Eropa

‘Troll’ Rusia di Balik Protes Rompi Kuning Prancis

Berita Internasional >> ‘Troll’ Rusia di Balik Protes Rompi Kuning Prancis

Troll media sosial asal Rusia dikabarkan ikut memperpanas protes rompi kuning—yang menjadi protes terbesar di Prancis dalam beberapa tahun kebelakang. Akhir pekan ini adalah minggu kelima para pengunjuk rasa turun ke jalan. DW berbicara kepada para ahli media sosial untuk menelusuri lebih lanjut.

Baca Juga: Polisi Banjiri Paris untuk Menahan Gerakan Rompi Kuning

Oleh: DW

Media Inggris dan Amerika Serikat (AS) pada awal Desember melaporkan bahwa troll media sosial asal Rusia nampaknya terlibat dalam mewujudukan aksi protes pasukan rompi kuning di Prancis, contohnya seperti menyebarluaskan informasi sesat seperti foto-foto protes palsu.

Media tersebut mengutip informasi yang diberikan oleh Aliansi Pengamanan Demokrasi (ASD), sebuah inisiatif yang dibentuk oleh German Marshall Fund (GMF) yang mengawasi akun twitter yang diduga berada dibawah pengaruh Rusia.

Selama kurang lebih seminggu, topik yang paling populer di antara akun-akun berafiliasi dengan Rusia tersebut adalah protes rompi kuning di Prancis (#giletsjaunes). Situs ASD menampilkan dasbor yang memberikan gambaran umum tentang kegiatan sekitar 600 akun Twitter semacam itu, yang menunjukkan tagar dan topik mana yang sedang tren dan sumber apa yang dikutip.

Nama-nama akun tersebut masih dirahasiakan. Situs ASD mengidentifikasi tiga jenis akun Twitter: yang secara terbuka pro-Rusia atau secara langsung terkait dengan Pemerintah Rusia, yang dioperasikan oleh pabrik-pabrik troll di dalam dan di luar Rusia, dan ketiga yaitu akun-akun yang dijalankan oleh individu di seluruh dunia yang berusaha “memperkuat” masalah Rusia. Akun-akun Twitter tersebut hampir secara eksklusif mengutip media yang didukung Pemerintah Rusia seperti RT dan Sputniknews.

Sebagian besar akun Twitter tersebut berfokus pada politik AS, jelas pakar media sosial GMF, Bret Schafer. Dia menekankan bahwa kebanyakan dari mereka menulis kicau dalam bahasa Inggris, yang berarti bahwa pengaruh mereka terhadap protes rompi kuning sebenarnya terbatas. “Apa yang dilakukan akun-akun ini adalah menyoroti topik-topik tertentu untuk mendiskreditkan Barat, dan membuang demokrasi liberal dalam citra yang negatif.”

Menabur Perselisihan

Maxime Audinet, dari Institut Hubungan Internasional Prancis (IFRI), memberikan pernyataan sependapat: “Kampanye informasi Rusia seharusnya tidak dilihat sebagai instrumen yang bertujuan untuk memobilisasi demonstran rompi kuning yang baru atau untuk mendorong kekerasan.” Sebaliknya, dia mengatakan bahwa “Pemberitaan Rusia berusaha untuk lebih memolarisasi debat publik dan untuk menciptakan kesan baik di Perancis maupun di luar negeri bahwa rompi kuning telah berhasil memecah belah Perancis dan membawanya ke jurang perang sipil.”

Baca Juga: Protes Rompi Kuning Paris, Prancis Pertimbangkan Status Darurat

Tatiana Stanovaya, seorang analis politik yang berbasis di Prancis, mendukung interpretasi tersebut. Dia mengatakan Rusia memanfaatkan kelemahan politik Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk menyebarkan informasi yang menunjukkan “penurunan Eropa, krisis demokrasi dan berkembangnya oposisi yang menentang pembangunan.” Namun, dia “tidak akan mengatakan ini memiliki banyak pengaruh.”

Apakah troll Rusia benar-benar menyasar Macron?

“Kegiatan media sosial Rusia terutama berfokus pada Presiden Macron, bukan kepada aktivitas rompi kuning,” kata Ben Nimmo, seorang ahli pertahanan informasi di Laboratorium Penelitian Digital Forensik Atlantic Council. Pada bulan November, ia menerbitkan laporan rinci tentang “Operasi Prancis” yang dilakukan oleh troll media sosial Rusia yang dicurigai. Sementara laporan yang berkaitan dengan Analisa waktu sebelum protes rompi kuning, itu memang mengandung detail mendalam.

Sesaat sebelum pemilihan paruh waktu AS, FBI menginformasikan kepada Facebook mengenai akun mencurigakan di platform mereka dan di Instagram (yang dimiliki oleh Facebook) yang dikendalikan dari luar negeri. Facebook menyelidiki akun tersebut dan menyimpulkan bahwa “perilaku tidak autentik terkoordinasi” telah terjadi, kemudian menutup 36 akun Facebook, enam halaman Facebook dan 99 akun Instagram.

Bersama dengan beberapa rekannya, Nimmo mampu merekonstruksi beberapa detail tentang akun yang diblokir. Sebagian besar akun tersebut menggunakan bahasa Inggris, meskipun 12 akun Instagram yang diblokir juga dijalankan dalam bahasa Prancis. Mereka memiliki sekitar 76.000 pengikut, dimana 12.400 di antaranya berbasis di Prancis, menurut Facebook. Sebagian besar tampaknya telah didirikan pada pertengahan 2017.

“Akun-akun dibuat seolah-olah mereka dijalankan oleh berbagai jenis orang: satu tampaknya dijalankan oleh seorang nasionalis, yang lain tampak seperti seorang ultrakomunis. Beberapa berpura-pura dijalankan oleh wanita Afrika,” Nimmo menjelaskan. Dia mengatakan bahwa sementara sebagian besar akun menyebarkan informasi “tidak berbahaya”, lima dari 12 akun Twitter menyerang Macron secara lisan dan dengan menyebarkan gambar yang merendahkan. Satu montase foto, misalnya, menggambarkan Macron sebagai budak pengemudi.

Facebook tidak mengungkapkan siapa sebenarnya yang mengontrol akun-akun ini. Dikatakan kegiatan tersebut mungkin terkait dengan Internet Research Agency [Eds .: sebuah perusahaan yang berbasis di Saint Petersburg yang dikenal di media barat sebagai pabrik troll], meskipun itu tidak pasti. Ben Nimmo percaya itu “mungkin” akun-akun itu “dioperasikan dari dalam Rusia.”

Penilaiannya adalah bahwa ini adalah “operasi” dalam tahap awal. “Presiden Macron adalah target paling jelas,” kata Nimmo. Menambahkan bahwa “itu tampak seperti upaya untuk merusak otoritasnya dan untuk mendapatkan sebanyak mungkin kelompok pengguna untuk secara pribadi tidak menyukainya.” Dia mengatakan Rusia telah menargetkan Macron di media sosial di masa lalu.

Nimmo beranggapan akun troll tersebut hanya ada sedikit karena troll Rusia tidak cukup mahir dalam bahasa Prancis, dan karena “operasi” tersebut baru saja dimulai. Dia ingat bahwa kegiatan daring Rusia di AS dimulai sekitar dua setengah tahun sebelum pemilihan presiden 2016. Itu membantu menempatkan operasi Perancis ke dalam perspektif. “Mereka tidak fokus pada rompi kuning, karena biasanya operasi semacam itu mengejar target jangka panjang,” ia menjelaskan. Dan target itu, katanya, adalah Macron sendiri.

Keterangan foto utama: Media Inggris dan Amerika Serikat (AS) pada awal Desember melaporkan bahwa troll media sosial asal Rusia nampaknya terlibat dalam mewujudukan aksi protes pasukan rompi kuning di Prancis. (Foto: Reuters/P. Van de Wouw)

‘Troll’ Rusia di Balik Protes Rompi Kuning Prancis

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top