Trump Membantu Kaum Elit Jadi Hebat Lagi?
Global

Trump Membantu Kaum Elit Hebat Lagi?

Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel saat Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump melewati mereka. (Foto: EPA/Armando Babini)

Pada gelaran World Economic Forum, Presiden AS Donald Trump akan menjadi pelengkap yang baik bagi penampilan pemimpin lain yang lebih sukses. Mengapa demikian? Berikut analisis dan opini Leonid Bershidsky yang membandingkan kinerja Trump dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Oleh: Leonid Bershidsky (Bloomberg)

Tidak ada kontradiksi antara keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tahun ini untuk mengunjungi World Economic Forum di Davos—bahwa kongres elit—dan politik populisnya. Melainkan, semua hal yang telah dilakukan Trump sejauh ini mendorong slogan CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon mencetak setengah penuh perhatian pada Davos tahun lalu: “Jadikan elit hebat lagi!” (#MEGA).

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin membela keputusan soal kunjungan Trump dengan mengatakan bahwa dia tidak menganggap Davos sebagai “tempat berkumpul bagi kaum globalis.”

Dia tidak perlu repot-repot: Davos adalah tempat berkumpul untuk semua orang siapa saja. Bahkan komunis Rusia tidak keberatan ketika pemimpin mereka, Gennady Zyuganov, datang pada tahun 1996 ketika ia memutuskan untuk mengalahkan Boris Yeltsin sebagai presiden.

Davos adalah panggung di mana pesan-pesan, termasuk yang anti-globalis, bisa sampai ke telinga yang tepat. Tapi tak berarti berarti semua orang bisa menyampaikan pesannya. Tahun lalu, ketika Trump tidak pergi, Presiden China Xi Jinping mencuri perhatian saat mengedepankan pembelaannya atas perdagangan bebas, yang akan ditimpali Trump.

Kali ini, Trump, menurut Mnuchin, bermaksud untuk mengeluarkan kebijakan “Amerika Pertama” dan berpendapat bahwa kebijakan tersebut baik untuk AS, mereka juga baik untuk seluruh dunia. Dalam kebijakan itu sendiri ada konsesi bagi kepentingan forum, yang menjanjikan sebuah pertunjukan yang menarik. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan mungkin juga Kanselir Jerman Angela Merkel akan hadir untuk menghadirkan visi Eropa alternatif.

Namun, di satu sisi, apa yang dilakukan Trump di  Forum Ekonomi Dunia tahun ini nampak tak terlalu buruk, dibanding yang dilakukannya pada tahun 2017.

Setahun yang lalu, dia melontarkan ancaman populis yang menggantung di Eropa dan AS. Pidato pengukuhannya, dengan pesan nasionalisnya yang keras—”Mulai saat ini, hanya akan ada Amerika (sebagai prioritas) yang utama.”—bergaung di seluruh dunia pada hari terakhir forum Davos, yang diselenggarakan dengan slogan “kepemimpinan yang responsif dan bertanggung jawab.”

Dalam pidato tersebut, Trump mempromosikan cara untuk membuat para pemimpin Amerika menanggapi keluhan korban yang disebutnya “pembantaian Amerika.” Para investor dan ahli kaya di Davos menyuarakan ketakutan akan revolusi yang Trump simbolkan.

“Saya ingin menegaskan dengan jelas: populisme membuat saya takut,” kata miliarder dan manajer reksa dana Ray Dalio kepada sebuah panel. “Isu No. 1 secara ekonomi sebagai pelaku pasar adalah bagaimana populisme memanifestasikan dirinya selama satu atau dua tahun ke depan.”

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Bloomberg/Luke Sharrett)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
(Foto: Bloomberg/Luke Sharrett)

Sekarang Dalio punya jawabannya. Di AS, Trump telah mendapatkan sedikit signifikasi abadi—dan tidak ada yang berbau populis. Satu-satunya bagian penting dari undang-undang yang dia tanda-tangani adalah reformasi pajak yang menguntungkan orang Amerika terkaya, bukan ukuran yang populis menurut standar apapun.

Steve Bannon, ahli ideologi yang membantu mendorong Trump ke dalam peran advokat kelas pekerja—dan yang menulis pidato pengukuhan—berada di luar administrasi Trump dan menjadi target beberapa tweet paling kejam presiden: “Steve yang ceroboh,” Trump mencapnya tanpa ragu.

Trump telah gagal membangun tembok perbatasan. Penahanan imigran yang tidak berdokumen di perbatasan barat daya AS berkurang lebih dari seperempatnya di tahun 2017 dibandingkan dengan tahun sebelumnya—mungkin karena hanya ada lebih sedikit imigran yang datang, namun masih merupakan pertanda jelas bahwa tidak ada tindakan keras Trump yang telah dilakukan. Pelaksakaan pekerjaan sedikit melambat. Citra internasional AS telah terpukul.

Kehadiran Trump tahun ini merupakan latar belakang ideal bagi para pemimpin seperti Macron dan Merkel. Mereka tidak hanya memenangkan pemilihan pada tahun 2017 dan menggagalkan tantangan populis—mereka benar-benar telah mencapai sesuatu sejak melakukannya.

Macron, pada bulan-bulan pertamanya sebagai presiden, bekerja secara efektif dengan serikat buruh dan melobi pengusaha untuk mendorong reformasi kode etik Perancis yang berbelit-belit, dan telah bergerak menuju perbaikan sistem pendidikan dan pensiun profesional.

Merkel, yang dipaksa oleh hasil pemilihan September untuk terlibat dalam pembangunan koalisi kompleks, baru saja mencapai kesepakatan dengan Demokrat Sosial Jerman yang berpeluang untuk memungkinkannya membentuk pemerintahan yang stabil. Jika itu tidak terdengar seperti sebuah pencapaian, pertimbangkan kesepakatan koalisi awal 28 halaman—yang menjelaskan kebijakan spesifik yang akan lolos ke parlemen dalam empat tahun ke depan dan bahkan menetapkan jumlah pengeluaran untuk tindakan tertentu—sebuah pencapaian yang memiliki tingkat detail tinggi, menunjukkan prediktabilitas pemerintah, yang membuat orang Amerika hanya bisa iri.

Dibandingkan dengan Trump yang sering berubah dan agresif, dengan pemahamannya yang tidak pasti akan hal yang spesifik, dan peran yang meragukan dalam mengarahkan AS, Macron dan Merkel adalah paragon keterampilan, kepercayaan diri dan tanggung jawab. Mereka bahkan tidak perlu mengatakan apapun untuk mengantarkan pesan sentris dan kompetensi mereka.

Trump datang ke Davos bukan sebagai sosok yang menakutkan. Dia datang sebagai simbol kegagalan dan alasan mengapa elit kebijakan dan bisnis yang dilawannya tidak layak mendapat hukuman guillotine. Tak diragukan lagi, #MEGA memang.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel saat Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump melewati mereka. (Foto: EPA/Armando Babini)

Trump Membantu Kaum Elit Hebat Lagi?
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top