Mohammed bin Salman
Afrika

Tunisia Kecam Kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

Berita Internasional >> Tunisia Kecam Kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

Para aktivis menyerukan, “Darah Khashoggi masih hangat,” ketika mereka melangsungkan protes selama kunjungan putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman yang telah direncanakan. Kunjungan bin Salman ke Tunisia adalah bagian dari tur luar negeri pertamanya sejak pembunuhan Jamal Khashoggi. Badan intelijen Amerika, CIA, menyimpulkan pembunuhan itu diperintahkan oleh sang putra mahkota.

Baca juga: Diabaikan Trump, Temuan CIA Tak Ancam Mohammed bin Salman

Oleh: Al Jazeera

Para politisi dan berbagai kelompok masyarakat sipil Tunisia telah menyatakan penolakan mereka atas kunjungan yang akan dilakukan oleh putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) ke Tunisia. Kunjungan itu adalah bagian dari tur pertama pangeran Mohammed di luar negeri sejak pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi di konsulat kerajaan di Istanbul, Turki, yang secara luas telah dituduhkan menjadi tanggung jawab putra mahkota.

Saida Qarash, juru bicara pemerintah Tunisia, mengonfirmasi kunjungan MBS pada tanggal 27 November 2018 melalui stasiun radio lokal.

Putra mahkota tiba di Abu Dhabi pada hari Kamis (22/11) malam dan akan mengunjungi negara-negara lain di kawasan itu, termasuk Bahrain dan Mesir, di mana dia akan disambut hangat oleh para pemimpin sekutu yang telah berdiri teguh di sisinya di tengah kemarahan internasional atas pembunuhan Khashoggi.

MBS juga akan menghadiri KTT G20 di Argentina pada akhir bulan November 2018, di mana ia kemungkinan akan berhadapan dengan para pemimpin dunia, termasuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang secara implisit menuduh putra mahkota berada di balik pembunuhan itu.

Pengadilan Kerajaan Saudi mengatakan bahwa tur itu diputuskan berdasarkan arahan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, dan bahwa tur itu bertujuan untuk memperkuat hubungan regional dan internasional kerajaan Arab Saudi.

Protes yang direncanakan

Qarash mengatakan Tunisia mengutuk pembunuhan Khashoggi, dan menekankan bahwa posisi negaranya menyerukan upaya mengungkap kebenaran.

Menurut aktivis Tunisia dan mantan pemimpin partai al-Irada Tarek Kahlawi, ratusan orang diharapkan berkumpul di depan istana presiden di Carthage, bersamaan dengan kedatangan putra mahkota.

“Sungguh memalukan bahwa Tunisia, yang telah menyaksikan transisi demokrasi dan revolusi melawan tirani dan kediktatoran, akan menerima seorang penjahat yang tangannya dinodai dengan darah orang-orang Arab Saudi dan Yaman,” katanya kepada Al Jazeera.

Kahlawi menjelaskan bahwa tenda protes adalah “inisiatif kewarganegaraan” yang diserukan oleh semua partai politik untuk memprotes kunjungan MBS.

Hamma Hammami, juru bicara partai oposisi Front Populer, juga mengecam kunjungan MBS mendatang dan menganggapnya sebagai “provokasi terhadap rakyat, revolusi, dan prinsip-prinsip Tunisia.”

“Kami tidak akan menyambut sosok yang mengacaukan Yaman dan rakyatnya, orang yang dicurigai berada di balik pembunuhan mengerikan Khashoggi, dan pemimpin yang melakukan normalisasi dengan entitas Zionis dengan mengorbankan rakyat Palestina,” kata Hammami kepada sebuah stasiun radio Tunisia.

Sementara itu, Emad Al-Daimi, pemimpin partai Gerakan Rakyat, memperingatkan Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi melalui sebuah unggahan Facebook mengenai konsekuensi “melakukan kesalahan dengan memungkinkan bin Salman untuk menodai tanah Tunisia.”

‘MBS tidak diterima’

Sebuah tim pengacara Tunisia mengatakan mereka akan mengajukan gugatan, ditugaskan oleh para blogger dan wartawan yang menuntut larangan kunjungan.

Dalam sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada Essebsi, sindikat pers Tunisia mengatakan tujuan kunjungan MBS ke Tunisia adalah untuk “menutupi catatan berdarahnya karena keterlibatannya dalam pelanggaran hak asasi manusia.”

Baca juga: John Bolton: Audio Pembunuhan Khashoggi Tak Libatkan Mohammed bin Salman

Pejabat intelijen dan analis mengatakan operasi untuk membunuh Khashoggi, yang telah menulis secara kritis tentang putra mahkota untuk The Washington Post, tidak mungkin terjadi tanpa sepengetahuan pangeran Mohammed. Kerajaan Arab Saudi menyangkal keterlibatan putra mahkota.

Surat itu menggambarkan MBS sebagai ancaman terhadap keamanan dan perdamaian di kawasan tersebut dan dunia, selain menjadi musuh sejati bagi kebebasan berekspresi.

“Darah Khashoggi masih hangat, dan pembunuhnya [Mohammed] bin Salman tidak diterima di negara Tunisia,” kata Presiden Journalists Syndicate Tunisia Naji Baghouri dalam unggahan blog di Facebook.

Keterangan foto utama: Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman berbicara selama Forum Inisiatif Investasi Masa Depan di Riyadh, Arab Saudi, tanggal 24 Oktober 2018. (Foto: Reuters)

Tunisia Kecam Kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top