sanksi as terhadap iran
Timur Tengah

Trump Sebut Iran Buat Kesepakatan untuk Ringankan Sanksi, Penasihat Pemimpin Iran Membantah

Home » Featured » Timur Tengah » Trump Sebut Iran Buat Kesepakatan untuk Ringankan Sanksi, Penasihat Pemimpin Iran Membantah

Penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran Ali Akbar Velayati, menepis anggapan Trump bahwa para pemimpin Iran memulai negosiasi langsung dengannya untuk meredakan tekanan ekonomi yang meningkat terhadap Iran akibat sanksi AS, yang akan mulai berlaku pada bulan November. Hal itu ia sampaikan pada kunjungannya ke Moskow pada tanggal 13 Juli kemarin.

Baca juga: Gedung Putih Harus Pilih: Batasi Ekspor Minyak Iran atau Harga BBM Murah

Oleh: Radio Free Europe/Radio Liberty

Penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, telah membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, bahwa Iran berusaha mendapatkan kesepakatan dengan AS untuk meringankan “kerugian” ekonomi akibat sanksi ekonomi Iran yang menjulang.

Ali Akbar Velayati, ketika mengunjungi Moskow pada tanggal 13 Juli, juga menolak tuntutan AS dan Israel agar militer Iran keluar dari Suriah, dan mengatakan bahwa hal itu akan terjadi jika Presiden Suriah Bashar al-Assad meminta Iran untuk pergi.

“Kami datang ke sana tanpa izin Amerika, dan kami tidak akan mengindahkan tuntutan mereka untuk pergi,” katanya. “Kami mengkoordinasikan kehadiran Iran di Suriah dengan Rusia dan Suriah.”

Velayati bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas situasi Suriah pada tanggal 12 Juli, satu hari setelah Putin bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang mengatakan bahwa dia meminta Putin untuk mendesak Iran meninggalkan Suriah.

Israel mengatakan tidak akan menerima kehadiran militer Iran secara permanen atau yang diperluas di negara tetangga Suriah, dan telah melancarkan beberapa serangan mematikan tahun ini terhadap fasilitas yang digunakan oleh para penasihat dan pejuang militer Iran dan sekutu milisi Syiah dari Lebanon dan Irak.

Amerika Serikat telah ikut menyuarakan tuntutan Israel, dan media telah melaporkan bahwa Trump mungkin berusaha untuk membuat kesepakatan dengan Putin di KTT mereka di Helsinki pada tanggal 16 Juli mendatang, menawarkan setidaknya penarikan sebagian sekutu pejuang Iran dari daerah dekat perbatasan Israel dengan Suriah.

Velayati mengatakan bahwa ketika dia berbicara dengan para pemimpin Rusia, dia sangat memperingatkan mereka agar tidak mendengarkan argumen AS tentang kehadiran Iran di Suriah.

“Saya mengatakan kepada para pejabat Rusia: Sekarang Amerika mengatakan kepada Anda bahwa Iran harus meninggalkan Suriah, dan besok mereka akan menanyakan apa yang Anda lakukan di Suriah,” katanya. “Mereka berusaha memecah persekutuan kita.”

Velayati juga menepis anggapan Trump bahwa para pemimpin Iran memulai negosiasi langsung dengannya untuk meredakan tekanan ekonomi yang meningkat terhadap Iran akibat sanksi AS, yang akan mulai berlaku pada bulan November.

Trump mengatakan pada konferensi pers di Brussels pada tanggal 12 Juli: “Saya tahu mereka mengalami banyak masalah dan ekonomi mereka ambruk. Tapi saya akan memberitahu Anda, pada titik tertentu, mereka akan menelepon saya dan mereka akan mengatakan, ‘Mari kita membuat kesepakatan,’ dan kami akan membuat kesepakatan. Mereka merasa sangat kesakitan sekarang.”

Beberapa tokoh oposisi Iran dan ekspatriat terkemuka juga telah meminta Teheran untuk melakukan negosiasi langsung dengan Washington untuk menyelesaikan permusuhan antara kedua negara tersebut. Tapi Velayati menolak saran-saran itu.

“Kami tidak ingin bernegosiasi dengan Amerika,” katanya seperti dikutip oleh kantor-kantor berita Rusia. “Mereka adalah orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Iran, disetujui oleh Dewan Keamanan PBB. Mengapa kita mempercayai mereka dan mengadakan negosiasi dengan mereka?”

Velayati rupanya mengacu pada keputusan Trump pada bulan Mei untuk menarik diri dari perjanjian nuklir Iran tahun 2015 yang disetujui bersama negara-negara lain—sebuah langkah yang memicu pemulihan kembali sanksi AS.

Velayati mengatakan bahwa Teheran bisa mengatasi sanksi ekonomi Iran seperti itu seperti yang dilakukannya di masa lalu. Dia mengatakan bahwa Iran akan menggunakan jalan yang telah digunakan di masa lalu untuk menghindari sanksi, untuk menerima pembayaran untuk ekspor minyaknya.

Amerika Serikat telah mengajukan beberapa kasus profil tinggi dalam beberapa tahun terakhir, melawan bank dan pedagang yang membantu Iran memperoleh pendapatan minyak melalui sistem perbankan global, untuk menghindari larangan AS menggunakan dolar.

Baca juga: Pertikaian Iran vs Barat: Kegagalan Mengendalikan ‘Setan Besar’ yang Merepotkan Amerika

“Ini akan sulit, tetapi kami telah belajar bagaimana melakukannya,” kata Velayati seperti dikutip oleh media berita Rusia.

Velayati dan para pejabat Rusia pada tanggal 13 Juli tidak menyebutkan permintaan Argentina agar Rusia menangkap dan mengekstradisi Velayati untuk menghadapi dakwaan di Buenos Aires, sehubungan dengan pengeboman pusat komunitas Yahudi pada tahun 1994 yang menewaskan 85 orang.

The Bubble—situs berita Amerika Latin online—melaporkan bahwa Moskow menghindari menanggapi permintaan ekstradisi, sebelum Velayati meninggalkan negara itu untuk pertemuan di Beijing pada tanggal 13 Juli, karena menghormati “kemitraan strategis” Iran dengan Rusia di Suriah dan tempat lain.

Bubble mengatakan bahwa China—yang juga telah menerima permintaan ekstradisi dari Argentina, meskipun kedua negara itu tidak memiliki perjanjian ekstradisi—juga diperkirakan akan mengabaikan permintaan tersebut.

Dengan laporan oleh AP, Reuters, dan Interfax.

Keterangan foto utama: Presiden Rusia Vladimir Putin bersama Ali Akbar Velayati (kiri), penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. (Foto: AP/Kremlin/Aleksei Druzhinin)

Trump Sebut Iran Buat Kesepakatan untuk Ringankan Sanksi, Penasihat Pemimpin Iran Membantah

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top