Perang Dagang
Asia

Tindakan Penyeimbangan China: Ekonomi Melambat, Utang, dan Perang Dagang

Berita Internasional >> Tindakan Penyeimbangan China: Ekonomi Melambat, Utang, dan Perang Dagang

Pemerintah China sedang berusaha melakukan perlambatan ekonomi–yang terkontrol. Selain itu, perang dagang yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat juga menghambat ekonomi China. Para analis mengatakan tingkat pertumbuhan China akan jauh lebih tinggi jika AS tidak memberlakukan tarif hukuman tahun lalu terhadap ekspornya senilai lebih dari $200 miliar.

Baca juga: Tak Ada Optimisme dalam Perang Dagang ‘All-out’ Amerika vs China

Oleh: Azhar Sukri (Al Jazeera)

Dengan standar paling normal, perlambatan ekonomi seperti yang diumumkan pemerintah China pada hari Senin (21/1) seharusnya memicu alarm untuk pasar keuangan. China mengatakan produk domestik brutonya (PDB) meningkat 6,6 persen tahun lalu.

Terakhir kali China mengalami tingkat pertumbuhan yang lambat adalah pada tahun 1990. Saat itu, China menjadi ekonomi terbesar ke-10 di dunia; hari ini, China menjadi nomor dua dan menyusul Amerika Serikat.

Tetapi perlambatan ini telah direkayasa oleh pemerintah China, dan angka pertumbuhan terbaru datang sebagai kejutan kecil bagi para ekonom. China tidak punya banyak pilihan. China perlu mengendalikan menumpuknya utang dalam beberapa tahun terakhir untuk mendorong kenaikannya yang spektakuler. Menurut perkiraan, total utang China sekitar 300 persen dari ukuran ekonominya.

Pemerintah China sekarang tengah berusaha melakukan apa yang oleh para ekonom sebut sebagai “pendaratan lunak”. Artinya, China ingin ekonominya melambat, tetapi tidak terlalu tajam. China telah memulihkan beberapa batasan pada pinjaman bank dan pengeluaran infrastruktur. Langkah-langkah ini akan menjadi stimulus ekonomi, tetapi stimulus yang jauh lebih lemah dari pada perlambatan sebelumnya.

“Jika mereka mengeluarkan stimulus yang kuat, stimulus itu akan menciptakan reaksi negatif dalam hal pengelolaan risiko kredit dan keuangan China secara keseluruhan,” kata Vishnu Varathan, kepala ekonomi dan strategi untuk Asia di Mizuho Bank di Singapura, kepada Al Jazeera.

Komplikasi perang dagang

Dan kemudian ada perang dagang dengan AS. Perang dagang itu membuat tindakan perimbangan ekonomi pemerintah China yang sudah rumit menjadi semakin genting. Para analis mengatakan tingkat pertumbuhan China akan jauh lebih tinggi jika AS tidak memberlakukan tarif hukuman tahun lalu terhadap ekspornya senilai lebih dari $200 miliar. China telah membalas dengan memberlakukan tarifnya sendiri untuk ekspor AS.

“Tekanan pada ekonomi meningkat,” kata Ning Jizhe, direktur Biro Statistik Nasional China. “Namun ketahanan dan kemampuan ekonomi China untuk menahan guncangan dan tren stabilitas jangka panjang tidak akan berubah,” tambahnya.

Tetapi efek perlambatan ekonomi China sudah dirasakan di seluruh dunia. Apple, pembuat iPhone, kehilangan $55 miliar dari nilai pasar pada 2 Januari setelah CEO Tim Cook memperingatkan akan melambatnya penjualan di China, menyalahkan perang dagang. Saingannya dari Korea Selatan,  Samsung, membuat peringatan serupa beberapa hari kemudian.

Perundingan berisiko tinggi

Perundingan perdagangan selanjutnya antara AS dan China akan berlangsung pada 30 Januari. Para ekonom mengatakan penundaan dalam menyelesaikan perselisihan itu dapat membahayakan ekonomi China lebih lanjut.

“Jika tidak ada kesepakatan perdagangan dalam periode waktu yang masuk akal, itu berarti AS akan kembali ke rencana semula yang akan meningkatkan tarif di China dari 10 persen menjadi 25 persen terhadap produk mereka senilai $200 miliar,” kata Rajiv Biswas, kepala ekonom di perusahaan riset IHS Markit, kepada Al Jazeera.

Baca juga: Perang Dagang: Kelemahan China di Balik Sikap Sombong Xi

“Ada juga kabar bahwa Presiden (Donald) Trump berencana untuk memperluas tarif untuk semua ekspor China yang tersisa yang saat ini tidak memiliki tarif khusus ini. Jika tarif dierlakukan untuk semua ekspor, maka tentu saja akan ada kerugian yang cukup besar untuk ekspor China,” katanya.

Biswas mengatakan dia memperkirakan China akan tumbuh sebesar 6,3 persen pada tahun 2019 dengan harapan bahwa akan ada kesepakatan dagang, atau diperpanjangnya gencatan senjata sementara yang akan berakhir pada 2 Maret nanti.

Tetapi setiap eskalasi besar dapat menghasilkan pelambatan yang jauh lebih tajam.

Keterangan foto utama: Perang dagang AS-China merugikan ekonomi China (Foto: Reuters)

Tindakan Penyeimbangan China: Ekonomi Melambat, Utang, dan Perang Dagang

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top