Trump Ingin Keluar dari Suriah Secepatnya, Deplu AS: ‘Tak Ada Batas Waktu’
Amerika

Trump Ingin Keluar dari Suriah Secepatnya, Deplu AS: ‘Tak Ada Batas Waktu’

Tentara Amerika Serikat. (Foto: Delil Souleiman)
Berita Internasional >> Trump Ingin Keluar dari Suriah Secepatnya, Deplu AS: ‘Tak Ada Batas Waktu’

Keputusan mengejutkan Trump untuk menarik pasukan dari Suriah, mendorong pengunduran diri Menteri Pertahanan AS Jim Mattis. Trump sebelumnya mengatakan bahwa ia ingin AS keluar dari Suriah secepatnya. Namun menurut seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri, tidak ada batas waktu untuk penarikan diri AS dari Suriah.

Oleh: Spencer Ackerman (The Daily Beast)

Baca Juga: Kebijakan Administrasi Trump Tahun 2018 yang Mungkin Anda Lewatkan

Dalam revisi terakhir terkait keputusan perang yang mengguncang Timur Tengah dan mendorong dua pengunduran diri pejabat pemerintah Donald Trump, seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa tidak ada batas waktu untuk penarikan 2.000 tentara AS dari Suriah.

“Presiden itu telah membuat keputusan bahwa kami akan menarik pasukan militer kami dari Suriah, tetapi itu akan dilakukan dengan cara yang hati-hati dan sangat terkoordinasi dengan sekutu dan mitra kami,” pejabat senior itu memberi tahu para wartawan pada Jumat (4/1), menjelang kunjungan diplomatik ke sepuluh negara oleh Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan John Bolton, penasihat keamanan nasional Presiden Trump.

Pada saat yang sama, pejabat itu melanjutkan, “kami tidak bermaksud memiliki kehadiran militer yang tidak terbatas di Suriah.”

Apa artinya itu sekarang masih belum jelas. Penarikan Trump dari Suriah pada awalnya seharusnya memakan waktu 30 hari, menurut pejabat Pentagon. The Daily Beast melaporkan bulan lalu, bahwa para pejabat pemerintahan—yang khawatir dengan prospek bahwa pasukan ISIS akan mendapatkan kesempatan untuk bangkit kembali dari penarikan yang tiba-tiba itu—berusaha memperlambat keputusan tersebut.

Tetapi pengumuman penarikan pasukan itu mendorong Menteri Pertahanan Jim Mattis dan Brett McGurk—yang merupakan utusan warisan Obama untuk koalisi melawan ISIS—mengundurkan diri sebagai bentuk protes.

Pada 30 Desember, Senator Lindsey Graham (R-SC), yang menentang penarikan itu, bertemu dengan Trump di Gedung Putih dan menyatakan keyakinannya bahwa presiden akan memperlambat penarikan. CNN melaporkan pada Rabu (2/1), mengutip sumber-sumber Pentagon, bahwa rencana terbarunya adalah periode keberangkatan 120 hari—kerangka waktu yang menurut pejabat anonim adalah yang paling cepat untuk penarikan pasukan secara teratur.

Tetapi di Gedung Putih pada hari yang sama, Trump mengatakan bahwa dia tidak memiliki komitmen untuk jangka waktu itu. “Seseorang mengatakan empat bulan, tetapi saya juga tidak mengatakan itu. Saya keluar—kita keluar dari Suriah,” katanya kepada para wartawan.

Keputusan penarikan itu mengejutkan banyak sekutu regional. Tetapi pejabat senior Departemen Luar Negeri itu pada Jumat (4/1) mengindikasikan kepada para wartawan, bahwa pemerintah sedang merencanakan konsultasi yang lebih menyeluruh seiring rencana itu semakin membuahkan hasil.

“Itu akan dilakukan dengan cara yang hati-hati dan sangat terkoordinasi dengan sekutu dan mitra kami,” kata pejabat itu, menunjukkan bahwa rincian penarikan masih harus ditentukan: “Kami sedang merumuskan rencana untuk melakukan itu sekarang.” Pejabat itu mengatakan bahwa pertimbangan utama dalam rencana tersebut adalah untuk “menjaga tekanan pada ISIS secara menyeluruh.”

Baca Juga: Trump Sahkan Undang-Undang Inisiatif Reasuransi Asia

Donald Trump Buat Dunia Ucapkan Selamat Tinggal pada Kebijakan AS di Suriah

Presiden Donald Trump berjalan bersama Menteri Pertahanan James Mattis, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, dan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton, di markas NATO di Brussels, pada tanggal 11 Juli 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Emmanuel Dunand)

Bolton melakukan perjalanan ke Israel dan Turki—yang sangat penting dalam meyakinkan Trump untuk meninggalkan Suriah—pada Jumat (4/1). Para pejabat AS takut bahwa Turki akan membantai Kurdi Suriah—yang telah membantu sebagian besar pertempuran AS melawan ISIS—dan Turki dilaporkan meminta bantuan logistik AS yang substansial untuk kampanye melawan sisa-sisa kantong ISIS di Suriah.

Bolton akan ditemani di Turki—ia mencuit—oleh Kepala Staf Gabungan yang akan keluar Jenderal Joseph Dunford, dan Perwakilan Jim Jeffrey, yang telah menggantikan McGurk sebagai utusan pemerintah untuk koalisi anti-ISIS.

Pompeo pada Selasa (8/1) akan memulai kunjungan regional selama seminggu ke Yordania, Mesir, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, dan Kuwait.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri yang berbeda mengatakan, bahwa pesan perjalanan Pompeo adalah untuk menyampaikan bahwa “Amerika Serikat tidak meninggalkan Timur Tengah,” terlepas dari kepergiannya di Suriah, dan bahwa “Iran adalah aktor berbahaya di wilayah tersebut.”

Tidak ada rencana perjalanan resmi ke Irak—salah satu negara yang paling terkena dampak langsung dari penarikan AS di Suriah. Tetapi beberapa mantan diplomat mengatakan bahwa mereka memperkirakan Bolton atau Pompeo akan hadir di Baghdad, dan kurangnya pengumuman sebelumnya kemungkinan karena alasan keamanan.

“Irak adalah sekutu yang kuat dalam perjuangan kami melawan ekstremisme kekerasan. Kami akan terus bekerja sama dengan Irak untuk mencapai kekalahan ISIS yang berkelanjutan,” kata seorang pejabat senior pemerintahan.

Pertempuran berlanjut melawan pasukan ISIS di Suriah. Antara tanggal 16 Desember—tiga hari sebelum Trump mengumumkan keputusan penarikannya dengan mengklaim ISIS telah “dikalahkan”—dan 29 Desember, pesawat tempur AS melakukan 469 serangan terhadap sisa target ISIS, menurut militer.

Ilan Goldenberg—seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri dan Pentagon untuk Timur Tengah dalam pemerintahan Obama—mengatakan bahwa sekutu dan musuh regional di Suriah sekarang “bertindak seolah-olah AS telah melakukan pengurangan militer,” yang mempersulit upaya AS untuk mengurangi segala konsekuensi dari kepergiannya, dengan memperlambatnya.

“Hal yang waras untuk dilakukan adalah dengan berhati-hati menjalankan keputusan ini terlebih dahulu, dan kemudian meminta presiden untuk mengumumkannya. Mereka telah melakukan hal yang sebaliknya,” kata Goldenberg, yang saat ini tergabung di wadah pemikir Center for a New American Security.

Keterangan foto utama: Tentara Amerika Serikat. (Foto: Delil Souleiman)

Trump Ingin Keluar dari Suriah Secepatnya, Deplu AS: ‘Tak Ada Batas Waktu’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top