George H.W. Bush
Amerika

Trump Tanggapi Kematian George H.W. Bush dengan Kenormalan yang Abnormal

Berita Internasional >> Trump Tanggapi Kematian George H.W. Bush dengan Kenormalan yang Abnormal

Kenormalan adalah sesuatu yang abnormal jika kita berbicara tentang Presiden Amerika Serikat saat ini, Donald Trump. Namun Trump menunjukkan, bahwa dia bisa melakukan hal itu, dan berlaku penuh etiket. Trump menunjukkan sopan santunnya sehubungan dengan meninggalnya pendahulunya, Presiden AS ke-41 George H.W. Bush.

Oleh: Eliana Johnson (Politico)

Baca Juga: Bagaimana George H.W. Bush Menjadi Seorang Demokrat Amerika

Untuk Presiden Donald Trump, tak ada penghinaan yang lebih buruk daripada “Bushie.” Yaitu “lebih buruk daripada menjadi seorang Demokrat,” kata mantan pejabat Gedung Putih kepada Politico awal tahun ini.

Jika Trump telah berpikir seperti itu sejak kematian mantan presiden George H.W. Bush pada hari Sabtu (1/12), dia belum mengungkapkannya. Kematian Bush setidaknya telah mengesampingkan ketidaksukaan publik Trump terhadap keluarga Bush dan, untuk saat ini, ia bahkan menunjukkan etiket yang dicontohkan oleh pendahulunya itu.

Pada Senin malam (3/12), Trump mengunjungi Capitol Hill untuk memberikan penghormatan pribadinya kepada presiden ke-41 tersebut, yang petinya tiba lebih awal pada hari itu dan diletakkan di Capitol Rotunda. Pertunjukan rasa hormat juga diteruskan ke putra mendiang presiden, mantan Presiden George W. Bush, yang pernah Trump kecam sebagai “presiden terburuk yang pernah ada.”

Trump menawarkan kepada Bush untuk menggunakan tempat tinggal resminya, Blair House, saat Bush junior berada di Washington untuk acara-acara seputar pemakaman ayahnya, menurut seorang pejabat Gedung Putih.

Singkatnya, presiden bersikap normal—suatu kelangkaan yang mengejutkan bagi seorang pria yang dengan santai menghancurkan norma-norma politik yang sering dianggap suci.

Sumber dari sikap Trump yang tidak biasa ini masih belum jelas, seperti yang terjadi setelah kemenangan Partai Demokrat pada pemilu November lalu dan langkah-langkah baru oleh Penasihat Khusus Robert Mueller yang telah membuatnya sangat tidak stabil—dan mudah berubah—dalam beberapa pekan terakhir.

Mungkin Trump menyadari awal tahun ini apa yang bisa terjadi ketika dia tidak menunjukkan rasa hormat yang tinggi terhadap ikon politik yang telah meninggal.

Walaupun penampilan sopan Trump yang mengejutkan itu telah membuatnya menjadi bagian dari semacam ritual bipartisan Washington yang biasanya ia kecam, hal itu membantunya menghindari kritik pedas yang menyusul responnya yang dingin terhadap kematian mantan Senator John McCain (R-Ariz.) pada bulan Agustus.

Gedung Putih juga tidak mengeluarkan pernyataan resmi segera setelah kematian McCain. Sebaliknya, muncul tweet presiden yang berisi “simpati terdalam” presiden kepada keluarga senator—tetapi tidak ada pujian untuk McCain. Ketika para pejabat Washington berkumpul di pemakaman McCain seminggu kemudian, Trump dikesampingkan dari sebuah acara yang menjadi kecaman tersirat dari hampir semua yang ia perjuangkan—disiarkan langsung di televisi nasional.

Trump tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Gedung Putih tidak membuang-buang waktu mengeluarkan pernyataan resmi pada hari Sabtu (1/12), bahkan mengutip slogan terkenal mendiang presiden tentang kesukarelaan—”seribu titik cahaya”—yang diejek Trump musim panas ini pada sebuah kampanye di Montana.

“Ribuan titik cahaya, apa itu?” Trump bertanya pada kerumunan pada bulan Juli. “Apakah ada yang pernah mengetahuinya?… Seribu titik cahaya, saya tidak pernah benar-benar memahami itu.”

Pada Senin malam (3/12), Trump menyalurkan versi yang lebih baik, lebih lembut dari semangatnya yang menggebu-gebu. Dia melakukan kunjungan mendadak ke Capitol, di mana peti mati Bush diletakkan. Seorang presiden yang jarang melewatkan kesempatan untuk berbicara tidak mengatakan apa pun, hanya hormat dalam diam. Instagram resmi Gedung Putih menampilkan potret presiden ke-41 itu dalam bingkai yang dihiasi kain hitam.

Pemakaman Bush akan diadakan di Washington pada hari Rabu (5/12). Tidak seperti pemakaman McCain, ia diundang ke pemakaman Bush—yang berarti masih ada waktu bagi Trump untuk kembali ke karakter.

Tapi sebelumnya pada hari Senin (3/12), komentar Trump menggemakan eulogi tradisional yang ditawarkan oleh Partai Republik lainnya yang sering berselisih dengannya, termasuk Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell dan Ketua DPR Paul Ryan.

McConnell memuji Bush sebagai “generasi terhebat yang disuling menjadi satu masa hidup.”

“Warisannya adalah anugerah yang disempurnakan,” kata Ryan.

Di tengah-tengah tweet yang biasanya berisi kemarahannya—termasuk tweet yang menuntut bahwa mantan pengacaranya, Michael Cohen, “menjalani hukuman penuh”—Trump pada hari Senin (3/12) memberi hormatnya kepada Bush karena telah menjalani “kehidupan yang panjang, sukses, dan indah.”

Baca Juga: Bagaimana Kartun Kematian George H.W. Bush Menyentuh Keluarganya

Keterangan foto utama: Presiden Donald Trump dan ibu negara Melania Trump memberikan penghormatan mereka kepada mantan Presiden George HW Bush di Capitol Rotunda pada hari Senin (3/12). (Foto: Getty Images/Chip Somodevilla)

Trump Tanggapi Kematian George H.W. Bush dengan Kenormalan yang Abnormal

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top