presiden donald trump
Global

Trump Kritik Protes Prancis karena Tidak Fokus pada Prioritas Trump

Berita Internasional >> Trump Kritik Protes Prancis karena Tidak Fokus pada Prioritas Trump

Donald Trump merasa kesal pada protes yang dilakukan warga Prancis, Sabtu (24/11) kemarin. Ia marah karena protes mereka–yang melibatkan kenaikan tarif bahan bakar–tidak memikirkan kepentingan Amerika Serikat. Ia mengeluhkan seberapa buruk Amerika telah diperlakukan dalam soal perdagangan.

Baca Juga: Dukungan Trump untuk Saudi Soroti Kebrutalan Doktrin ‘America First’

Oleh: James McAuley (The Washington Post)

Sekali lagi, Presiden Donald Trump menentang Prancis—kali ini, menentang protes yang telah menarik banyak perhatian internasional.

Apa yang memicunya? Rupanya, ribuan orang yang turun ke jalan itu meminta sesuatu yang tidak melibatkan kepentingan Amerika.

Di mata Trump, protes tersebut—yang diadakan di seluruh Prancis di hari Sabtu kedua secara berturut-turut—gagal mempertimbangkan apa yang dianggapnya sebagai transaksi perdagangan tidak adil antara Eropa dan Amerika Serikat.

“Protes besar dan penuh dengan kekerasan di Prancis tidak memperhitungkan seberapa buruk Amerika Serikat telah diperlakukan dalam hal perdagangan oleh Uni Eropa atau dalam hal pembayaran yang adil dan masuk akal atas perlindungan militer BESAR kami,” tulis Trump. “Kedua topik ini harus segera diperbaiki.”

“Protes besar dan penuh dengan kekerasan di Prancis” yang dimaksud Trump adalah gerakan “gilet jaunes” atau “rompi kuning”, yang dimulai sebagai tanggapan terhadap kenaikan harga bahan bakar baru-baru ini, konsekuensi dari upaya Presiden Emmanuel Macron untuk mengekang perubahan iklim. Namun, protes dengan cepat berkembang dari fokus pada harga bahan bakar menjadi ketidakpuasan umum dengan seorang presiden yang peringkat persetujuannya anjlok hingga 26 persen dan yang jarang berhubungan dengan keprihatinan masyarakat umum.

Protes yang lebih besar terjadi akhir pekan sebelumnya, ketika lebih dari 282.000 orang memblokir jalan di seluruh Prancis. Menurut statistik yang dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner, sekitar 106.000 berkumpul pada akhir pekan ini.

Tapi kali ini, mata dunia—termasuk Trump, rupanya—tertuju pada foto-foto bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi di Champs-Elysees, salah satu jalan termegah di ibukota Prancis, bahkan di seluruh dunia. Polisi menembakkan gas air mata, dan pengunjuk rasa melemparkan batu.

Baca Juga: Donald Trump Dapatkan Tentara Eropa yang Dia Inginkan

Sekitar 8.000 orang berkumpul di jalan itu, menurut Kementerian Dalam Negeri.

Namun, terlepas dari drama foto-foto itu, lebih banyak orang berkumpul di Paris pada hari Sabtu (24/11) untuk memprotes—secara damai—untuk alasan yang berbeda: mengakhiri seksisme dan kekerasan terhadap perempuan. Menurut laporan media Prancis, sebanyak 30.000 orang menghadiri demonstrasi pada Sabtu sebelumnya.

Sejak kunjungannya ke Paris untuk memperingati seratus tahun Gencatan Senjata 1918, yang mengakhiri Perang Dunia I, Trump telah sangat vokal dalam kritiknya terhadap Macron. Presiden Prancis, yang pernah mencoba mengecam Trump, memberikan pidato di bawah Arc de Triomphe pada 11 November di mana ia mengutuk nasionalisme sebagai “kebalikan dari patriotisme,” yang banyak dilihat sebagai kecaman langsung kepada Trump, yang sebelumnya menggambarkan dirinya sebagai seorang nasionalis.

Trump tidak terlalu senang dengan komentar Macron. Dia juga marah dengan apa yang dia salah pahami sebagai kepercayaan Macron bahwa Eropa membutuhkan pasukan independen untuk mempertahankan diri terhadap Amerika Serikat.

Faktanya, Macron hanya mengatakan—dalam komentar yang awalnya salah diterjemahkan dalam banyak laporan berbahasa Inggris—bahwa Eropa seharusnya tidak begitu bergantung pada Amerika Serikat dalam pertahanan dan keamanan, sebuah kalimat telah lama disebut-sebut Trump dalam diskusi dengan Pemimpin Eropa.

Tapi komentar Macron tentang nasionalisme-lah yang berujung pada kemarahan Trump.

“Masalahnya adalah Emmanuel mendapat tingkat persetujuan yang sangat rendah di Prancis, 26 persen, dan tingkat pengangguran hampir 10 persen,” tulis Trump awal bulan ini. “Dia hanya mencoba beralih ke topik lain. Ngomong-ngomong, tidak ada negara yang lebih Nasionalis dari Prancis, bangsa yang sangat bangga terhadap negaranya—dan memang seharusnya begitu! ”

 

James McAuley adalah koresponden Paris untuk The Washington Post. Dia memiliki gelar PhD dalam sejarah Prancis dari Universitas Oxford, di mana dia menjadi penerima beasiswa Marshall.

Keterangan foto utama: Seorang pengunjuk rasa mengibarkan bendera Prancis di sepanjang Champs-Elysees Paris, dengan Arc de Triomphe di latar belakang, selama demonstrasi menentang kenaikan pajak bahan bakar pada hari Sabtu (24/11). (Foto: AP/Michel Euler)

Trump Kritik Protes Prancis karena Tidak Fokus pada Prioritas Trump

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top