Kejatuhan Suharto
Berita Politik Indonesia

Terungkap: Bagaimana Bill Clinton Percepat Kejatuhan Suharto

Mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton bertemu dengan Presiden Indonesia Suharto dalam Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC di Vancouver, Kanada, dalam sebuah file foto tahun 1997. (Foto: AFP/Joyce Naltchayan)
Berita Internasional >> Terungkap: Bagaimana Bill Clinton Percepat Kejatuhan Suharto

Transkrip telepon tahun 1998 yang terungkap, menunjukkan bahwa Presiden AS saat itu membujuk mantan Presiden Indonesia yang paling lama berkuasa, Suharto, untuk menandatangani perjanjian dana talangan IMF yang mempercepat kejatuhan Suharto. Walau tidak ada yang mengatakan bahwa sejarah pasti akan terulang, namun ekonomi yang goyah dan mata uang yang jatuh dapat memberi konsekuensi politik bagi Jokowi jika pemerintah tak mampu menanggulanginya jelang Pilpres 2019.

Baca juga: Dokumen Lama Ungkap Peran Amerika & IMF Sebabkan Kejatuhan Suharto

Oleh: John McBeth (Asia Times)

Foto ikonik yang menampilkan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Michel Camdessus berdiri di dekat mantan Presiden Suharto—dengan lengan terlipat seperti seorang guru sekolah yang marah—dirilis untuk melambangkan kejatuhan pemimpin Indonesia yang telah lama menjabat.

Saat itu adalah tanggal 15 Januari 1998, saat krisis keuangan Asia yang memalukan, dan IMF akhirnya menekan Suharto untuk menandatangani perjanjian dana talangan sebesar $43 miliar, yang secara efektif mempercepat keruntuhan rezim Orde Barunya yang sudah berdiri selama 32 tahun, empat bulan kemudian.

Yang mungkin tidak banyak orang tahu adalah, peran Presiden Amerika Serikat (AS) saat itu, Bill Clinton, dalam meyakinkan Suharto untuk menerima paket langkah-langkah penghematan IMF—termasuk ‘lonceng kematian’ berupa proyek mobil nasional Timor dan monopoli cengkeh, yang keduanya dikendalikan oleh putra bungsunya, Tommy Suharto.

Meskipun campur tangan Clinton bukanlah rahasia, namun transkrip dari tiga percakapan telepon yang baru-baru ini dideklarasikan menunjukkan betapa persuasifnya pemimpin AS tersebut dalam meyakinkan Suharto bahwa ia harus melakukan sesuatu yang sulit dan tak menyenangkan, ketika nilai tukar rupiah jatuh dari Rp2.500 menjadi lebih dari Rp16.000 terhadap dolar AS.

Pada akhirnya, reformasi tersebut hanya memperburuk krisis, di mana dengan kejamnya Perdana Menteri Australia Paul Keating—yang telah menjalin hubungan dekat dengan Pemimpin Indonesia tersebut—mengklaim bahwa Departemen Keuangan AS “dengan sengaja menggunakan keruntuhan ekonomi sebagai sarana untuk mengatur kejatuhan Suharto.”

Mantan Menteri Luar Negeri AS Lawrence Eagleburger memiliki penilaian serupa, setelah pengunduran diri Suharto yang dramatis pada tanggal 21 Mei 1998: “Kami cukup pandai karena kami mendukung IMF saat menggulingkan (Suharto). Apakah itu cara yang bijaksana untuk dilakukan, adalah masalah lain.”

Bahkan Camdessus yang tak kenal ampun—di mana gayanya yang seperti seorang kepala sekolah pada upacara penandatanganan, meninggalkan kesan yang abadi di antara banyak orang Indonesia yang merasa malu—mengatakan pada saat pensiunnya: “Kami menciptakan kondisi yang mengharuskan Suharto untuk meninggalkan jabatannya.”

Terungkap: Bagaimana Bill Clinton Percepat Kejatuhan Suharto

Mantan Presiden Indonesia Suharto menandatangani surat perjanjian di hadapan Direktur Jenderal IMF Michel Camdessus di Jakarta. (Foto: AFP/Agus Lolong)

Perilisan transkrip dan dokumen-dokumen AS lainnya dari era itu, terjadi hanya dua bulan sebelum lebih dari 15 ribu delegasi berkumpul untuk konferensi tahunan IMF-World Bank Group di Bali, pada kali keempat pertemuan tingkat tinggi itu diselenggarakan di Asia Tenggara.

Yang sangat mengkhawatirkan bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini dalam persiapan untuk Pemilihan 2019 adalah, bahwa nilai tukar rupiah sekarang berada di Rp14.490 per dolar—berada di level terendah sejak krisis moneter 1997-1988—meskipun bank sentral (Bank Indonesia) membelanjakan dana sebesar $12 miliar dalam beberapa bulan terakhir untuk menopang nilai mata uang.

Itu sangat mengkhawatirkan, mengingat utang negara dalam denominasi dolar AS yang sangat tinggi. Walau tidak ada yang mengatakan bahwa sejarah pasti akan terulang, namun ekonomi yang goyah dan mata uang yang jatuh dapat memberi konsekuensi politik bagi Jokowi jika pemerintah tak mampu menanggulanginya menjelang pemilihan presiden dan parlemen pada bulan April mendatang.

Clinton pertama kali menelepon Suharto pada tanggal 8 Januari 1998, untuk mendesaknya mendukung reformasi ekonomi dan untuk menjaga suku bunga tetap tinggi sampai rupiah mulai stabil. Dia juga menawarkan jasa Deputi Menteri Keuangan Larry Summers sebagai konsultan untuk membantu dalam proses reformasi.

Hari berikutnya—dokumen yang bocor menunjukkan—Menteri Perdagangan dan Industri Indonesia Tunky Ariwibowo mengatakan kepada Duta Besar AS untuk Jakarta Stapleton Roy, bahwa Suharto terkesan dengan Clinton dan wawasannya tentang bagaimana masyarakat internasional memandang situasi Indonesia.

Panggilan telepon lain terjadi pada tanggal 15 Januari 1998, di mana Suharto menguraikan rencana rinci untuk melaksanakan perjanjian dengan IMF dan mereformasi sistem perbankan pusat dan swasta, yang saat itu berada dalam kekacauan setelah penutupan 16 bank milik pribadi memicu ketidakstabilan di lembaga-lembaga keuangan negara yang lain.

Terungkap: Bagaimana Bill Clinton Percepat Kejatuhan Suharto

Para demonstran anti-Suharto dalam foto file. (Foto: Facebook)

Presiden AS tersebut menelepon Suharto untuk ketiga kalinya dari Camp David pada tanggal 13 Februari 2018, kali ini untuk menentang pembentukan dewan mata uang, yang saat itu secara aktif dipromosikan oleh ekonom Amerika Steve Hanke. Clinton mengatakan bahwa AS dan negara G7 lainnya percaya bahwa itu akan memberikan risiko pada “segala sesuatu yang telah Anda capai.”

“Jika pasar gagal, itu akan menjadi tindakan yang secara serius menghabiskan cadangan Indonesia dan mempersulit upaya IMF dan masyarakat internasional untuk memberikan dukungan,” ia memperingatkan. “Ini akan menaikkan suku bunga, menyebabkan runtuhnya bank-bank dan sistem perbankan, dan spekulan akan lebih mudah untuk bergerak melawan rupiah.”

Clinton mengatakan, meskipun dewan mata uang berhasil di beberapa negara, namun itu tidak akan berhasil di Indonesia. Tindakan yang lebih baik, katanya, adalah memperkuat sistem perbankan, menyelesaikan utang sektor swasta, dan terus menerapkan reformasi IMF.

Beralih kepada apa yang ia sebut “komponen politik” untuk memulihkan kepercayaan pasar uang, ia berkata: “Seperti yang Anda dan saya telah bahas berkali-kali sebelumnya, penting untuk menjaga keterbukaan dan partisipasi publik secara luas dalam sistem politik, untuk mempertahankan pertumbuhan dan mengesankan catatan prestasi Anda.”

Sebagai tanggapannya, Suharto mengeluh bahwa tidak ada yang tampak berhasil dan situasi semakin buruk, meskipun pemerintah menghabiskan $10 miliar dari cadangan devisanya yang sudah sangat habis untuk menopang rupiah. “Jika kita terus campur tangan, kita akan menghabiskan cadangan kita,” katanya.

Terungkap: Bagaimana Bill Clinton Percepat Kejatuhan Suharto

Tumpukan rupiah Indonesia. (Foto: Reuters/Supri)

Presiden Indonesia tersebut mengatakan bahwa sementara dewan mata uang sedang dipertimbangkan, ia berpikiran sama dengan Clinton tentang “risiko besar” yang akan diambil. Namun dia mengekspresikan frustrasi yang jelas: “Jika dewan mata uang tidak dibentuk, apa alternatifnya? Bagaimana kita menghentikan jatuhnya rupiah?”

“Kita perlu membuat keputusan segera karena orang-orang menuntut agar presiden mereka melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi dan menyelamatkan negara,” lanjutnya, dan mendesak Clinton agar G7 lebih memperhatikan krisis ini. “Orang-orang Indonesia melihat IMF sebagai penyelamat yang terlambat.”

Pada akhirnya, Suharto meninggalkan gagasan dewan mata uang, tetapi selama tiga bulan berikutnya, peristiwa-peristiwa politik akhirnya menyusulnya, yang berpuncak pada penembakan yang ditargetkan terhadap empat demonstran di Universitas Trisakti di Jakarta, yang pada gilirannya memicu kerusuhan dan penjarahan di seluruh ibu kota Indonesia.

Baca juga: Indonesia 20 Tahun Setelah Turunnya Suharto

Sebuah dokumen yang baru dirilis menunjukkan adanya pertemuan antara para pejabat AS dan pemimpin oposisi Megawati Sukarnoputri pada tanggal 4 April 1998, di mana ada kesepakatan umum bahwa rencana IMF akan menguntungkan Suharto dalam jangka pendek, tetapi akan membahayakan kekuasaannya dalam jangka panjang. Itu adalah contoh lain dari seberapa jauh penilaian yang paling penting saat itu.

Kalau dipikir-pikir, selama ekonomi tetap berada di jalurnya, Suharto aman. Bahkan penilaian intelijen internal melihat dia bisa mempertahankan kekuasaan pada tahun 2009, pada titik mana dia akan berusia 88 tahun.

Namun, tidak ada yang meramalkan, betapa cepatnya semua itu bisa terurai—pada kecepatan yang sama membingungkannya seperti mata uang rupiah yang jatuh.

Keterangan foto utama: Mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton bertemu dengan Presiden Indonesia Suharto dalam Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC di Vancouver, Kanada, dalam sebuah file foto tahun 1997. (Foto: AFP/Joyce Naltchayan)

Terungkap: Bagaimana Bill Clinton Percepat Kejatuhan Suharto

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top