Rudal Korut
Global

Tinjauan Pertahanan Trump: Rudal Korea Utara Jadi ‘Ancaman Luar Biasa’

Hwasong-15 ICBM milik Korea Utara. (Foto: KCNA via Reuters)
Berita Internasional >> Tinjauan Pertahanan Trump: Rudal Korea Utara Jadi ‘Ancaman Luar Biasa’

Dalam Tinjauan Pertahanan Rudal-nya, Trump menyatakan bahwa Korea Utara masih menjadi ancaman yang luar biasa. Hal ini terlepas dari cuitan Trump di Twitter setelah KTT Juni 2018 di Singapura, bahwa “tidak ada lagi ancaman nuklir dari Korea Utara.” Trump juga secara khusus menyebutkan kemampuan Iran. Laporan itu mengatakan bahwa Iran memiliki kekuatan rudal balistik terbesar di Timur Tengah.

Baca juga: Pangkalan Rudal Korea Utara Lainnya Terungkap, KTT Kim-Trump Dipertanyakan

Oleh: Phil Stewart (Reuters/The Sydney Morning Herald)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meluncurkan strategi pertahanan rudal AS yang diperbarui pada Kamis (17/1), yang menyebut Korea Utara sebagai ancaman yang luar biasa, “tujuh bulan setelah ia menyatakan bahwa ancaman yang ditimbulkan oleh Pyongyang telah disingkirkan.”

Rencana itu—yang juga merinci kekhawatiran tentang kemampuan Iran, Rusia, dan China yang berkembang—menyerukan pengembangan sensor berbasis ruang untuk mendeteksi rudal musuh yang masuk, dan mengeksplorasi senjata berbasis ruang untuk menembak jatuh rudal, di antara langkah-langkah lain untuk melindungi Amerika Serikat.

Pengakuan terbuka dalam Tinjauan Pertahanan Rudal terkait rencana AS untuk melawan kemajuan teknologi Rusia dan China tersebut, kemungkinan akan membuat negara-negara itu khawatir. Itu menandai perubahan dari pendekatan yang diambil oleh pendahulu Demokrat, Barack Obama, untuk meredam kekhawatiran oleh negara-negara nuklir utama tentang perluasan pertahanan rudal AS.

“Tujuan kami sederhana: Untuk memastikan bahwa kami dapat mendeteksi dan menghancurkan rudal yang diluncurkan terhadap Amerika Serikat—di mana saja, kapan saja, di mana pun,” kata Trump di Pentagon.

Trump tidak menyebut ancaman rudal Korut dalam sambutannya. Namun pelaksana tugas Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan, menyebut rudal Korea Utara sebagai “kekhawatiran signifikan.”

“Walau terdapat kemungkinan jalan baru menuju perdamaian, namun Korea Utara terus menjadi ancaman yang luar biasa dan Amerika Serikat harus tetap waspada,” kata laporan itu.

Bagi Trump—yang berusaha menghidupkan kembali upaya untuk membujuk Korea Utara agar meninggalkan persenjataan nuklirnya—perilisan laporan itu terjadi pada saat yang canggung. Utusan senior Korea Utara Kim Yong Chol menuju ke Washington pada Kamis (17/1), untuk pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo pada Jumat (18/1) dan kemungkinan pertemuan dengan Trump, menurut seseorang yang akrab dengan masalah tersebut.

Pembicaraan itu dapat mengarah pada pengumuman rencana untuk KTT Trump kedua dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, setelah pertemuan mereka tahun lalu di Singapura, kata sumber itu kepada Reuters.

Hanoi sedang bersiap-siap menerima Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un untuk kunjungan kenegaraan, dua sumber mengatakan kepada Reuters pada Kamis (17/1), sementara para pejabat dan diplomat mengatakan bahwa Vietnam ingin menjadi tuan rumah pertemuan puncak kedua antara Kim dan Trump.

Trump menulis di Twitter setelah KTT Juni 2018, bahwa “tidak ada lagi ancaman nuklir dari Korea Utara.”

KTT Kim-Trump

Presiden Trump bertemu dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Singapura pada tanggal 12 Juni. Setelah KTT, Trump mengatakan “tidak ada lagi ancaman nuklir” dari Korea Utara. Laporan intelijen Amerika Serikat yang terbaru mengatakan sebaliknya. (Foto: AP/Evan Vucci)

Tinjauan Pertahanan Rudal (Missile Defense Review) merekomendasikan untuk mempelajari teknologi eksperimental, termasuk persenjataan berbasis ruang yang mungkin dapat menembak jatuh rudal musuh—sebuah kemunduran bagi inisiatif “Star Wars” tahun 1980-an oleh mantan Presiden Ronald Reagan.

Ia menyerukan investasi dalam sensor berbasis ruang yang dapat mendeteksi dan melacak rudal yang masuk dengan lebih baik, dan mungkin melawan teknologi hipersonik super cepat—area di mana China telah membuat kemajuan besar dan Rusia aktif bekerja menuju ke sana.

“AS sekarang akan menyesuaikan posturnya untuk juga bertahan melawan serangan rudal termasuk rudal jelajah dan hipersonik,” kata Trump.

Sistem pertahanan rudal AS hanyalah sebuah “proyek penyelamatan wajah” yang tidak menakuti China dan Rusia, Global Times—sebuah tabloid pemerintah China—menulis pada Jumat (18/1).

“Kemajuan Rusia dan China dalam mengembangkan rudal hipersonik super cepat, khususnya membuat sistem pertahanan rudal AS kurang mampu dari yang diinginkan,” kata surat kabar itu dalam sebuah editorial.

Dokumen AS itu juga menunjuk proyek-proyek oleh perusahaan industri pertahanan raksasa AS termasuk Raytheon Co, Lockheed Martin, dan Boeing Co.

“Kami berkomitmen untuk membangun program pertahanan rudal yang dapat melindungi setiap kota di Amerika Serikat. Dan kami tidak akan pernah menegosiasikan hak kami untuk melakukan ini,” kata Trump.

Seorang legislator senior Rusia, Viktor Bondarev, mengatakan setelah pengumuman Trump, bahwa strategi baru AS akan meningkatkan ketegangan global, menurut kantor berita Interfax.

Amerika Serikat sebelumnya mengumumkan rencana untuk meningkatkan jumlah pencegat berbasis darat selama beberapa tahun ke depan, menaikkan jumlah yang ditempatkan di Fort Greely, Alaska, menjadi 64 dari 44. Greely, kata laporan itu, “memiliki potensi hingga tambahan 40 pencegat.” Amerika Serikat juga sedang mencari lokasi tambahan untuk menampung pencegat rudal.

Baca juga: AS Belum Punya Sistem Keamanan untuk Tahan Serangan Rudal Korea Utara

Trump secara khusus menyebutkan kemampuan Iran. Laporan itu mengatakan bahwa Iran memiliki kekuatan rudal balistik terbesar di Timur Tengah.

“Keinginannya untuk melakukan perlawanan strategis terhadap Amerika Serikat dapat mendorongnya untuk mengirim ICBM,” kata laporan itu, merujuk pada rudal balistik antarbenua.

Para pejabat AS mengatakan bahwa pertahanan rudal Amerika terutama dirancang untuk melawan serangan dari negara-negara dengan persenjataan yang lebih terbatas seperti Korea Utara, yang menurut para pejabat intelijen AS masih memajukan program nuklirnya meskipun ada penghentian peluncuran rudal tahun lalu.

Para pejabat Pentagon berpendapat bahwa pertahanan rudal Amerika terlalu sedikit untuk secara efektif melawan serangan pertama besar-besaran di tanah air AS, oleh kekuatan nuklir canggih seperti Rusia atau China. Washington berharap negara-negara itu akan dapat dicegah oleh serangan persenjataan nuklir Amerika.

Keterangan foto utama: Hwasong-15 ICBM milik Korea Utara. (Foto: KCNA via Reuters)

Tinjauan Pertahanan Trump: Rudal Korea Utara Jadi ‘Ancaman Luar Biasa’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top