Kristen di Yerusalem
Timur Tengah

Umat Kristen Yerusalem Peringatkan Upaya Israel Merebut Tanah Mereka

Gereja St. Stephen di Yerusalem yang diduduki, dirusak pada tanggal 21 September 2017. (Foto: Twitter/Richard Hardigan)
Berita Internasional >> Umat Kristen Yerusalem Peringatkan Upaya Israel Merebut Tanah Mereka

Umat Kristen di Yerusalem memperingatkan upaya Israel dalam merebut tanah mereka. Anggota parlemen Israel sebelumnya telah berulang kali berupaya untuk menyita atau menasionalisasi tanah milik gereja. Populasi Kristen Palestina telah menurun secara dramatis sejak berdirinya Israel. Umat ​​Kristen membentuk dua persen dari populasi Israel dan wilayah Palestina—jumlahnya dulu sekitar 15 persen. Di Betlehem saja, populasi Kristen telah merosot menjadi 7.500 dari 20 ribu pada tahun 1995.

Baca juga: Kedubes AS di Yerusalem, ‘Picu Kemarahan Umat Islam dan Kristen’ Dunia

Oleh: Middle East Monitor

Umat Kristen Palestina yang tinggal di Yerusalem yang diduduki, berjuang melawan upaya Israel untuk mengambil tanah mereka. Perjuangan mereka untuk tetap berada di kota bersejarah itu diangkat oleh Christian Today dalam sebuah laporan, di mana kantor berita Kristen tersebut mengatakan bahwa “Orang-orang Kristen di Yerusalem memperingatkan upaya lain oleh anggota parlemen Israel untuk mengambil tanah yang mereka miliki.”

Anggota parlemen Israel telah berulang kali berupaya untuk menyita atau menasionalisasi tanah milik gereja. Ancaman terbaru terhadap komunitas Kristen ini dibuat sebelum Natal; itu dianggap sebagai kesempatan kelima di mana faksi-faksi di dalam koalisi yang memerintah berusaha untuk memberlakukan undang-undang yang akan memungkinkan perampasan tanah-tanah Gereja.

Upaya sebelumnya untuk memaksakan apa yang disebut “RUU Hak Penyewa”, kata Christian Today, menerima kecaman di seluruh dunia, dan bahkan menyebabkan penutupan sementara Gereja Makam Suci di Kota Tua—situs bersejarah penyaliban dan kebangkitan Yesus.

Patriarkh Yerusalem, Theophilos III—yang merupakan Pemimpin Kristen Ortodoks paling senior di wilayah itu—telah sangat kritis terhadap upaya untuk menyita tanah dari gereja-nya dan gereja-gereja lainnya. Dia telah berkeliling Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Uni Eropa untuk melobi menentang rancangan undang-undang Israel, yang coba dilakukan oleh anggota koalisi sayap kanan di dalam Knesset Israel.

Undang-undang ini telah berulang kali dikritik di seluruh dunia, di mana para politisi di London dan Washington menyatakan ketidaknyamanan. Selama kunjungan Patriark Yerusalem ke Inggris, Perdana Menteri Theresa May ditanyai tentang prospek yang lebih luas bagi orang Kristen di Tanah Suci tersebut.

Menurut Christian Today, May bahkan menyatakan keprihatinannya di House of Commons (Dewan Rakyat), dan mengatakan kepada anggota parlemen Inggris: “Kami tentu mendorong pemerintah Israel untuk melakukan semua yang mereka bisa untuk menegakkan nilai-nilai kesetaraan untuk semua yang diabadikan dalam hukum mereka… Saya akan terus bekerja dengan pemerintah, dengan komunitas internasional, dan dengan PBB, untuk mendukung hak-hak minoritas, termasuk orang Kristen.”

Uskup Agung Canterbury juga mengatakan telah menyatakan keprihatinannya atas terulangnya RUU yang diusulkan, yang akan mengancam properti gereja di Tanah Suci. Dalam sebuah wawancara dengan ITV, Justin Welby dilaporkan telah menyerukan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk terus menegakkan kebebasan beragama dan aturan hukum: “Undang-undang yang diusulkan ini akan memiliki efek yang sangat serius pada gereja-gereja Kristen di Yerusalem, tempat yang kami khawatirkan tahun ini,'” katanya. “Saya mengagumi Perdana Menteri Netanyahu yang mencerminkan reputasi Israel untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan dan aturan hukum. Saya berharap dia akan terus melakukannya.”

Undang Undang Negara Bangsa Yahudi

Gereja Sepulher Kudus yang ikonis di Yerusalem. Ulama Katolik di kota tersebut sangat prihatin dengan undang-undang baru yang memberi status khusus kepada orang Yahudi. (Foto: iStock)

Populasi Kristen Palestina telah menurun secara dramatis sejak berdirinya Israel. Umat ​​Kristen membentuk dua persen dari populasi Israel dan wilayah Palestina—jumlahnya dulu sekitar 15 persen. Di Betlehem saja, populasi Kristen telah merosot menjadi 7.500 dari 20 ribu pada tahun 1995.

Walau ketegangan di Timur Tengah telah menyebabkan umat Kristen melarikan diri dari wilayah Timur Tengah itu, namun di Palestina, pendudukan Israel disebut-sebut sebagai penyebab utama imigrasi dan penurunan jumlah penduduk komunitas Kristen.

Dua minggu lalu, Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt memerintahkan peninjauan global yang independen terhadap penindasan terhadap orang Kristen. Tinjauan Kementerian Luar Negeri yang belum pernah terjadi sebelumnya ini akan membuat rekomendasi tentang langkah-langkah praktis yang dapat diambil pemerintah untuk mendukung mereka yang terancam.

Sebanyak 200 juta orang Kristen dikatakan berisiko mengalami penindasan di seluruh dunia, termasuk di negara-negara seperti Pakistan, China, dan beberapa bagian di Timur Tengah.

Tidak jelas apakah tinjauan itu akan melaporkan tentang penindasan terhadap orang Kristen Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel. Para kritikus telah menunjuk hubungan dekat antara Inggris dan Israel, untuk skeptisisme mereka atas tinjauan mengenai nasib orang Kristen.

Baca juga: Opini: Jangan Sisihkan Orang Arab Kristen dari Perjuangan Palestina

Serangan oleh pemukim Israel di gereja-gereja dan situs keagamaan lainnya telah menjadi fitur umum di Palestina yang diduduki. Coretan-coretan bahasa Ibrani yang kasar sering ditemukan di dinding-dinding gereja, dan banyak lagi yang dirusak. Sekelompok pemukim Yahudi Israel telah melakukan ratusan serangan terhadap situs-situs serta fasilitas, pertanian, mobil, gereja, masjid, dan rumah umat Kristen dan masyarakat Palestina.

Para pemimpin Kristen Palestina yang berkeliling ke Barat berulang kali menyoroti risiko yang mereka hadapi di bawah pendudukan Israel. Seorang anggota Patriarkat Katolik Yunani Melkite di Yerusalem, memperingatkan audiensi di London tentang penderitaan orang-orang Kristen Arab, dan mengatakan bahwa “pelarian orang-orang Kristen Arab dari tanah suci akan mengubah gereja menjadi museum.”

Para pemimpin Gereja juga mengecam Israel dan menggambarkan apa yang mereka katakan sebagai “upaya sistematis untuk merusak integritas Kota Suci Yerusalem dan melemahkan (kehadiran) orang Kristen” di Palestina.

Keterangan foto utama: Gereja St. Stephen di Yerusalem yang diduduki, dirusak pada tanggal 21 September 2017. (Foto: Twitter/Richard Hardigan)

 

Umat Kristen Yerusalem Peringatkan Upaya Israel Merebut Tanah Mereka

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top