sanksi amerika terhadap turki
Timur Tengah

Turki Bersorak Ketika Presiden Erdogan Balas Sanksi Amerika

Home » Featured » Timur Tengah » Turki Bersorak Ketika Presiden Erdogan Balas Sanksi Amerika

Hubungan Amerika Turki sebelumnya sangatlah baik. Keduanya sekutu NATO, dan bahkan Presiden Trump secara gamblang menyatakan, dia menyukai Presiden Recep Tayyip Erdogan. Tapi kini, AS memberikan sanksi terhadap Turki. Dan, Erdogan mengambil tindakan untuk membalas sanksi tersebut. 

Baca Juga: Analisis: Suramnya Aliansi Amerika-Turki

Oleh: Carlotta Gall (The New York Times)

Belum lama ini di pertemuan puncak NATO, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dipuji oleh Presiden Trump. Donald Trump bilang, “Saya suka dia, saya menyukainya.”

Pujian itu tidak bertahan lama. Beberapa hari kemudian, pemerintahan Trump memberlakukan sanksi keuangan terhadap dua menteri kabinet Erdogan, menjatuhkan nilai lira Turki dan para nasionalis menyerbu melalui media Turki. Akhir pekan lalu Erdogan melakukan tindakan untuk menanggapi sanksi Amerika terhadap Turki itu.

Sanksi Amerika untuk Turki ini telah menyebabkan ketakutan akan adanya kerenggangan yang tidak dapat diperbaiki dalam hubungan antara sekutu ini, yang dilakukan oleh dua pemimpin yang masing-masing menganggap diri mereka ahli dalam tawar-menawar. Kasus yang memicu hal ini adalah penahanan seorang pendeta Amerika, Andrew Brunson, yang ditangkap Erdogan setelah kudeta yang gagal pada tahun 2016 dan dituduh melakukan tindakan spionase.

Politik agresif mengalir di nadi Erdogan, tulis seorang kolumnis Turki, dan dalam hal ini, tampaknya, hal yang sama juga ada di nadi Trump. Memang, menurut para diplomat, beberapa panggilan telepon yang dilakukan antara dua pemimpin tahun ini tidak berlangsung lancar.

Dalam suasana nasionalistis saat ini, banyak rakyat Turki bahkan memuji tanggapan Erdogan.

Di seluruh spektrum, politisi Turki, meskipun adanya kesenjangan di antara mereka, bersatu melawan Amerika Serikat (AS) karena membekukan aset menteri dalam negeri dan menteri keadilan Turki pekan lalu.

Sebagian besar partai oposisi di Parlemen mengecam sanksi Amerika Serikat dalam pernyataan bersama, dan Kamar Dagang dan Industri dan organisasi bisnis lainnya juga turut mengecam sanksi Amerika terhadap Turki tersebut.

Dewan kotapraja Ceyhan, di provinsi Adana, Turki selatan, mengumumkan bahwa mereka telah mencabut status kota kerja sama mereka, Frisco, Texas, karena adanya perselisihan itu.

Baca Juga: Apa Arti Kemenangan Erdogan bagi Masa Depan Turki?

Pendukung Erdogan berseru di Twitter dengan hashtag #Emperyalizmeköleolmayacağız (Kita tidak akan menjadi budak imperialisme), walau juga mengakui,  krisis politik tidak akan membantu ekonomi yang telah memburuk.

“Saya memiliki perusahaan dan dolar mempengaruhi hampir seluruh bisnis kami,” kata sebuah unggahan Twitter oleh Erkan Babur, seorang insinyur dari Tokat, sebuah provinsi di wilayah Laut Hitam, dan seorang anggota eksekutif lokal dari Partai Gerakan Nasionalis sayap kanan. “Tetapi kita tidak dilahirkan sebagai bos dari ibu kita. Dan bukan dolar yang membuat kita menjadi bos.”

“Kami akan menutup perusahaan kami jika diperlukan dan melukis sepatu, menjual bagel, bersyukur kepada Tuhan, tetapi jangan pernah membuat Turki menderita karena Anda,” tambahnya.

Surat kabar, sebagian besar dari mereka sekarang dikuasai oleh pengusaha yang dekat dengan presiden, juga mengambil sikap anti-Amerika.

“Ketahui batas Anda, AS,” bunyi salah satu judul dalam harian Milliyet. Bahkan surat kabar Sözcü, surat kabar nasionalis agresif yang menentang Erdogan, meminta pemerintah tidak tunduk. “Berdiri tegap, itu sudah cukup bagi kami,” tulis salah satu tajuk utama.

Bahkan sebelum Erdogan memerintahkan sanksi balasan pada hari Sabtu (4/8) terhadap dua pejabat Amerika, beberapa analis memperkirakan bahwa ia akan meningkatkan ketegangan dalam hubungan kedua negara itu.

Soner Cagaptay, direktur Program Penelitian Turki di Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat, memprediksi akan adanya “tanggapan yang tidak rasional dari Turki.”

“Setengah dari rakyat Turki, termasuk banyak di orang terdekat Erdogan, telah ‘meminum Kool-Aid’ dan percaya bahwa Erdogan sedang diserang (oleh musuh domestik dan asingnya) karena dia ingin membuat Turki hebat lagi,” tulis Cagaptay dalam pesan teks.

Kemal Can, kolumnis di koran oposisi Cumhuriyet, mengatakan bahwa ada banyak perselisihan yang disebabkan oleh gaya pribadi Erdogan.

Baca Juga: Amerika Kenakan Sanksi untuk 2 Pejabat Turki atas Penahanan Pastor Andrew Brunson

“Kadang-kadang menjadi pedagang licik, kadang-kadang keras kepala, kadang-kadang membelot, kadang tunduk, tetapi selalu dengan keyakinan bahwa dia akan mencapai tujuannya pada akhirnya,” tulis Can. “Keadaan menta gaya ini yang sangat dipercaya oleh Erdogan, saat ia membentuk lingkaran orang-orang terdekatnya dengan keyakinan agama yang sama.”

Nilai tukar mata uang asing ditampilkan di Istanbul minggu lalu. Sejak Amerika Serikat mengumumkan sanksi terhadap Turki, lira telah mencapai rekor terendahnya terhadap dolar. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Ozan Kose)

Kecenderungan Erdogan untuk mengeliling diri dengan orang-orang yang akan menurutinya, mungkin telah membuatnya salah paham dalam menilai politik domestik di Amerika Serika. Dan salah memperhitungkan, seberapa jauh ia bisa mendesak AS.

“Yang ada di pikirannya adalah ‘kami sangat berharga dan Amerika tidak akan kemana-mana,'” kata Ahmet Kasim Han, profesor dalam hubungan internasional di Kadir Has University di Istanbul.

Baca Juga: Mengapa Trump Jatuhkan Sanksi pada Turki, Sekutu Utamanya di NATO

Pemikiran ini tidak hanya salah, tapi juga berbahaya, kata Han. “Ini mengarah pada eskalasi yang akan sangat sulit untuk dikendalikan, dan benar-benar dapat mengarah pada titik di mana semua hubungan bisa putus.”

Kombinasi kepribadian Erdogan dan Trump membuat hasil akhir dari perselisihan ini tidak dapat diprediksi, tulis Asli Aydintasbas, seorang rekan dari Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri, di situs webnya.

“Ada kemungkinan, dalam tujuh atau delapan bulan, Brunson akan duduk di rumahnya di North Carolina, Atilla akan kembali ke Turki, dan Trump akan mengoceh tentang Erdogan di Twitter sekali lagi,” tulis Aydintasbas, menggambarkan kesepakatan yang diusulkan untuk menukar pendeta untuk Mehmet Hakan Atilla, seorang bankir Turki yang dihukum oleh pengadilan Amerika.

“Tetapi juga mungkin bahwa Turki akan menjadi Venezuela berikutnya, yang bentrok dengan Barat dan menghadapi kemerosotan ekonomi yang mengerikan,” tambahnya. “Tidak ada yang bisa memprediksi.”

Namun Erdogan, beberapa analis menunjukkan, juga bisa menjadi pragmatis, yang mampu melakukan kebijakan yang sangat bertolak belakang kapanpun ia mau.

Pejabat yang dekat dengannya terus menawarkan jaminan bahwa kesepakatan akan dibuat. Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu telah berkali-kali mengatakan, perundingan sedang berlangsung. Dan laporan yang muncul pada Selasa (7/8) mengatakan, delegasi Turki akan melakukan perjalanan ke Washington dalam beberapa hari.

Berat Albayrak, menteri keuangan dan perbendaharaan yang juga menantu Erdogan, menyatakan keyakinannya dalam wawancara televisi pada hari Jumat (3/8). “Hubungannya tidak akan pernah putus,” kata Albayrak, menyamakan perselisihan itu dengan pertengkaran dalam sebuah keluarga.

“Bahkan dua saudara kandung dalam rumah tangga yang sama tidak dapat saling setuju dalam segala sesuatu,” katanya. “Istri dan suami, pasangan selama 40 tahun tidak dapat saling setuju dalam segala hal. Mereka terkadang berdebat tapi kemudian mereka berdamai.”

Komentarnya dimaksudkan untuk menenangkan pasar keuangan yang telah menderita kerugian dalam seminggu terakhir sejak Amerika Serikat mengumumkan sanksinya.

Sedat Ergin, mantan koresponden AS untuk surat kabar Hurriyet yang telah meliput hubungan Amerika-Turki selama lebih dari 40 tahun, mengatakan, pengendalian kemerosotan ekonomi akan menjadi prioritas utama Erdogan.

Turki Bersorak Ketika Presiden Erdogan Balas Sanksi Amerika

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top