Tsunami Banten Munculkan Pertanyaan Global tentang Kesiapsiagaan Bencana
Berita Politik Indonesia

Tsunami Banten Munculkan Pertanyaan Global tentang Kesiapsiagaan Bencana

Berita Internasional >> Tsunami Banten Munculkan Pertanyaan Global tentang Kesiapsiagaan Bencana

Ketika Indonesia tertatih-tatih akibat pembantaian bencana alam untuk kesekian kalinya, pihak berwenang di seluruh dunia sedang berusaha untuk mencari solusi mengenai bagaimana mereka dapat mempersiapkan diri untuk jenis tsunami aneh yang menghancurkan pantai-pantai di sekitar Selat Sunda bulan ini. Indonesia telah menunjukkan kepada seluruh dunia sejumlah besar sumber yang berpotensi menyebabkan tsunami. Sebagian besar tsunami dipicu gempa bumi, tapi tsunami Banten telah membuktikan, kasusnya tidak selalu seperti itu.

Oleh: Fergus Jensen dan Fanny Potkin (Reuters)

Baca Juga: Tsunami Banten: Erupsi Berlanjut, Tim Penyelamat Indonesia Terus Bekerja

Tsunami yang terjadi pada 23 Desember tersebut menewaskan sekitar 430 orang di sepanjang garis pantai Selat Sunda, mengakhiri satu tahun gempa bumi dan tsunami di negara kepulauan yang luas ini, yang dilewati oleh Cincin Api Pasifik yang aktif secara seismik.

Tidak ada sirene yang terdengar di kota-kota dan pantai-pantai itu untuk memperingatkan orang-orang sebelum ombak mematikan menghantam pantai.

Bencana itu seharusnya menjadi seruan untuk meningkatkan penelitian tentang pemicu dan kesiapsiagaan tsunami, kata beberapa pakar, yang beberapa di antaranya telah melakukan perjalanan ke negara Asia Tenggara untuk menyelidiki apa yang terjadi.

“Indonesia telah menunjukkan kepada seluruh dunia sejumlah besar sumber yang berpotensi menyebabkan tsunami. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami peristiwa yang tidak terduga itu,” kata Stephen Hicks, seismolog di University of Southampton.

Sebagian besar tsunami tercatat dipicu oleh gempa bumi. Tapi kali ini letusan gunung berapi Anak Krakatau yang menyebabkan kawahnya runtuh sebagian ke laut saat air pasang, mengirimkan gelombang setinggi 5 meter (16 kaki) yang menghantam daerah pesisir padat di pulau Jawa dan Sumatra.

Selama letusan, diperkirakan 180 juta meter kubik, atau sekitar dua pertiga dari pulau vulkanik yang berusia kurang dari 100 tahun, runtuh ke laut.

Tetapi letusan itu tidak mengguncang monitor seismik secara signifikan, dan tidak adanya sinyal seismik yang biasanya menyebabkan dengan tsunami menyebabkan badan geofisika Indonesia (BMKG) awalnya menge-tweet bahwa tidak ada tsunami.

Muhamad Sadly, kepala geofisika di BMKG, kemudian mengatakan kepada Reuters bahwa monitor pasang surutnya tidak dibuat untuk memicu peringatan tsunami dari peristiwa non-seismik.

Kepala Lembaga Penelitian Bencana Internasional Jepang, Fumihiko Imamura, mengatakan kepada Reuters bahwa dia tidak percaya sistem peringatan Jepang saat ini akan mendeteksi tsunami seperti yang terjadi di Selat Sunda.

“Kami masih memiliki beberapa risiko di Jepang … karena ada 111 gunung berapi aktif dan kapasitas rendah untuk memantau letusan yang menghasilkan tsunami,” katanya di Jakarta.

Para ilmuwan telah lama menandai longsornya Anak Krakatau, yang berada di sekitar 155 kilometer barat ibukota, sebagai keprihatinan. Sebuah studi tahun 2012 yang diterbitkan oleh Geological Society of London menganggapnya sebagai “bahaya tsunami.”

Anak Krakatau telah muncul dari gunung berapi Krakatau, yang pada tahun 1883 meletus dalam salah satu ledakan terbesar dalam sejarah, menewaskan lebih dari 36.000 orang dalam serangkaian tsunami dan menurunkan suhu permukaan global sebesar satu derajat Celcius dengan abunya.

SISTEM PERINGATAN RUSAK

Beberapa ahli percaya ada cukup waktu untuk setidaknya mendeteksi sebagian dari tsunami minggu lalu dalam 24 menit—waktu yang dibutuhkan gelombang untuk menghantam pantai setelah tanah longsor di Anak Krakatau.

Tetapi pelampung sistem peringatan tsunami di seluruh negeri yang terhubung dengan sensor dasar laut telah rusak sejak tahun 2012 karena vandalisme, kelalaian dan kurangnya dana publik, kata pihak berwenang.

“Kurangnya sistem peringatan dini adalah mengapa tsunami Sabtu lalu tidak terdeteksi,” kata juru bicara dinas bencana Sutopo Nugroho, menambahkan bahwa dari 1.000 sirene tsunami yang dibutuhkan di seluruh Indonesia, hanya 56 yang tersisa.

“Tanda-tanda bahwa tsunami akan datang tidak terdeteksi, sehingga orang tidak punya waktu untuk mengungsi.”

Presiden Joko Widodo minggu ini memerintahkan BMKG untuk membeli sistem peringatan dini yang baru, dan BMKG kemudian mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk memasang tiga pelampung tsunami di pulau-pulau di sekitar Anak Krakatau.

Biaya yang harus dikeluarkan negara diperkirakan mencapai 7 triliun rupiah. Itu kira-kira setara dengan total anggaran tanggapan bencana Indonesia, sebesar 7,19 triliun rupiah untuk tahun 2018, menurut Nugroho.

Tetapi para ahli lain mengatakan bahkan jika jaringan ini bekerja, bencana akan tetap sulit dihindari.

“Tsunami adalah skenario terburuk untuk harapan adanya peringatan tsunami yang jelas: kurangnya gempa bumi yang jelas untuk memicu peringatan, air dangkal, dasar laut yang kasar, dan kedekatan dengan garis pantai terdekat,” kata seismolog Hicks.

Di Filipina, Renato Solidum, wakil menteri untuk pengurangan risiko bencana, mengatakan letusan dari gunung berapi Taal di negaranya telah menyebabkan gelombang tsunami sebelumnya di sekitar Danau Taal.

Dia mengatakan kepada Reuters bahwa apa yang terjadi di Indonesia menunjukkan perlunya “menekankan kembali kesadaran dan kesiapsiagaan” mengenai aktivitas vulkanik dan potensinya untuk memicu tsunami di Filipina.

Amerika Serikat juga menderita beberapa tsunami yang disebabkan oleh aktivitas gunung berapi, termasuk di Alaska, Hawaii, dan Washington, menurut layanan cuaca nasional.

PENDIDIKAN

Di Indonesia awal tahun ini, bencana gempa dan tsunami ganda menewaskan lebih dari 2.000 orang di pulau Sulawesi, sementara setidaknya 500 orang tewas ketika gempa bumi meratakan sebagian besar garis pantai utara pulau Lombok.

Di negara di mana, menurut data pemerintah, 62,4 persen dari populasi berisiko terkena gempa bumi dan 1,6 persen oleh tsunami, perhatian sekarang difokuskan pada kurangnya kesiapsiagaan.

“Mengingat potensi bencana di negara ini, sudah saatnya pendidikan bencana menjadi bagian dari kurikulum nasional,” kata Joko Widodo kepada wartawan setelah tsunami terakhir.

Untuk Ramdi Tualfredi, seorang guru sekolah menengah yang selamat dari gelombang minggu lalu, peningkatan kurikulum ini tidak bisa langsung dilakukan.

Dia mengatakan kepada Reuters bahwa orang-orang di desanya Cigondong di pantai barat Jawa dan dekat dengan Krakatau tidak pernah menerima latihan keselamatan atau pelatihan evakuasi.

“Saya tidak pernah menerima pendidikan tentang langkah-langkah keamanan,” katanya.

“Sistem … benar-benar gagal.”

Baca Juga: ‘Bencana Dapat Lebih Banyak Likes’: Pemburu Selfie di Tengah Bencana Tsunami Banten

Keterangan foto utama: Puing-puing setelah tsunami di selat Sunda di desa Kunjir di Lampung Selatan, Indonesia, 28 Desember 2018. (Foto: Reuters/Antara Foto/Ardiansyah)

Tsunami Banten Munculkan Pertanyaan Global tentang Kesiapsiagaan Bencana

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top