Perubahan Iklim
Global

Upaya Para Pemimpin untuk Selamatkan Dunia Lawan Perubahan Iklim Tidak Berlangsung Baik

Berita Internasional >> Upaya Para Pemimpin untuk Selamatkan Dunia Lawan Perubahan Iklim Tidak Berlangsung Baik

Para pemimpin dunia tengah berkumpul di Katowice, daerah yang cukup terpencil di Polandia. Dalam pertemuan yang tak banyak diliput ini, mereka akan bersama-sama memutar otak menemukan cara menghadapi perubahan iklim, yang oleh para ilmuwan dikatakan telah mencapai titik krisis. Namun sayangnya, pertemuan itu tidak berjalan dengan baik.

Baca juga: Perubahan Iklim Bisa Paksa Migrasi 13 Juta Penduduk Amerika

Oleh: Zahra Hirji dan Emily Tamkin (Buzzfeed News)

Para pemimpin dunia sekarang ini tengah berkumpul di Katowice, Polandia, untuk mendiskusikan masa depan dunia tempat kita tinggal.

Setelah berulang kali peringatan dilayangkan oleh para ilmuwan agar segera memberikan respon terhadap krisis perubahan iklim yang semakin terlihat dampaknya, para ahli menyebut pertemuan COP24 sebagai salah satu pertemuan terpenting mengenai iklim semenjak 2015, ketika 195 negara setuju untuk bersama-sama mengatasi permasalahan iklim di Paris.

Namun belum-belum pertanda tidak baik sudah kelihatan di antara, seperti minimnya gembar-gembor mengenai acara tersebut, yang dilaksanakan jauh di pedalaman Polandia dan disponsori oleh perusahaan-perusahaan batubara, pada waktu dimana isu perusahaan iklim tidaklah menjadi perhatian utama para pemimpin dunia. Dan bahwa tujuan utama pertemuan ini hanyalah untuk menyelesaikan peraturan yang telah disetujui di pertemuan Paris—yang bahkan belum ada kepastian mengenai hal ini. Semua itu lantas menjadi kekhawatiran bagi pihak-pihak yang benar-benar menginginkan suatu langkah nyata untuk komitmen mengatasi perubahan iklim.

Beberapa peristiwa menjelang pertemuan tersebut juga menambahkan kekhawatiran. Dalam menanggapi laporan pemerintah tentang perubahan iklim, Presiden Donald Trump telah mengatakan, “Saya tidak percaya.” Pemerintah Amerika Serikat juga menegaskan niatnya untuk menarik keluar dari pembicaraan iklim “segera setelah itu memenuhi syarat untuk melakukannya,” menurut pernyataan Departemen Luar Negeri melalui surat elektronik ke BuzzFeed News. Pemerintahan mengirim tim ke Polandia dalam upaya melindungi kepentingan AS.

Lebih lagi, setelah terpilihnya Jair Bolsonaro yang tidak mempercayai perubahan iklim sebagai Presiden Brazil, negara tersebut telah mengeluarkan pernyataan minggu ini bahwa mereka tidak akan menyelenggarakan acara perbicangan iklim tahunan selanjutnya. (Costa Rica kemudian telah menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah).

Dan pada pertemuan para pemimpin terakhir sebelumnya, pertemuan G20 yang berlangsung di Buenos Aires, isu mengenai iklim hanya mendapat sedikit perhatian terlepas dari keterhubungan langsungnya dengan isu keamanan pangan, yang menjadi salah satu isu penting yang diangkat pertemuan tersebut.

Dalam sebuah deklarasi yang ditandai oleh 20 negara tersebut, 19 negara telah sama-sama setuju untuk menjunjung kembali nilai-nilai yang telah disetujui dalam perjanjian Paris. Namun begitu Amerika Serikat (AS), dalam sebuah paragraf yang terpisah, dicatat mengenai bagaimana keputusan Donald Trump untuk mundur dari kesepakatan tersebut dan lebih berfokus kepada pertumbuhan ekonomi dan akses terhadap energi dan keamanan, memanfaatkan segala sumber daya dan teknologi yang ada, sementara tetap berupaya melindungi lingkungan.

Dan meskipun versi awal mengenai perjanjian tersebut, yang telah dilihat oleh Buzzfeed News, menyertakan kalimat “Kita memahami pentingnya isu perubahan iklim, keamanan energi, dan pertumbuhan ekonomi,” kalimat tersebut tidak muncul dalam versi final perjanjian tersebut. Perubahan iklim hanya disebutkan sebanyak satu kali, sesuatu yang menjadi isu utama dalam perjanjian Paris—seusatu yang, kecuali AS—telah sama-sama disepakati untuk dibahas jalan keluarnya. Walau, dalam perjanjian tersebut juga disebutkan bahwa semua negara mendukung aksi untuk membantu negara-negara yang kurang mampu untuk melawan perubahan cuaca yang ekstrim, mendiskusikan emisi kendaraan dan efek rumah kaca, dan juga membahas mengenai konferensi perubahan iklim selanjutnya.

“Politik global mengenai pembahasan iklim saat ini sangatlah menantang, di mana banyak isu nasionalisme yang menjadi penghalang di banyak negara,” dan beberapa lainnya lebih berfokus pada urusan dalam negeri mereka, kata Samantha Gross, seorang rekan di Inisiatif Cross-Brookings tentang Energi dan Iklim, dalam pembicaraan telepon pada 30 November.

Inggris, contohnya, terlalu berfokus pada negosiasi isu Brexit, Presiden Meksiko yang baru mulai menjalankan tugasnya minggu ini, dan AS dengan tegas menyatakan mundur dari komitmen mereka untuk mendukung isu perubahan iklim.

“Segala sudah kita kerahkan untuk dapat mendorong AS agar setidaknya ikut memainkan peran yang lebih konstruktif,” kata Nathaniel Keohane, seorang penasihat senior Wakil Presiden untuk pendanaan pertahaan Iklim, kepada Buzzfeed News. AS menyelenggarakan acara mengenai pembicaraan bahan bakar fosil tahun lalu, dan Reuters melaporkan bahwa perwakilan AS akan melakukannya kembali tahun ini.

“Untuk mendapatkan kesepakatan global di antara 200 pemimpin negara tidaklah menjadi sesuatu yang mudah,” kata Gross. “Bahkan dengan struktur yang memperbolehkan pemimpin negara untuk membawa tujuan mereka sendiri untuk diwujudkan dalam perjanjian Paris, dan negara-negara masih memerlukan jaminan untuk menyetujui sesuatu yang lebih khusus untuk kemudian dapat ditambahkan kedalam buku peraturan.”

Mulai hari Minggu (2/12), para diplomat, aktivis, pemimpin bisnis, dan lain-lain berkumpul di Polandia selama sekitar dua minggu untuk perundingan iklim tahunan. Pada minggu pertama, negosiasi akan berfokus untuk mengesahkan apa yang disebut sebagai buku aturan Paris, dijalankan oleh staf teknis tingkat bawah masing-masing negara.

Ini juga akan menjadi waktu di mana negara-negara akan menyelesaikan uji coba pertama dan satu-satunya, secara publik menayangkan sasaran iklim mereka dan langkah apa yang telah mereka ambil sejauh ini sebelum peluncuran resmi pada tahun 2020.

Satu kemungkinan yang dapat menjadi titik balik dalam pertemuan di Polandia adalah uang: Siapa yang akan membayar bagi negara-negara miskin dan paling rentan untuk mempersiapkan diri mereka dalam menanggapi perubahan iklim?

Pembicaraan mengenai pendanaan tersebut “menjadi semakin sulit karena AS tidak lagi dapat memimpin seperti dalam isu-isu sebelumnya,” kata Jonathan Pershing, salah satu negosiator senior AS selama pemerintahaan Presiden Barrack Obama, kepada Buzzfeed News. “Ini menjadi salah satu faktor yang paling signifikan.”

AS tidak hanya akan tidak ikut serta dalam menggalang dukungan bersama negara-negara lain untuk membantu mengumpulkan uang, tetapi mereka juga akan mengingkari komitmen mereka sebelumnya. Di bawah Presiden Obama, AS berjanji untuk memberikan $3 miliar kepada Dana Penghijauan Iklim. Tetapi hanya $1 miliar yang dibayarkan, dan Trump telah bersumpah untuk tidak memberi lagi.

“Triliunan dolar masih akan diperlukan untuk membantu negara-negara berkembang agar mereka dapat memperkuat ketahanan mereka terhadap perubahan iklim, mengatasi dampak dan kerugian yang disebabkan, dan mengembangkan model pembangunan yang rendah emisi.” Kata Gebru Endalew, ketua blok negosiasi Kelompok Negatif Terkemuka, kepada BuzzFeed News dalam dalam sebuah surat elektronik. “Di Katowice, kita perlu menyetujui aturan yang jelas yang akan memastikan prediktabilitas dan pengiriman keuangan yang memadai.”

Terdapat banyak pebedaan mengenai apakah peraturan bahkan akan selesai pada pertemuan tersebut. Todd Stern, mantan negosiator iklim AS lainnya di bawah Obama, mengatakan kepada wartawan bahwa dia optimis. “Saya pikir itu akan selesai,” kata Stern. “Meskipun perjanjian tersebut tidak akan menjadi sesuatu yang sempurna.”

Beberapa pihak lain masih kurang yakin akan hasil dari pertemuan Katowice. “Saya pikir semua orang menyadari bahwa [aturannya] tidak akan sepenuhnya diselesaikan,” kata Alden Meyer, seorang ahli iklim internasional di Union of Concerned Scientists, kepada BuzzFeed News.

Baca juga: Peringatan Pakar: Bumi Hanya Punya Waktu Sampai 2030 untuk Atasi Perubahan Iklim

Jika para pemimpin negara tidak berhasil menyelesaikan buku peraturan tersebut, “hal ini akan menjadi hasil yang paling buruk,” kata Pershing. “Ini akan menunjukkan momentum berkembang secara perlahan tepat disaat momentum tersebut sangat perlu ditingkatkan.”

Satu topik yang diharapkan muncul berulang-ulang adalah laporan bom bulan Oktober oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim yang menemukan bencana perubahan iklim akan datang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Yang faktanya, perubahan tersebut sudah dimulai.

“Kita tidak bisa lagi membuang-buang waktu,” kata Endalew. “Para pemimpin negara perlu meningkatkan level ambisi mereka sekarang dan mulai menerapkan perubahan yang cepat, dan dapat menjangkau segala aspek masyarakat.”

Meskipun kemungkinan akan ada panggilan berulang untuk tujuan iklim baru yang lebih ambisius di pembicaraan Polandia, setengah lusin atau lebih ahli iklim mengatakan kepada BuzzFeed News, ada sedikit harapan bahwa komitmen tersebut, terutama dari negara dan penghasil emisi terbesar di dunia, akan dilakukan sesegera mungkin.

“Saya tidak melihat adanya potensi di sini untuk komitmen baru yang besar,” kata Keohane.

Keterangan foto utama: Para pemimpin dunia berkumpul untuk bicarakan perubahan iklim. Hal itu tidak berlangsung dengan baik. (Foto: Sean Gallup/Getty Images)

Upaya Para Pemimpin untuk Selamatkan Dunia Lawan Perubahan Iklim Tidak Berlangsung Baik

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top