Upaya Selamatkan Rupiah: Indonesia Inginkan Aturan Valas Lebih Ketat bagi Eksportir
Berita Politik Indonesia

Upaya Selamatkan Rupiah: Indonesia Inginkan Aturan Valas Lebih Ketat bagi Eksportir

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: AFP)
Home » Berita Politik Indonesia » Upaya Selamatkan Rupiah: Indonesia Inginkan Aturan Valas Lebih Ketat bagi Eksportir

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani mengatakan akan memperketat aturan valas (valuta asing) bagi para eksportir. Eksportir Indonesia sebelumnya membawa kembali lebih dari 90 persen dari pendapatan mereka pada kuartal kedua ke negaranya, tetapi hanya 14 persen dari pendapatan itu yang dikonversi menjadi rupiah, menurut data dari bank sentral. Pengetatan aturan ini dilakukan sebagai upaya dalam mengendalikan defisit transaksi berjalan dan untuk melindungi rupiah yang melemah.

Oleh: The Star/Bloomberg

Eksportir Indonesia harus menjaga pendapatan mereka tetap di dalam negeri untuk mendukung upaya pemerintah untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan saat ini dan melindungi rupiah, menurut seruan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Walau undang-undang melindungi pergerakan bebas modal, namun pihak berwenang ingin memperketat beberapa aturan tentang eksportir di tengah kekalahan dalam mata uang, kata Sri Mulyani dalam wawancara dengan Haslinda Amin dari Bloomberg TV di Hanoi.

“Dalam situasi di mana negara bahkan tidak dapat menahan pendapatan, misalnya dari ekspor, kita benar-benar perlu mengatur hal tertentu,” katanya. “Devisa yang mereka hasilkan dari ekspor, itu harus berada di negara ini.”

Eksportir Indonesia membawa kembali lebih dari 90 persen dari pendapatan mereka pada kuartal kedua ke negaranya, tetapi hanya 14 persen dari pendapatan itu yang dikonversi menjadi rupiah, menurut data dari bank sentral.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Indonesia Alami Penurunan Cadangan Devisa Terbesar di Asia

Kemerosotan mata uang hingga ke level terlemahnya sejak krisis keuangan Asia 1997-1998, telah mendorong para pembuat kebijakan untuk bertindak. Untuk membantu mengendalikan defisit transaksi berjalan sebesar tiga persen dari produk domestik bruto, pemerintah telah meningkatkan pajak atas impor, dan meningkatkan penggunaan biodiesel untuk memotong pembelian bahan bakar dari luar negeri.

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga empat kali sejak bulan Mei dan menjanjikan langkah-langkah pencegahan untuk memadamkan aksi jual.

Sri Mulyani mengatakan bahwa perdebatan global tentang kontrol modal telah berubah sejak krisis keuangan Asia dua dekade lalu, dan beberapa negara mungkin “dibenarkan” dalam melindungi diri mereka sendiri.

Rupiah

Seorang karyawan toko menghitung uang kertas rupiah di Jakarta. (Foto: AFP/Bay Ismoyo)

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut, juga menyerukan kerja sama kebijakan global yang lebih besar untuk mengatasi gejolak pasar yang muncul, yang dipicu oleh kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan dolar yang lebih kuat.

“Setiap negara harus melakukan apa yang perlu mereka lakukan untuk melindungi, tetapi pada saat yang sama, kita harus dapat mencapai kerja sama dan koordinasi ini,” katanya. “Semua orang sekarang begitu sibuk dengan kebijakan domestik mereka sendiri, yang menciptakan lebih banyak kerusakan untuk mereka sendiri maupun untuk ekonomi global.”

Indonesia harus lebih berhati-hati dalam hal pengeluaran yang diberikan untuk normalisasi kebijakan dan kenaikan suku bunga the Fed, Sri Mulyani mengatakan kepada panel di World Economic Forum. “Defisit kami perlu dikurangi. Ini adalah tanda Anda harus lebih bijaksana dalam membelanjakan, merancang anggaran Anda,” katanya.

Baca Juga: Upaya Selamatkan Rupiah: Indonesia Inginkan Aturan Valas Lebih Ketat bagi Eksportir

Menteri tersebut juga membuat komentar berikut dalam wawancaranya:

Bank Indonesia: Lembaga ini independen dan akan terus menyesuaikan tingkat kebijakannya dan melakukan intervensi di pasar untuk mengekang volatilitas. “Bank Indonesia akan terus melakukan campuran kebijakan mereka, tidak selalu intervensi, tetapi dalam hal ini suku bunga, intervensi serta memungkinkan fleksibilitas untuk menyerap.”

Defisit transaksi berjalan saat ini: Kekurangannya masih dapat “dikelola” dan arus keluar “tidak didorong oleh prinsip-prinsip dasar.”

Kemerosotan pasar ekonomi berkembang: Indonesia bukanlah “pengecualian” dalam kekalahan saat ini, dan bergerak bersama dengan pasar ekonomi berkembang lainnya.

Keterangan foto utama: Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: AFP)

Upaya Selamatkan Rupiah: Indonesia Inginkan Aturan Valas Lebih Ketat bagi Eksportir

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top