal itu tidak memberikan banyak keberhasilan dalam mereformasi mereka.

    Baca juga: Opini: Bagaimana Terorisme Berkembang di Asia Tenggara

Seiring para militan—beberapa di antaranya memiliki pengalaman medan perang yang signifikan—terus dibebaskan dari penjara, mereka dapat meningkatkan jajaran jihadis saat ini.

Sementara itu, polisi dikatakan telah mencegah sejumlah serangan melalui pengawasan mereka terhadap personel radikal yang diketahui.

Serangan apa yang telah terjadi di Indonesia?

Serangan terakhir—di mana sedikitnya 13 orang tewas dalam ledakan di tiga gereja di kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya—adalah yang paling mematikan sejak tahun 2005, ketika bom bunuh diri di Bali menewaskan lebih dari 200 orang.

Tetapi Indonesia telah mengalami sejumlah insiden mematikan terkait dengan militansi Islam selama bertahun-tahun:

  • 2002 (Oktober): Serangan bom di wilayah klub malam Pantai Kuta di Bali menewaskan 202 orang, kebanyakan dari mereka adalah turis.
  • 2003 (Agustus): Empat belas orang terbunuh ketika sebuah bom mobil meledak di luar Hotel Marriott di Jakarta.
  • 2004 (September): Serangan bom mobil lain di luar Kedutaan Besar Australia di Jakarta membunuh sembilan orang dan melukai lebih dari 180 orang.
  • 2005 (Oktober): Tiga bom bunuh diri di Bali membunuh 23 orang, termasuk para pelaku bom.
  • 2009 (Juli): Serangan bom bunuh diri kembar di Hotel Marriott dan Ritz-Carlton di Jakarta membunuh sembilan orang dan melukai lebih banyak lagi.
  • 2016 (Januari): Serangan bom dan senjata di pusat kota Jakarta membunuh dua warga sipil dan lima penyerang. ISIS mengaku berada di balik serangan itu.
  • 2017 (Mei): Serangan bom bunuh diri di Jakarta menewaskan sedikitnya tiga petugas polisi dan melukai 10 orang.
  • 2018 (Februari): Beberapa orang terluka dalam serangan pedang di sebuah gereja di Sleman, Yogyakarta.
  • 2018 (Mei): Lima petugas polisi tewas di sebuah penjara keamanan tinggi dalam bentrokan dengan tahanan militan.

Keterangan foto utama: Serangan terbaru terhadap tiga gereja di Surabaya adalah yang paling mematikan di Indonesia sejak tahun 2005. (Foto: EPA)

Terorisme di Indonesia: Bagaimana ISIS Kumpulkan Dukungan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top