Modernisasi Militer
Asia

Uji Coba Senjata Taktis Korea Utara Sorot Modernisasi Militer

Berita Internasional >> Uji Coba Senjata Taktis Korea Utara Sorot Modernisasi Militer

Kim Jong-un kembali melakukan uji coba senjata. Kali ini pemimpin Korea Utara itu mengincar pemodernisasian persenjataannya. Walaupun senjata yang diuji coba belum diidentifikasi, media Korea Utara menekankan, itu adalah senjata modern baru.

Baca juga: Korea Utara: Kim Jong-un Kembali Uji Coba Senjata Rahasia Baru

Oleh: Hyonhee Shin (Reuters)

Korea Utara mengklaim minggu lalu bahwa mereka telah melakukan uji coba terhadap “senjata taktis ultramodern” yang belum diidentifikasi. Hal itu menyorot keinginan mereka untuk meningkatkan persenjataan konvensionalnya dan meyakinkan militernya seiring pembicaraan untuk mengakhiri persenjataan nuklir dilakukan, ujar analis.

Pemimpin Korea Utara menyaksikan uji coba senjata taktis yang baru dikembangkan tersebut, yang bisa berguna sebagai “tembok besi”, media pemerintah melaporkan Jumat (16/11), tanpa memberikan detil tentang senjata tersebut.

Ini adalah observasi pertama Kim terhadap uji coba senjata tahun ini dan bisa memperumit pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat yang sudah tersendat. Washington dan Seoul sama-sama berusaha mengecilkan makna perkembangan ini dalam upaya nyata untuk tidak semakin memundurkan negosiasi.

Para ahli mengatakan, tes ini adalah bagian dari inisiatif Kim untuk mengubah kekuatan militer konvensional andalannya, dari 1,3 juta pasukan menjadi senjata berteknologi tinggi.

“Hal ini adalah reformasi militer versi Korea Utara,” ujar Choi Kang, wakil presiden dari Asan Institute for Policy Studies di Seoul.

“Jika kita harus menemukan pesan tersirat bagi dunia luar, itu adalah ‘Jangan remehkan kami, kami memodernisasi diri juga.’”

Persenjataan canggih baru bisa jadi semakin penting jika negara itu akan meninggalkan setidaknya sebagian dari persenjataan nuklir mereka.

Walaupun pengeluaran Korea Utara, yang masih berada di bawah sanksi berat, untuk pertahanan bisa jauh dilampaui oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan, pasukan mereka yang siap perang, persenjataan dan sistem roket altileri multi-luncur (MLRS) bisa jadi ancaman besar bagi sekutu.

Militer Korea Utara memiliki hampir 5.500 MLRS, 4.300 tank, 2.500 kendaraan lapis baja, 810 jet temput, 430 kendaraan perang dan 70 kapal selam, menurut pengamatan kementerian pertahanan Korea Selatan pada tahun 2016.

Pusat Kajian Internasional dan Strategis minggu lalu mengatakan, mereka telah mengidentifikasi setidaknya 13 pangkalan nuklir yang tidak diumumkan di dalam Korea Utara.

Wadah pemikiran yang berbasis di Washington juga mengatakan, Pyongyang telah mengembangkan unit hovercraft (kapal bantalan udara) untuk 200.000 angkatan bersenjatanya sebagai bagian dari motivasi modernisasi militer.

Kim juga telah mendorong untuk memodernisasi lini produksi pabrik-pabrik amunisi dan mengganti senjata-senjata dan teknologi usang sejak dia naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 2011.

“Industri pertahanan harus mengembangkan dan memproduksi senjata strategis yang kuat dan perangkat berat militer sesuai gaya kita, menyempurnakan produksi struktur berorientasi-Juche dan memodernisasi lini produksi berdasarkan teknologi dan ilmu paling mutakhir,” ujarnya dalam pidato Tahun Baru 2018, mengacu pada prinsip mengandalkan diri sendiri yang telah lama dianut negara itu.

Kedua Korea setuju saat pertemuan mereka di bulan September di Pyongyang, untuk secara drastis mengurangi ketegangan militer di sepanjang perbatasan, dan Korea Utara telah mulai menonaktifkan peluncuran artileri di pesisir barat yang rentan, ujar kementerian pertahanan Seoul.

Namun pakta itu tidak termasuk menyingkirkan MLRS dari area-area peluncuran, di mana beberapa senjata jarak jauh dan peluncur misil masih bisa mencapai Seoul.

Baca juga: Ahli Geologi: ‘Situs Uji Coba Nuklir Korea Utara Segera Runtuh’

Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, melaporkan bahwa senjata yang baru diuji coba ini adalah model terbaru dari MLRS, mengutip seorang sumber militer yang mengetahui informasi intelijen ini. Pakar-pakar lain mengatakan, senjat itu bisa jadi adalah misil jarak pendek baru.

Kim Dong-yub, seorang pakar militer dari Institut Kajian Timur Jauh di Kyungnam University mengatakan, dengan memamerkan upaya memodernisasi senjata, Kim bisa menenangkan jenderal-jenderal militer garis keras dan publik Korea Utra yang bisa jadi khawatir akan masa depan bebas nuklir mereka.

“Dengan Kim secara publik mendeklarasikan bahwa ekonomi sebagai prioritas baru dan mengatakan Korea Utara akan melakukan denuklirisasi, banyak pihak di militer yang melihat menurunnya kepentingan dan dukungan bisa jadi ragu dan gelisah, karena ia belum mengamankan konsesi penting seperti deklarasi berakhirnya perang,” ujar profesor Kim.

“Hal itu bisa jadi penting baginya untuk mengonsolidasi negaranya, walaupun panduan lapangan seperti itu juga bisa memberi sinyal negatif bagi dunia luar.”

Pelaporan oleh Hyonhee Shin; Disunting oleh LIncoln Feast

Keterangan foto utama: Tentara Korea Selatan berjaga saat alat berat menghancurkan post di Desa Demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea di Cheorwon, 15 November 2018. (Foto: Jung Yeon-je/Reuters)

Uji Coba Senjata Taktis Korea Utara Sorot Modernisasi Militer

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top