Ultimatum, Amerika Beri Rusia Waktu 60 Hari untuk Patuhi Kesepakatan INF
Amerika

Ultimatum, Amerika Beri Rusia Waktu 60 Hari untuk Patuhi Kesepakatan INF

Berita Internasional >> Ultimatum, Amerika Beri Rusia Waktu 60 Hari untuk Patuhi Kesepakatan INF

Amerika Serikat mengeluarkan ultimatum atas Rusia. Negara itu harus mematuhi perjanjian nuklir INF dalam waktu 60 hari. Jika tidak, Amerika akan menarik diri dari perjanjian itu, yang akan memicu perlombaan senjata baru.

Oleh: Alex Ward (Vox)

Baca Juga: Presiden Ukraina Siap Lakukan Dialog ‘Format Normandia’ dengan Rusia

Pemerintahan Trump baru saja mengumumkan bahwa pihaknya akan memberi Rusia batas waktu 60 hari untuk mematuhi perjanjian rudal yang telah berusia puluhan tahun atau Amerika Serikat (AS) akan menarik diri dari perjanjian itu—yang berpotensi akan memulai perlombaan senjata.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengumumkan pada pertemuan NATO Selasa (4/12) bahwa Rusia telah melanggar Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF), sebuah perjanjian kontrol senjata yang ditandatangani oleh Presiden Ronald Reagan dan pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev pada bulan Desember 1987. Perjanjian tersebut melarang AS dan Rusia membangun rudal jelajah darat yang bisa terbang antara 310 dan 3.400 mil.

Kedua negara tersebut menandatangani perjanjian itu untuk meningkatkan hubungan menjelang berakhirnya Perang Dingin. Namun, kedua pihak masih bisa—dan sudah—membangun rudal jelajah yang dapat ditembakkan dari udara atau laut.

Pompeo menyatakan bahwa Rusia telah jelas melanggar perjanjian itu dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2014, pemerintahan Obama menyalahkan Kremlin karena menguji rudal jelajah dan itu merupakan pelanggaran langsung terhadap perjanjian tersebut. (Rusia mengatakan AS telah melanggar perjanjian juga, tuduhan yang dibantah AS.)

Dan para menteri luar negeri NATO, termasuk Pompeo, setuju dalam pernyataan bersama “bahwa Rusia telah mengembangkan dan mengerahkan sistem rudal … yang melanggar Perjanjian INF,” menambahkan “sekarang terserah Rusia apakah akan tetap melestarikan Perjanjian INF atau tidak.”

Namun, pengumuman menteri luar negeri itu adalah sikap yang lebih lunak dari yang sebelumnya AS tandaskan. Presiden Donald Trump menyatakan pada bulan Oktober bahwa ia berencana untuk “mengakhiri perjanjian.” Tetapi Kanselir Jerman Angela Merkel—bersama dengan rekan-rekannya di Eropa—meyakinkan Trump untuk memberi Rusia satu kesempatan terakhir untuk mematuhi perjanjian itu, The Washington Post melaporkan pada hari Selasa (4/12).

Ini juga sedikit mengejutkan karena Trump menge-tweet pada hari Senin (3/12) bahwa ia akan melakukan apa saja, termasuk pembelanjaan pertahanan yang lebih rendah, untuk mengekang risiko perlombaan senjata dengan Rusia (dan China).

Namun Presiden Rusia Vladimir Putin terus mengembangkan misilnya meski ada tekanan dari AS dan Eropa. Pada bulan Maret, ia bahkan membuat klaim yang mencolok bahwa Rusia akan segera memiliki rudal jelajah bertenaga nuklir yang dapat mencapai Amerika Serikat.

Itu yang pertama kali mendorong AS untuk mengakhiri kesepakatan.

“Selama dua pemerintahan, Amerika Serikat dan sekutu kami telah berusaha untuk membawa Rusia kembali ke kepatuhan penuh yang dapat terverifikasi dengan INF,” kata seorang pejabat senior pemerintahan Trump kepada saya pada bulan Oktober, berbicara dengan syarat anonim pada saat itu untuk membahas pembicaraan sensitif ini.

“Meskipun kami keberatan, Rusia masih terus memproduksi dan mengerahkan rudal jelajah yang dilarang itu dan telah mengabaikan permintaan untuk transparansi,” pejabat itu menambahkan.

Presiden Ronald Reagan dan Sekretaris Jenderal Soviet Mikhail Gorbachev menandatangani Perjanjian INF di Gedung Putih pada bulan Desember 1987. (Foto: UIG/Getty Images/Arsip Sejarah Universal)

Tetapi argumen pemerintah tersebut belum mengesankan para kritikus atas penarikan diri dari perjanjian itu.

“Fakta bahwa AS mengumumkan bahwa pihaknya ‘berharap’ Rusia akan mengubah perilakunya tanpa menawarkan untuk melibatkan Rusia secara langsung bukanlah sebuah strategi,” Derek Johnson dari Global Zero, sebuah organisasi senjata anti-nuklir, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikirim melalui email. “Ini adalah pertaruhan yang membahayakan keamanan nasional AS, kemitraan transatlantik, dan stabilitas global.”

Para ahli tetap tidak yakin apakah meninggalkan perjanjian itu adalah ide yang baik atau buruk. Beberapa orang mengatakan meninggalkan perjanjian itu dapat menyebabkan Rusia mengembangkan lebih banyak senjata dan mendorong perlombaan senjata, sementara yang lain mengatakan bahwa tetap di dalam perjanjian tidak akan menghambat kecakapan militer Amerika.

Apapun itu, AS telah memberi Rusia ultimatum, dan tidak jelas apakah Putin akan menyetujuinya.

Mengapa AS harus tetap dalam Perjanjian INF—dan mengapa AS harus keluar

Para ahli yang saya ajak bicara pada bulan Oktober ketika Trump mempertimbangkan secara serius tentang penarikan dari INF setuju bahwa Rusia telah melanggar perjanjian dan bahwa AS perlu melakukan sesuatu tentang hal itu. Namun, mereka memiliki pendapat yang berbeda mengenai bagaimana cara melakukannya.

Jawabannya terbagi ke dalam dua kubu: mereka yang merasa AS harus mencoba memaksa Rusia untuk mematuhi apa yang mereka katakan adalah perjanjian bersejarah dan bermanfaat, dan mereka yang mengatakan AS harus meninggalkan perjanjian itu karena itu membahayakan keamanan Amerika.

Mengapa AS harus tetap di dalam Perjanjian INF

Perjanjian di telah bermanfaat untuk mengurangi ketegangan antara AS dan Rusia, beberapa ahli mengatakan, sebagian besar karena kedua negara tersebut telah menghancurkan total sekitar 2.600 rudal jelajah darat bersama dengan peluncurnya.

Itu sangat penting bagi sekutu AS di Eropa, yang secara langsung terancam oleh persediaan Rusia. “Orang-orang yang tinggal di Eropa lebih peduli dengan INF karena mereka berada di dalam jarak rentang INF,” Heather Williams, seorang ahli pengendalian senjata di King’s College di London, mengatakan kepada saya.

Rusia memamerkan rudal jelajah di Pameran Pertahanan Maritim Internasional di St. Petersburg pada 28 Juni 2017. (Foto: AFP/Getty Images/Olga Maltseva)

Para ahli juga menunjukkan bahwa meninggalkan perjanjian tidak membuat Rusia ingin mematuhinya. “Meninggalkan perjanjian tidak akan membuat mereka patuh, dan malah memungkinkan mereka untuk menjustifikasi penumpukan lebih banyak rudal sembari mengecam kami sebagai orang jahat,” kata Vipin Narang, seorang ahli nuklir di MIT.

Ini adalah kekhawatiran yang sah. Ada kemungkinan Rusia bahkan lebih berani dalam pengembangan rudal jelajah berbasis darat, dan bahwa penandatangan yang tersisa dalam perjanjian itu agak membatasi ambisi Rusia. Tetapi jika AS mengakhiri perjanjian itu, Rusia dapat membangun persenjataannya secara terbuka dan lebih cepat—sementara mengklaim bahwa AS telah mengizinkannya untuk melakukan itu.

Akhir dari perjanjian berarti awal dari perlombaan senjata baru antara kedua negara tersebut, di mana masing-masing pihak akan mencoba untuk menyaingi yang lainnya dengan persenjataan yang lebih baik dan mengembangkan persenjataan mereka seperti rudal jelajah darat. Itu, ditambah dengan masalah lain dalam hubungan itu, berpotensi menempatkan kedua negara tersebut di jalan menuju perang, seperti yang dikhawatirkan banyak orang.

Ada beberapa cara untuk menekan Rusia agar mematuhi perjanjian, para ahli memberi tahu saya. Ini salah satu ide dari James Miller, pejabat kebijakan Pentagon dari 2012 hingga 2014: AS harus mengembangkan rudal jelajah yang dapat membawa senjata nuklir dan dapat diluncurkan di laut.

Ingat: Perjanjian INF tidak melarang AS untuk mengerahkan dan menguji rudal jelajah yang dapat ditembakkan dari pesawat, kapal, atau kapal selam—hanya daratan. Menambah persediaan senjata-senjata Amerika yang lain mungkin akan menekan Rusia secara finansial dan militer untuk datang ke meja perundingan guna membahas cara meningkatkan kesepakatan kedua belah pihak.

Presiden Rusia Vladimir Putin berpose untuk foto di dalam pesawat yang dapat membawa rudal jelajah pada 16 Agustus 2005. (Foto: AFP/Getty Images/Vladimir Rodionov)

Tetapi jika Trump mengakhiri perjanjian itu 60 hari lagi, AS akan kehilangan semua pengaruhnya dengan Rusia dalam masalah ini.

Mengapa AS harus meninggalkan Perjanjian INF

Pakar lain berpendapat bahwa rencana untuk meninggalkan perjanjian itu sudah lama tertunda. Alasan utamanya, kata mereka, adalah bahwa Amerika harus memiliki senjata-senjata itu jika negara-negara lain tidak berhenti membuatnya.

“Tidak ada harapan untuk meminta Rusia kembali patuh,” Matthew Kroenig, seorang ahli nuklir di lembaga pemikir Dewan Atlantik, menulis dalam sebuah unggahan blog pada bulan Oktober. “Tidak masuk akal bagi Amerika Serikat untuk secara sepihak dibatasi oleh pembatas yang tidak mempengaruhi negara lain.”

Memiliki rudal jelajah yang diluncurkan dari darat mungkin tidak benar-benar berguna untuk memerangi Rusia saat ini, para ahli ini mengatakan, tetapi mereka diperlukan untuk melawan ancaman militer yang berkembang dari China. Itu adalah argumen yang John Bolton, yang menjadi penasihat keamanan nasional Trump pada bulan April, dibuat selama bertahun-tahun ketika dia masih menjadi seorang cendekiawan di luar pemerintahan.

Pompeo menyinggung ini dalam pidato pada hari Selasa (4/12): “Tidak ada alasan bagi Amerika Serikat untuk terus menyerahkan keuntungan militer penting ini kepada kekuatan revisionis seperti China.”

Kasus ini ada manfaatnya. Menurut laporan Pentagon 2018, China telah meningkatkan persenjataan rudal jelajahnya dengan pesat, yang kemungkinan akan mempersulit bagi kapal perang AS untuk mendekati pantai negara itu selama pertempuran. Para ahli mengatakan bahwa hal itu menempatkan AS pada kerugian besar dan itu harus segera dihentikan.

Eric Sayers, seorang ahli pertahanan di Pusat Keamanan Amerika Baru, mengatakan kepada saya bahwa tidak akan terlalu sulit untuk menempatkan rudal jelajah di tanah dekat China—seperti di Jepang atau Filipina—selama negara-negara itu setuju. AS juga bisa mengerahkan rudal jelajah jarak jauh di sepanjang pinggiran China untuk menangkis kapal-kapal China.

Terlebih lagi, lanjutnya, senjata-senjata itu lebih murah secara keseluruhan daripada varian udara atau lautnya karena rudal jelajah darat biasanya diluncurkan dari truk. Pesawat, kapal, dan kapal selam sangat kompleks untuk dibangun dan sangat mahal untuk dipertahankan, membuat rudal jelajah darat merupakan pilihan yang baik.

Akibatnya, mereka yang ingin AS meninggalkan Perjanjian INF mengatakan AS telah kehilangan senjata vital untuk melindungi negara. “Ada alasan mengapa China dan negara lain yang memilikinya, dan ada alasan mengapa Rusia sedang mengembangkannya,” kata Rebeccah Heinrichs, ahli nuklir di Institut Hudson.

John Bolton sedang membongkar kontrol senjata global

Tetapi walaupun argumen Bolton dalam kasus ini memiliki manfaat, keputusan ini juga merupakan bagian dari upaya yang lebih luas oleh pemerintahan Trump untuk membatalkan kerja pengawasan senjata selama bertahun-tahun. Itu semua kebetulan berkorelasi dengan waktu Bolton di Gedung Putih.

Bolton sangat terbuka tentang ketidaksukaannya terhadap perjanjian pengawasan senjata selama bertahun-tahun. Dalam bukunya tahun 2007, Surrender Is Not an Option: Defending America at the United Nations, ia menghabiskan puluhan halaman untuk mencerca apa yang ia sebut “teologi kontrol senjata” yang “telah dengan susah payah dikembangkan selama Perang Dingin, dan terus mendukung kehidupan selama kepresidenan Clinton dengan pengabdian dan doa alih-alih kenyataan yang sulit.”

Baca Juga: Pengakuan Bersalah Michael Cohen Tunjukkan Rusia Miliki ‘Pengaruh’ Atas Trump

Penasihat Keamanan Nasional John Bolton bukanlah penggemar kontrol senjata global. Di foto ini dia sedang berada di dalam rapat di Oval Office dengan Presiden Donald Trump pada 22 Mei 2018. (Foto: Getty Images/Oliver Contreras)

Oleh karena itu tidak mengejutkan jika pemerintahan Trump menarik diri dari beberapa perjanjian kontrol senjata selama enam bulan Bolton menjabat sebagai penasihat keamanan nasional. Sebagai contoh, pada bulan Mei AS mengundurkan diri dari kesepakatan nuklir Iran, yang pemerintahan Obama buat untuk membatasi Iran dalam membuat senjata nuklir. Tetapi Bolton—dan Trump—merasa bahwa itu tidak cukup, dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari kesepakatan.

Bolton telah melakukan perjalanan ke Rusia setidaknya dua kali untuk bertemu dengan para pemimpin Rusia tentang pengendalian senjata. Dalam pertemuan pertama, mereka secara khusus membahas perpanjangan perjanjian nuklir START Baru antara Amerika Serikat dan Rusia selama lima tahun lagi. Kesepakatan itu mulai berlaku pada tanggal 5 Februari 2011, dengan tujuan membatasi ukuran arsenal nuklir Amerika dan Rusia, dua negara dengan ukuran arsenal terbesar di dunia.

Pada saat itu, tiga sumber yang memahami pemikiran Bolton mengatakan kepada saya pada saat itu bahwa dia “sangat kesal” dia harus mendiskusikan perpanjangan perjanjian ketika dia berbicara kepada Putin tentang hal itu. Sebelum bergabung dengan pemerintahan, Bolton menyebut kesepakatan itu “perlucutan sepihak” oleh Amerika Serikat.

Beberapa ahli khawatir jika INF berakhir, maka perjanjian nuklir START Baru juga akan berakhir. Bolton, bagaimanapun, kemungkinan akan merayakan berakhirnya perjanjian itu.

 Keterangan foto utama: Menteri Luar Negeri Mike Pompeo pada tanggal 4 Desember 2018 mengatakan bahwa Rusia memiliki batas waktu 60 hari untuk mematuhi Perjanjian INF, atau AS akan menarik diri dari perjanjian itu. (Foto: Getty Images/Mark Wilson)

Ultimatum, Amerika Beri Rusia Waktu 60 Hari untuk Patuhi Kesepakatan INF

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top