perang dagang indonesia uni eropa
Berita Politik Indonesia

Uni Eropa dan Indonesia Menuju Perang Dagang

Home » Berita Politik Indonesia » Uni Eropa dan Indonesia Menuju Perang Dagang

Uni Eropa dan Indonesia sedang di ambang menuju perang dagang. Undang-undang Parlemen Eropa yang baru, melarang impor minyak sawit untuk penggunaan biofuel pada tahun 2020—sebuah langkah yang dianggap pemerintah Indonesia diskriminatif dan berjanji untuk melakukan tindakan balasan.

     Baca Juga: Apa Itu Perang Dagang? 9 Hal yang Jadi Mimpi Buruk Ahli Ekonomi

Oleh: John McBeth (Asia Times)

Sekitar seperempat dari 49 juta hektar lahan pertanian Indonesia kini dikerahkan untuk kelapa sawit, yang tahun lalu menghasilkan pendapatan devisa yang sangat tinggi yaitu sebesar $22,9 miliar. Itulah alasan mengapa pemerintah Indonesia sangat menentang keputusan Uni Eropa (UE) baru-baru ini untuk membatasi impor minyak nabati yang berharga bagi Indonesia itu.

Baik Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, telah meminta Uni Eropa untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap minyak sawit, Wakil Presiden tersebut bahkan mengisyaratkan pembalasan dengan membatasi Airbus—produsen pesawat Perancis—yang 112 pesawat jetnya telah beroperasi di Indonesia dan memiliki lebih dari 300 pemesanan dari maskapai negara tersebut.

Parlemen Eropa mengesahkan undang-undang tersebut pada Januari lalu, menetapkan tahun 2020 sebagai batas waktu untuk melarang semua impor minyak mentah sawit Uni Eropa, yang ditujukan untuk konversi menjadi bahan bakar nabati. Itu mencakup 40 persen dari 4,2 juta ton yang diekspor Indonesia ke 28 negara anggota Uni Eropa tahun lalu.

Dengan 36,5 juta ton yang diproduksi tahun lalu, Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Namun bagi para pencinta lingkungan, kenaikan tajam dari 8,3 juta ton yang dihasilkan pada tahun 2001, telah mengorbankan hutan hujan dan lahan gambut yang rusak di seluruh area yang luas di Pulau Sumatra dan Kalimantan di Indonesia.

Perkebunan kelapa sawit sekarang mencakup 11,9 juta hektar, lebih dari dua kali lipat luasnya daripada tahun 2012 ketika produksi dipercepat sebagai tanggapan terhadap peningkatan permintaan untuk biofuel, yang saat ini disebut oleh satu analis pasar sebagai gagasan “gegabah”, mengingat tekanan ekstra yang telah diberikan pada lingkungan dan mungkin pasokan makanan dunia.

Uni Eropa dan Indonesia Menuju Perang Dagang

‘SOS’ raksasa yang terukir di perkebunan kelapa sawit di Sumatra untuk menarik perhatian pada kerusakan yang disebabkan oleh deforestasi terhadap satwa liar dan penduduk asli di Indonesia. (Foto: Wikimedia)

Mengingat harganya, sawit mungkin yang paling efisien dari produksi tanaman yang digunakan untuk produksi biodiesel, tetapi bahkan para petani mengatakan bahwa itu hanya masuk akal ketika minyak mentah lebih dari US$70 per barel—tingkat harga yang sekarang baru tersentuh untuk pertama kalinya dalam empat tahun.

      Baca Juga: Trump Inginkan Perang Dagang, Ini yang Akan Terjadi

Uni Eropa, sebenarnya, hanya mengimpor 14 persen dari total ekspor 29 juta ton tahun lalu, jauh di bawah 65 persen yang masuk ke pasar Asia. Tetapi bahkan walau larangan Uni Eropa hanya berlaku untuk biofuel, Indonesia takut itu merupakan awal dari larangan-larangan lain di masa depan.

Merujuk pada moratorium penebangan hutan, pemulihan lahan gambut yang rusak, dan upaya untuk meningkatkan produktivitas dan mengembangkan lahan yang sudah terdegradasi, argumen pemerintah Indonesia sangat bergantung pada dampak sosial-ekonomi yang akan terjadi karena larangan itu.

Menurut angka resmi, 41 persen perkebunan kelapa sawit saat ini dikelola oleh 2,5 juta petani kecil yang menanggung sebanyak tujuh juta tanggungan; Selain itu, sektor ini secara keseluruhan mempekerjakan 5,5 juta pekerja dan 12 juta pekerja tidak langsung.

Dewan Negara Penghasil Minyak Sawit—yang dipimpin oleh mantan Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar—memperkirakan bahwa minyak sawit telah mengangkat 10 juta orang keluar dari kemiskinan selama dua dekade terakhir, tingkat yang secara signifikan lebih tinggi daripada di daerah di mana biji minyak tidak tumbuh.

“Kami ingin diadakannya dialog, bukan kebijakan yang menguntungkan petani di satu pihak dan merugikan petani di pihak lain,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan pada konferensi pembangunan berkelanjutan di Roma bulan lalu, di mana ia menuduh Uni Eropa melakukan diskriminasi.

Uni Eropa dan Indonesia Menuju Perang Dagang

Seorang pekerja menurunkan buah sawit dari perahu di sebuah perkebunan di Peat Jaya, Provinsi Jambi, Sumatra, Indonesia. (Foto: Reuters/Wahyu Putro)

Produsen minyak sawit mengatakan pentingnya pengelolaan yang berkelanjutan seharusnya tidak hanya fokus pada sawit dan dampaknya pada hutan dan lahan gambut, tetapi juga pada kontaminasi tanah, air, dan pencemaran lautan dari pupuk yang digunakan dalam produksi rape, kedelai, dan minyak bunga matahari di Eropa.

Mereka juga mengklaim bahwa industri kedelai dan sapi belum terlalu berhasil mengatasi masalah deforestasi yang sama, menunjuk pada peningkatan besar dalam produksi kedelai di lembah sungai Amazon di Brasil, di mana hutan ditebang untuk menanam tanaman minyak yang kurang efisien.

Majalah berita World Oil memperkirakan bahwa bagian Uni Eropa untuk konsumsi minyak sawit global akan turun dari 7,2 persen saat ini menjadi 6,9 persen pada tahun 2025, tertinggal jauh di belakang Indonesia dan India yang ada di angka 13-14 persen, sementara China diperkirakan akan mengambil tempat sebagai importir terbesar kedua di dunia.

Beberapa analis percaya bahwa perang dagang Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan China akan menguntungkan, mengingat keputusan terakhir pemerintah China untuk menghentikan pembelian kedelai AS dan, pada saat yang sama, menaikkan kuota impor minyak sawit Indonesia dari 3,7 juta menjadi 4,2 juta ton.

“Anda tidak suka melihat penurunan atau potensi kehilangan pasar apa pun,” kata seorang eksekutif minyak sawit. “Tetapi UE hanya keempat di belakang China, India, dan pasar domestik Indonesia, dan diperkirakan akan menjadi kurang berpengaruh seiring waktu.”

Hanya 17 persen dari perkebunan kelapa sawit yang sejauh ini telah disertifikasi di bawah skema Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO), yang diperkenalkan pada tahun 2011 sebagai langkah pertama untuk memenuhi standar yang diakui secara internasional yang ditetapkan oleh Meja Bundar tentang Minyak Sawit Berkelanjutan (RSPO).

Uni Eropa dan Indonesia Menuju Perang Dagang

Pemandangan yang menunjukkan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Sumatra Selatan, Indonesia, pada tanggal 16 Oktober 2010. (Foto: Reuters/Beawiharta)

“Industri kelapa sawit telah melakukan banyak hal untuk menciptakan produk yang lebih berkelanjutan,” kata eksekutif kelapa sawit. “Kita dapat meragukan keefektifan RSPO, tetapi yang tidak dapat diragukan lagi adalah bahwa industri dan pemerintah telah bergerak ke arah yang benar.”

Walaupun itu mungkin benar, kemajuan yang dicapai berjalan lambat dan menghadapi kemunduran. Investigasi Greenpeace baru-baru ini mengungkap bahwa Grup HSA yang berbasis di Yaman—pemasok minyak sawit ke Unilever, Nestle, PepsiCo, dan Mars—tahun lalu menggunduli 4.000 hektar hutan hujan di sepanjang Sungai Digoel di Papua tenggara dalam waktu dua bulan.

Ini merupakan suatu tanda dan indikasi bahwa inilah saatnya daerah yang paling terpencil pun harus diamati dengan cermat—Unilever kemudian mengumumkan pihaknya telah menangguhkan pesanan baru apa pun sampai HSA berupaya lebih untuk memenuhi kebijakan sumber minyak sawit berkelanjutan raksasa ritel itu.

Kelapa sawit adalah tanaman yang jauh lebih efisien dalam hal hasil per hektar dan harga daripada semua minyak nabati dan biji minyak, dan tidak menyebabkan kerusakan yang sama pada lahan itu sendiri, mengingat bahwa pohon-pohon itu hidup selama 20 hingga 25 tahun.

Tetapi kebutuhan akan peningkatan mekanisasi telah menjadi hal yang penting, dan Indonesia dan Malaysia kini juga menghadapi tantangan untuk melakukan penanaman kembali 160 ribu-190 ribu hektar per tahun antara tahun 2019 dan 2025, untuk mempertahankan tingkat produksi saat ini.

Keterangan foto utama: Seorang pekerja Indonesia meraup biji kelapa sawit di area perkebunan di Pelalawan, Provinsi Riau di Pulau Sumatra, Indonesia. (Foto: AFP/Adek Berry)

Uni Eropa dan Indonesia Menuju Perang Dagang

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top