Islamofobia
Berita Politik Indonesia

Tolak Perda Syariah, PSI Dituduh Islamofobia

Pemimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, berfoto di kantornya di markas besar PSI di Jakarta, Indonesia, 19 Maret 2018. (Foto: Reuters/Darren Whiteside)
Berita Internasional >> Tolak Perda Syariah, PSI Dituduh Islamofobia

Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, diperiksa polisi terkait tuduhan Islamofobia dan penistaan agama, setelah PSI menolak Perda Syariah. Eggi Sudjana—pengacara dan politisi dari sebuah partai Islam—mengatakan kepada Reuters bahwa komentar Grace melanggar undang-undang tentang ujaran kebencian dan menyerang agama. Dia mendesak Grace untuk meminta maaf. Namun Grace mengatakan bahwa pidatonya mendorong untuk menerapkan kesetaraan dan keadilan bagi semua warga negara di hadapan hukum.

Baca juga: Indonesia Negara Hukum, Tidak Perlu Perda Agama

Oleh: Agustinus Beo Da Costa (Reuters)

Polisi di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim, telah memeriksa pimpinan salah satu partai terbaru dan paling progresif, yang berjuang melawan tuduhan “Islamofobia” dari politisi saingan, setelah dia mengatakan bahwa partainya menentang pertumbuhan peraturan yang berdasarkan agama.

Indonesia secara resmi bersifat sekuler dan memiliki tradisi pluralisme, tetapi Islam telah semakin merayap ke dalam politik, di negara yang memiliki agama minoritas Kristen, Hindu, dan agama minoritas lainnya yang signifikan.

Grace Natalie membentuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI)—yang sering dijuluki “partai milenal”—pada tahun 2014 untuk menawarkan alternatif bagi pemilih muda yang kecewa oleh partai tradisional yang sering dijalankan oleh elit yang berakar.

Dalam pidato pekan ini yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Natalie—yang beretnis China—berbicara menentang intoleransi, mengatakan bahwa PSI tidak akan mendukung peraturan lokal berdasarkan hukum Islam atau kitab suci Kristen.

“Kami ingin kembali ke Konstitusi sehingga ada jaminan bagi semua warga negara, apa pun latar belakang mereka, atau agama yang mereka percayai, atau keyakinan yang mereka miliki,” kata Natalie, yang partainya adalah bagian dari koalisi yang mendukung upaya Jokowi maju untuk jabatan kedua dalam Pemilu Presiden 2019.

Polisi memeriksa Natalie menyusul pengaduan yang diajukan oleh Eggi Sudjana—pengacara dan politisi dari sebuah partai Islam—yang mengatakan kepada Reuters bahwa komentar Grace melanggar undang-undang tentang ujaran kebencian dan menyerang agama. Dia mendesak Grace untuk meminta maaf.

Beberapa politisi saingan juga menuduhnya “Islamofobia”, sementara membela diberlakukannya peraturan berdasarkan syariah atau nilai-nilai agama.

Polisi masih menyelidiki untuk menentukan apakah ada undang-undang yang dilanggar, kata juru bicara Argo Yuwono.

Dalam sebuah pernyataan partai, Natalie mengatakan bahwa selama enam jam interogasi, dia mengatakan kepada polisi bahwa pidatonya mengacu pada “kesediaan untuk menerapkan kesetaraan dan keadilan bagi semua warga negara di hadapan hukum”.

Dia juga mengatakan bahwa itu didasarkan pada studi akademis yang menunjukkan bagaimana aturan berbasis agama dapat mempengaruhi perempuan dan kelompok minoritas.

Satu-satunya provinsi di Indonesia yang diizinkan untuk menegakkan hukum Islam adalah Aceh, tetapi daerah lain telah mengadopsi peraturan yang memberlakukan unsur-unsur syariah.

Peraturan semacam itu memecah-belah, kata Muhammad Abdullah Darraz, Direktur Maarif Institute, yang mempromosikan keharmonisan agama dan budaya, yang membela Natalie.

“Kami telah menyaksikan politik identitas baru-baru ini muncul dan memiliki potensi untuk memecah persatuan bangsa,” katanya.

Ideologi negara Indonesia termasuk persatuan nasional, keadilan sosial, dan demokrasi, bersama dengan keyakinan pada Tuhan, dan mengabadikan keragaman agama dalam sistem pemerintahan sekuler.

Baca juga: Opini: Jika Mengkritik Zionisme Anti-Semit, Mengapa Mengkritik Islam Bukan Islamofobia?

Tetapi ketegangan agama dan politik telah berputar dalam beberapa tahun terakhir, setelah para Islamis memimpin ratusan ribu orang untuk melakukan protes di Jakarta terhadap gubernur ibu kota saat itu, seorang Kristen beretnis China yang dituduh menghina Al-Quran.

Basuki Tjahaja Purnama—sekutu Jokowi—kalah dalam upayanya untuk terpilih kembali pada tahun 2017 dari saingan Muslim-nya, setelah kelompok radikal Front Pembela Islam (FPI) melakukan protes terhadapnya selama berbulan-bulan.

Dia dipenjara selama dua tahun karena penodaan agama.

Penulisan oleh Ed Davies; Penyuntingan oleh Clarence Fernandez.

Keterangan foto utama: Pemimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, berfoto di kantornya di markas besar PSI di Jakarta, Indonesia, 19 Maret 2018. (Foto: Reuters/Darren Whiteside)

Tolak Perda Syariah, PSI Dituduh Islamofobia

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top