Uni Eropa
Global

Uni Eropa dan Trump, Sekutu Canggung dalam Melawan Kebijakan Dagang China

Berita Internasional >> Uni Eropa dan Trump, Sekutu Canggung dalam Melawan Kebijakan Dagang China

Sementara para pemimpin di kedua sisi Atlantik memiliki keluhan yang sama terhadap praktik pasar China, pandangan mereka yang bertentangan tentang globalisasi telah melemahkan front bersama. Karena Amerika memiliki perselisihan tarif dengan Uni Eropa, dan Eropa prihatin dengan merkantilisme agresif Presiden AS, masih harus dilihat apakah dialog berkelanjutan mereka akan efektif dalam melawan pengaruh China. Keengganan secara umum terhadap perilaku komersial China adalah satu-satunya titik di mana kebijakan perdagangan Eropa bertemu dengan kebijakan Amerika Serikat saat ini.

Baca Juga: Uni Eropa dan Indonesia Menuju Perang Dagang

Oleh: Emanuele Scimia (Asia Times)

Menjelang KTT G20 di Argentina bulan Desember 2018, di mana Amerika Serikat dan China sepakat untuk gencatan senjata selama tiga bulan dalam perang perdagangan yang sedang berlangsung, China telah mencoba mendapatkan dukungan Eropa dalam melawan kebijakan proteksionis Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dengan pertemuan multilateral yang akan terjadi lebih dari sebulan lagi, menjadi jelas bahwa upaya China mendekati Uni Eropa telah gagal.

Dalam pidatonya di Atlantic Council di Washington hari Kamis (10/1) lalu, Komisioner Perdagangan Uni Eropa Cecilia Malmström mengatakan bahwa aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO/World Trade Organization) “perlu diperbarui untuk menghadapi kenyataan abad ke-21. Khususnya, praktik perdagangan tidak adil dari China, seperti transfer paksa teknologi dan subsidi negara.”

Sehari sebelumnya, blok Eropa, Amerika, dan Jepang telah menggembar-gemborkan kemajuan dalam kerja sama mereka melawan praktik perdagangan dan investasi yang mendistorsi pasar dari negara ketiga, sebuah eufemisme untuk China. Ketiga pihak tersebut meluncurkan kembali pertempuran mereka melawan kebijakan yang mengarah pada kelebihan kapasitas industri dan menciptakan kondisi kompetitif yang tidak adil bagi pekerja dan bisnis Amerika, Eropa, dan Jepang.

Tujuan mereka adalah mengembangkan aturan baru untuk mengatasi distorsi pasar yang dihasilkan oleh subsidi industri China, perusahaan milik negara, dan transfer paksa teknologi untuk perusahaan asing yang ingin berinvestasi di pasar China.

Malmström, Perwakilan Dagang AS Robert E. Lighthizer, dan Menteri Perdagangan Jepang Hiroshige Seko mengatakan di Washington bahwa staf mereka masing-masing akan mengerjakan dokumen pada musim semi untuk melibatkan anggota kunci WTO lainnya mengenai masalah subsidi industri. Namun, mereka menegaskan komitmen mereka terhadap pengembangan dan penegakan aturan baru tentang tinjauan investasi untuk tujuan keamanan nasional, serta kontrol ekspor produk-produk hi-tech.

Perbedaan dan pandangan umum

Kelompok Uni Eropa pada dasarnya berhadapan langsung dengan administrasi Trump mengenai praktik pasar yang tidak adil di China. Setelah putaran terakhir perundingan dagang dengan China, yang berakhir hari Rabu (9/1) lalu, Kantor Perwakilan Dagang AS menyatakan bahwa pihaknya berupaya mencapai “perubahan struktural yang diperlukan di China sehubungan dengan transfer paksa teknologi, perlindungan kekayaan intelektual, hambatan non-tarif, intrusi dunia maya, dan pencurian rahasia dagang melalui dunia maya.”

Namun, kedua sekutu di kedua sisi Samudra Atlantik memiliki ide berbeda tentang bagaimana menyelesaikan masalah China. Terlebih lagi, pandangan mereka yang bertentangan tentang globalisasi dan risiko pasar bebas telah melemahkan upaya untuk membangun front yang sama dengan negara-negara yang berpikiran sama terhadap strategi perdagangan dan investasi China.

Malmström mencatat pada pertemuan Atlantic Council bahwa UE dan AS memiliki keprihatinan yang sama dalam kaitannya dengan China, tetapi dia menekankan bahwa Amerika menangani masalah ini melalui tindakan sepihak, sementara bagi Uni Eropa hanya solusi multilateral yang dapat memberikan “tanggapan berkelanjutan” untuk tindakan distorsi pasar China.

Baca Juga: Dilema Uni Eropa atas Akses Perdagangan dan Hak Asasi Manusia di Asia

Lalu ada masalah tarif Trump. Karena Amerika memiliki perselisihan tarif dengan Uni Eropa, dan Eropa prihatin dengan merkantilisme agresif Presiden AS, masih harus dilihat apakah dialog berkelanjutan mereka akan efektif dalam melawan pengaruh China.

Uni Eropa tidak ragu-ragu membalas dendam bea impor Trump untuk logam. Sementara itu, Presiden AS mengancam akan memberlakukan tarif pada mobil-mobil Eropa jika blok tersebut tidak bekerja sama untuk mengurangi surplus perdagangannya dengan Amerika.

Jepang bisa jadi akan berada pada posisi yang sama dengan Eropa. Jepang kini telah dikecualikan dari tarif Trump pada baja dan aluminium, tetapi bisa dikenakan bea impor yang tajam pada mobil-mobilnya jika negosiasi perjanjian perdagangan bebas dengan AS gagal.

Memberi tekanan atas China

Keengganan secara umum terhadap perilaku komersial China adalah satu-satunya titik di mana kebijakan perdagangan Eropa bertemu dengan kebijakan Amerika Serikat saat ini.

Bulan November 2018, Uni Eropa menyetujui rencana sementara untuk menciptakan mekanisme penyaringan untuk investasi asing langsung, yang jelas dimaksudkan untuk mencegah China dari memperoleh aset strategis di Eropa.

Uni Eropa juga menginginkan permainan yang setara bagi para investornya. Bulan Desember 2018, UE menantang dalam peraturan WTO China yang memaksa perusahaan asing “untuk menyerahkan teknologi dan pengetahuan yang sensitif sebagai prasyarat untuk melakukan bisnis” di negara itu. Sebaliknya, perusahaan China yang beroperasi di Eropa tidak menghadapi pembatasan seperti itu.

Baca Juga: Jangan Berharap Banyak pada Pertumbuhan Eropa Tahun 2019

Selain itu, blok tersebut telah mengadopsi undang-undang pertahanan-perdagangan baru pada tahun 2017 yang memungkinkan mereka untuk menyelidiki bisnis-bisnis China, yang tidak diragukan lagi yang paling ditargetkan oleh langkah-langkah anti-subsidi dan anti-dumping UE.

Sama seperti AS, Eropa mengharapkan tawaran dari China tentang perdagangan dan investasi, tetapi sinyal China dalam hal ini tetap kontradiktif. Sementara itu, negosiasi antara kedua belah pihak pada perjanjian investasi bilateral masih berjalan lamban.

Di satu sisi, China telah mengumumkan langkah-langkah baru untuk mempercepat pembukaan pasar domestik mereka, terutama melalui pengembangan zona perdagangan bebas perdana negara dan persetujuan undang-undang investasi asing baru. Di sisi lain, mereka mengatakan China tidak dapat sepenuhnya terbuka untuk investor asing saat ini, karena masih dalam tahap pengembangan dan harus melindungi bisnisnya dari persaingan eksternal.

Keputusan Uni Eropa di masa depan tentang apakah akan melarang keterlibatan perusahaan Huawei China dalam pengembangan jaringan 5G kemungkinan akan menunjukkan seberapa dalam Eropa mau bergabung dengan perang Trump melawan China. Penangkapan eksekutif Huawei pekan ini di Polandia atas tuduhan mata-mata telah menunjukkan banyak hal tentang posisi Eropa dalam masalah ini.

Keterangan foto utama: Komisaris Perdagangan Uni Eropa Cecilia Malmstrom, Perwakilan Dagang Amerika Serikat Robert Lighthizer, dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Hiroshige Seko sebelum pertemuan perdagangan trilateral di kantor Delegasi Uni Eropa di Washington, DC. (Foto: AFP)

Uni Eropa dan Trump, Sekutu Canggung dalam Melawan Kebijakan Dagang China

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top