bangkrut karena sosialisme
Amerika

Venezuela, Negara yang Jatuh Bangkrut Karena Sosialisme

Nicolas Maduro (Foto: EPA)

Oleh: Rich Lowry (New York Post)

Venezuela pernah jadi salah satu negara terkaya dengan pendapatan per kapita penduduknya nomor empat terbesar di dunia. Mereka memiliki cadangan minyak lebih banyak daripada Arab Saudi, namun ironisnya, kini rakyatnya kelaparan. Venezuela bangkrut. Kini kondisi ekonomi negara tersebut adalah yang paling parah dalam sejarah Amerika Latin modern, akibat bencana nasional yang disebut Revolusi Bolivarian, yang sarat akan paham-paham Sosialis.

Venezuela adalah negara yang mengingatkan kita bahwa negara sekaya apapun tetap dapat dihancurkan oleh revolusi sosialisme.

Rakyat Venezuela saat ini benar-benar kelaparan—sekitar tiga perempat dari populasi mengalami penurunan berat badan yang drastis di tahun lalu—di negara yang pernah menjadi negara keempat terkaya di dunia secara per kapita. Sebuah negara yang memiliki lebih banyak cadangan minyak daripada Arab Saudi namun menderita kekurangan kebutuhan bahan pokok. Venezuela sekarang bergejolak karena berada di ambang kebangkrutan dan perang saudara, dalam bencana nasional yang dikenal sebagai Revolusi Bolivarian.

Revolusi Bolivarian adalah ungkapan yang berasal dari salah satu orang paling berkuasa di Venezuela mantan Presiden Hugo Chavez, yang kemudian digantikan oleh Nicolas Maduro, politisi paling berkuasa di Venezuela saat ini. Sebagai dari kubu Barat yang disetarakan dengan Recep Tayyip Erdogan dari Turki, Maduro telah menyiapkan kudeta diri sendiri melalui pemilihan yang sedang berlangsung untuk membentuk Venezuela menjadi  negara yang menganut sistem satu partai (sistem kepartaian di mana dalam negara atau badan legislatif maupun badan eksekutif hanya terdapat satu partai atau satu-satunya partai terbesar yang menguasai mayoritas secara terus menerus di samping partai-partai kecil lainnya)

Chavistas—sebutan bagi pendukung Hugo Chavez—telah mempelajari dari buku panduan komunis, cara untuk memperkuat massa adalah dengan peduli terhadap mereka. Pengeluaran yang tinggi, pengendalian harga, melakukan nasionalisasi perusahaan asing, korupsi dan akhir dari supremasi hukum–adalah cara-cara yang digunakan oleh petinggi negara untuk menghancurkan ekonomi.

Hasilnya adalah resesi yang parah sepanjang tahun, hiperinflasi serta hutang yang tidak dapat terbayar. Penderitaan yang diderita masyarakat sangat luar biasa, sedangkan pencuri dan pembunuh yang merupakan pejabat Chavistas berhasil mengambil ratusan miliar dolar. Pada tingkat ini—The Economist menyebut penurunan ekonomi negara itu “yang paling parah dalam sejarah Amerika Latin modern”– sehingga tidak akan ada lagi yang tersisa untuk dicuri.

Setiap pemerintahan di negara demokrasi yang mengakibatkan kegagalan sehebat ini akan terdegradasi ke sejarah kelam sejak lama. Maduro mencoba mengatasi masalah tersebut dengan mengakhiri demokrasi di Venezuela.

Chávistas membiarkan dilaksanakannya pemilihan umum selama satu atau dua tahun untuk memilih Majelis Nasional Venezuela, yang ditentang oleh oposisi. Namun mereka kemudian melakukan perang melawan majelis tersebut, melepaskan kekuasaan majelis, dan puncaknya pada pemilihan yang dicekal minggu ini untuk memilih Majelis Konstituante yang bertugas menulis ulang konstitusi. Pihak oposisi memboikot pemungutan suara tersebut, dan pengamat dari luar memperkirakan kurang dari 20 persen pemilih yang berpartisipasi.

Tujuan reformasi konstitusional yang diduga dilakukan oleh Maduro adalah untuk tidak lagi memiliki sebuah konstitusi yang layak. Tidak lama setelah pemungutan suara, pasukannya menangkap dua tokoh oposisi terkemuka di tengah malam. Video menunjukkan salah satu dari mereka, Antonio Ledezma, dibawa pergi dengan piyama, dan Leopoldo López, dimasukkan ke dalam sebuah mobil.

Kejadian yang terjadi persis seperti apa yang terlihat—penculikan.

Menolak cara-cara untuk melakukan pemberontakan melalui pers dan pemilihan umum, pihak oposisi memilih untuk turun ke jalan. Sudah lebih dari 100 orang terbunuh dalam bentrokan selama beberapa bulan terakhir ini.

Hal yang lebih buruk belum terjadi. Lemahnya legitimasi dan hanya mewakili sebagian kecil kelompok masyarakat, rezim Maduro akan mengandalkan langkah terakhir yaitu dengan langkah kekerasan. Saat ini merupakan krisis terburuk di negara besar di Belahan Barat tersebut sejak  perang saudara Kolombia pada tahun 1990-an dan 2000-an.

Tidak ada cara yang mudah untuk mengakhiri penderitaan Venezuela. Jika mediasi adalah solusinya, negara ini tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah ini. Perundingan tak berujung yang dilakukan antara pemerintah dan oposisi tidak menghasilkan apapun—sindikat kejahatan terorganisir yang telah merebut kekuasaan di bawah panji revolusi mengetahui bahwa tidak ada pilihan lain selain mempertahankan kekuasaannya dengan cara apa pun.

Amerika Serikat (AS) menggunakan setiap kebijakan ekonomi dan diplomatik untuk melemahkan rezim tersebut dan membangun sebuah koalisi internasional untuk menentang rezim yang berkuasa. AS harus memberlakukan sanksi yang lebih berat terhadap pejabat tertentu serta perusahaan minyak negara (Venezuela); mereka harus menginformasikan hal yang kita ketahui secara rinci tentang bagaimana para Chavitas mendapatkan keuntungan secara ilegal dari luar negeri; AS harus mendorong sekutu mereka untuk lebih mengisolasi pemerintah Venezuela dengan menarik duta besar dan memutuskan hubungan diplomatik.

Harapannya adalah dengan memberikan tekanan, rezim tersebut akan retak dan pejabat tinggi akan meninggalkan Nicolas Maduro, melemahkan posisi rezim yang saat ini berkuasa, serta menegosiasikan pengembalian aturan-aturan demokrasi yang memungkinkan.

Sementara itu, Revolusi Bolivarian terus berjalan sesuai dengan logika mereka—dan tetap akan ada pertumpahan darah.

Venezuela, Negara yang Jatuh Bangkrut Karena Sosialisme
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Venezuela yang Dahulu Kaya Minyak, Kini Dicengkram Kelaparan dan Krisis - Mata Mata Politik

Beri Tanggapan!

To Top