Trump Bukan Presiden Pertama Amerika yang Meremehkan G-7
Amerika

Trump Bukan Presiden Pertama Amerika yang Remehkan G-7

Kanselir Jerman Angela Merkel, dikelilingi oleh para pemimpin G-7 lainnya, berbicara dengan Presiden Amerika Donald Trump selama KTT G -7, La Malbaie, Kanada, 9 Juni 2018. (Foto: AP/Pemerintah Federal Jerman/ Jesco Denzel)
Home » Featured » Amerika » Trump Bukan Presiden Pertama Amerika yang Remehkan G-7

Kelemahan nyata kelompok G-7 bukanlah absennya Rusia, tetapi ketidak-hadiran China. Namun Presiden AS Donald Trump menuntut Rusia harus kembali bergabung. Tingkah laku Trump di pertemuan G-7 terbilang kasar, bahkan untuk standarnya yang tidak bermoral. Namun dia bukanlah presiden AS pertama yang merendahkan G-7.

    Baca juga: Trump Tinggalkan Pernyataan Bersama, KTT G7 Berakhir Kacau

Oleh: Richard Gowan (World Politics Review)

Haruskah kita benar-benar terkejut, atau bahkan tidak terlalu terkejut, ketika seorang presiden pemula Amerika mengacaukan kelompok yang terdiri dari tujuh negara industri dan menyarankan kekuatan non-Barat harus masuk ke klub tersebut?

Presiden Donald Trump mengacaukan pertemuan puncak G-7 akhir pekan ini dengan tidak hanya menjelek-jelekkan rekan-rekannya atas perdagangan, mengucilkan tuan rumah Kanada dengan amarah ekstra, tetapi juga menyatakan bahwa Rusia harus bergabung kembali dengan kelompok itu empat tahun setelah diusir karena perang Ukraina. Pemimpin G-7 lainnya jelas tidak senang.

Tingkah laku Trump terbilang kasar bahkan untuk standarnya yang tidak bermoral. Namun dia bukanlah pemimpin Amerika Serikat (AS) pertama yang mempertanyakan relevansi G-7.

Sama seperti Dewan Keamanan PBB yang bertumpu pada keseimbangan kekuasaan 1945, G-7 adalah artefak dari era Perang Dingin setelah itu. Pemerintahan Nixon dan sekutu-sekutu Barat utamanya membentuk kelompok itu untuk menghadapi kelesuan ekonomi pada pertengahan tahun 1970-an, tetapi manfaatnya selalu diragukan. Sejarawan Kristina Spohr mencatat bahwa Spectator, majalah mingguan Inggris, menyatakan diskusi pertamanya sebagai “lebih seperti pembicaraan kosong daripada berita hangat.”

G-7 tetap terkenal pada dekade terakhir Perang Dingin. Namun, penurunan ketegangan antara Timur-Barat menyebabkan kelompok itu terombang-ambing di tahun 1990-an. Pemerintahan Clinton mendorong sekutunya yang was-was untuk mengakui Rusia sebagai anggota klub pada tahun 1997 untuk mendukung Presiden Rusia saat itu, Boris Yeltsin, yang sedang berjuang keras pada saat itu.

G-7 melakukan upaya tentatif untuk membuka diri terhadap China, India dan ekonomi non-Barat lainnya di awal tahun 2000-an. Namun para pemimpin Eropa khawatir akan pelebaran klub yang terlalu luas atau terlalu cepat.

Krisis keuangan tahun 2008 membuat skeptisisme seperti itu tampak konyol, dengan menunjukkan bahwa Barat hanya tidak bisa mengelola goncangan besar sendirian. Presiden AS berturut-turut menanggapi dengan secara efektif merendahkan G-7.

Di zamannya, George W. Bush dan Barack Obama tampak sebagai ancaman terhadap G-7 seperti yang ditunjukkan Trump sekarang. Ketika krisis keuangan meningkat, Bush memilih untuk beralih ke Kelompok Dua Puluh yang lebih luas, yang juga disebut G-20, ekonomi utama untuk mengarahkan respons global. Kelompok ini menempatkan negara-negara non-Barat seperti China, India dan Brasil di jantung diplomasi ekonomi. Obama menggandakan keputusan Bush, menggelar KTT G-20 di Pittsburgh pada September 2009 dan menggarisbawahi bahwa kelompok itu sekarang menjadi forum manajemen krisis multilateral utama.

Ada perubahan singkat G-20 oleh pemerintahan AS ketika para pejabat mencoba membuat forum yang relevan untuk setiap masalah kebijakan yang mereka bisa. Italia, tuan rumah KTT G-7 2009, berusaha keras untuk membuat pekerjaannya tampak bermanfaat. Para diplomat Eropa masing-masing merenungkan apakah akan membubarkan kelompok itu saja.

Pada pertemuan di Pittsburgh, Obama dilaporkan berpaling kepada Presiden China Hu Jintao untuk memulai sebagian besar diskusi. Selama beberapa tahun, G-20 dengan mengherankan berhasil mengarahkan manajemen krisis ekonomi. Seandainya Obama memberi isyarat bahwa sudah waktunya untuk menutup G-7, kelompok itu mungkin sudah gulung tikar dan hanya sedikit negara Eropa yang tidak setuju, dan Trump tidak perlu mencerca klub itu hari ini.

Invasi Rusia ke Krimea pada tahun 2014 memberi G-7 tujuan baru, karena AS dan sekutunya melarang Rusia dan menggunakan diskusi mereka untuk menandakan persatuan Barat. G-20 juga kehilangan tenaganya sejak titik terendah krisis keuangan. Pertemuan-pertemuannya dikatakan lamban dan birokratis, berbeda dengan pertukaran informal di G-7—meskipun Trump mungkin membuat pertemuan baru-baru ini sedikit terlalu bersemangat.

Meskipun demikian, G-7 tetap tertatih-tatih oleh kenangan krisis 2008. Ini mungkin tempat pertemuan yang baik bagi para pemimpin Barat untuk berbagi keprihatinan mereka, tetapi tidak memiliki substansi untuk mengelola guncangan ekonomi global saja.

Fakta bahwa Rusia telah melanjutkan pendudukannya atas Krimea dan tindakan-tindakan mengganggu lainnya di Ukraina, sementara memperluas peran militernya di Suriah, menunjukkan bahwa G-7 juga tidak dapat mengubah kembali kenyataan geopolitik.

Keputusan Trump untuk mencerca kelompok itu dan meminta agar Rusia diterima kembali efektif karena menyoroti keterbatasan asli forum itu. Namun dalam menekankan pengecualian Rusia, Trump memilih target yang salah. Kelemahan nyata G-7 bukanlah ketiadaan Rusia, tetapi China. Jika G-7 akan bangkit kembali sebagai komite pengarah untuk ekonomi global, maka kelompok itu perlu memasukkan tidak hanya AS tetapi juga China.

Sementara analis dan akademisi telah melontarkan ide ini sejak sebelum krisis 2008, mayoritas anggota G-7 saat ini terlalu curiga terhadap perilaku ekonomi China yang tegas untuk memberikan status rekan sejawat kepada negara itu.

    Baca juga: Pemimpin G-7 memberi AS lebih banyak waktu untuk kesepakatan di Paris, memberi tekanan lebih besar di Korea Utara

Tetapi jika AS terus menjauh dari apa yang kritikus presiden mulai sebut sebagai “G6+1,” sekutu AS yang frustrasi belum juga tergoda untuk meminta China agar masuk ke klub itu sebagai penyeimbang.

Sangat diragukan bahwa Trump berpikir sejauh ini ketika dia mencerca G-7. Sementara pemerintahan Bush dan Obama merendahkan kelompok itu karena tidak dapat menahan sistem internasional bersama-sama, Trump telah menikam G-7 karena dia tidak suka kerja sama internasional, titik.

Tetapi presiden saat ini memiliki kejeniusan luar biasa untuk menemukan kelemahan dari tatanan global. Serangannya di G-7 menghantam negaranya justru karena multilateralis naluriah liberal yang mendominasi klub itu, seperti Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, tahu bahwa mereka tidak dapat menjaga kelancaran sistem internasional tanpa dukungan dari luar.

Jika mereka tidak dapat mengandalkan AS, mereka harus beralih ke China dan mitra non-Barat lainnya. Dalam skenario apa pun, format G-7 saat ini terlihat jauh ketinggalan zaman.

Richard Gowan adalah seorang anggota di Dewan Eropa Hubungan Luar Negeri dan anggota tidak tetap di NYU Center on International Cooperation, di mana dia sebelumnya menjadi direktur penelitian. Dia juga mengajar di Universitas Columbia. Kolom WPR-nya muncul setiap hari Senin.

Keterangan foto utama: Kanselir Jerman Angela Merkel, dikelilingi oleh para pemimpin G-7 lainnya, berbicara dengan Presiden Amerika Donald Trump selama KTT G -7, La Malbaie, Kanada, 9 Juni 2018. (Foto: AP/Pemerintah Federal Jerman/Jesco Denzel)

Trump Bukan Presiden Pertama Amerika yang Remehkan G-7

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top