Kurdi
Global

Trump Ancam ‘Akan Hancurkan Ekonomi Turki’ Jika Serang Kurdi

Berita Internasional >> Trump Ancam ‘Akan Hancurkan Ekonomi Turki’ Jika Serang Kurdi

Hubungan Amerika Serikat dan Turki kembali menegang, kali ini sehubungan para pejuang Kurdi. Oleh Turki, mereka dianggap sebagai kelompok teroris, sedangkan AS menganggapnya sebagai sekutu. Presiden Donald Trump menegaskan, akan menghancurkan ekonomi Turki, jika negara itu menyerang Kurdi setelah pasukan AS meninggalkan Suriah.

Baca juga: AS Pergi, Pasukan Suriah Bergerak Lindungi Kurdi dari Serangan Turki

Oleh: Thomas Gibbons-Neff (The New York Times)

Presiden Trump mengancam Turki pada Minggu (13/2) dengan sanksi ekonomi yang keras, jika Turki menyerang pasukan Kurdi di Suriah, setelah pasukan Amerika menarik diri dari negara itu dalam beberapa bulan mendatang.

“Akan menghancurkan Turki secara ekonomi jika mereka menyerang Kurdi,” kata Trump di Twitter, dan menunjukkan bahwa akan ada zona aman 20 mil di sekitar kelompok itu, setelah pasukan Amerika Serikat (AS) pergi. Dia menambahkan, “Demikian juga, tidak ingin Kurdi memprovokasi Turki.”

Tweet Trump menandai ancaman publik pertama terhadap Turki—sekutu NATO—atas Kurdi, dan tampaknya menawarkan selimut perlindungan bagi kelompok itu—sekelompok milisi yang didukung Amerika, dan dilihat oleh pemerintah Turki sebagai teroris.

Trump yang mengumumkan penarikan pasukan dari Suriah tanpa menjamin keamanan bagi suku Kurdi—yang telah membantu pasukan Amerika dalam melawan ISIS—telah menerima kritik tajam dari anggota parlemen. Tetapi tweet-nya pada Minggu (13/1), mengancam akan membatalkan upaya Menteri Luar Negeri Mike Pompeo untuk mencapai kesepakatan dengan Turki untuk melindungi mereka—sesuatu yang membuat Pompeo optimis, ketika ia berbicara dengan para wartawan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Minggu (13/1) pagi.

Setelah berbicara dengan rekannya dari Turki, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu, Pompeo mengatakan, dia “optimis bahwa kita dapat mencapai hasil yang baik,” meskipun rinciannya sedang dikerjakan.

Ibrahim Kalin—juru bicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan—menegaskan kembali dalam menanggapi tweet Trump, bahwa Turki menganggap para pejuang Kurdi sebagai teroris. “Turki mengharapkan AS untuk menghormati kemitraan strategis kita dan tidak ingin itu dibayangi oleh propaganda teroris,” tulisnya.

Tweet Trump mengancam akan membatalkan negosiasi antara Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan mitranya dari Turki, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu. (Foto: EPA/Jim Lo Scalzo via Shutterstock)

Turki—yang mengatakan pihaknya merencanakan serangan terhadap ISIS dan pasukan Kurdi di Suriah timur laut—berpendapat bahwa para pejuang Kurdi di Suriah adalah bagian dari sebuah front untuk Partai Pekerja Kurdistan yang terlarang, atau PKK, sebuah gerakan pemberontakan Kurdi di Turki.

Dalam tweet-nya pada Minggu (13/1), Trump juga menyebutkan untuk menyerang ISIS dari “pangkalan terdekat yang ada”, jika kelompok itu muncul kembali setelah penarikan Amerika—sesuatu yang ditakutkan para analis jika pasukan Amerika segera meninggalkan negara itu.

Pentagon telah menyarankan penempatan pasukan Operasi Khusus di Irak, di mana mereka dapat menyerang di Suriah jika diperlukan. Ada pertempuran sengit di Suriah di sekitar kota Hajin, di mana militan ISIS masih memegang beberapa wilayah. Wilayah yang mereka kuasai telah berkurang menjadi beberapa desa, setelah kelompok itu sebelumnya pernah memegang petak tanah yang kira-kira seukuran Inggris.

Tweet Trump hanyalah satu lagi hambatan dalam proses yang dipenuhi dengan pernyataan yang saling bertentangan dan jadwal yang tidak pasti, setelah presiden itu mengumumkan penarikan diri dari Suriah dalam 30 hari, pada akhir bulan lalu.

Keputusannya mendorong pengunduran diri dua pejabat tinggi pemerintahan, Menteri Pertahanan Jim Mattis dan Brett McGurk, utusan khusus presiden untuk koalisi yang memerangi ISIS.

Baca juga: Tinggalkan Kurdi di Suriah, AS Kirim Pesan Buruk untuk Sekutu Asia Timur

Trump kemudian setuju untuk memberi militer waktu sekitar empat bulan untuk mundur. Dan seminggu yang lalu, penasihat keamanan nasional, John R. Bolton, mengatakan bahwa penarikan itu bersyarat, yang mengindikasikan bahwa pasukan Amerika berpotensi berada di sana lebih lama lagi.

Pada Jumat (11/1), sebuah pernyataan yang samar-samar dari markas besar militer Amerika di Baghdad—yang mengawasi perang melawan ISIS—mengatakan bahwa penarikan sekitar 2.000 tentara Amerika di Suriah telah dimulai. Para pejabat militer kemudian mengklarifikasi bahwa hanya peralatan yang meninggalkan negara tersebut dan bukan pasukan.

Keterangan foto utama: Presiden Recep Tayyip Erdogan dari Turki. Seorang juru bicara Erdogan menanggapi tweet Presiden Trump pada Minggu (13/2), mengatakan bahwa Turki mengharapkan Amerika Serikat untuk “menghormati kemitraan strategis kita.” (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Adem Altan)

Trump Ancam ‘Akan Hancurkan Ekonomi Turki’ Jika Serang Kurdi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top