Beberapa orang membandingkan pelantikan presiden dengan penobatan. (Foto: AFP/Getty)
Eropa

Vladimir Putin Benar: Rusia Hanya Bisa Maju Jika Masyarakatnya Bebas

Beberapa orang membandingkan pelantikan presiden dengan penobatan. (Foto: AFP/Getty)
Home » Featured » Eropa » Vladimir Putin Benar: Rusia Hanya Bisa Maju Jika Masyarakatnya Bebas

Ketika dia disumpah untuk masa jabatannya yang keempat, masih ada banyak hal yang harus dilakukan oleh presiden jika dia ingin meraih standar hidup yang diinginkan oleh rakyat Rusia; dan untuk warisan abadi dirinya sendiri.

    Baca juga: Setelah Menang di Suriah, Akankah Rusia Lawan Amerika Juga di Lebanon?

Oleh: Independent

Tidak ada hiasan yang terlihat sederhana di auala Kremlin baik saat pagelaran maupun dalam upacara sumpah jabatan Vladimir Putin untuk menjadi Presiden Rusia untuk keempat kalinya.

Daftar khusus tamu dalam acara tersebut tidak hanya terdiri dari petinggi-petinggi pejabat dan politisi Rusia, namun juga dari gereja ortodok dan teman Putin dari Hollywood, Steven Seagal—beserta sekitar 5000 undangan lainnya. Bagi beberapa pihak, acara ini lebih nampak seperti upacara penobatan ketimbang pelantikan.

Dalam pidatonya kepada seluruh bangsa yang dengan penuh keyakinan mendukungnya, Putin berjanji akan melayani rakyat dan menjunjung tinggi nilai-nilai mereka—atau setidaknya, apa yang dia sebut sebagai nilai-nilai “tradisional”, yang terdengar seperti jargon politisi yang sederhana dan umum. Nampaknya kali ini dia menunjukkan bahwa permasalahan domestik akan menjadi agenda utamanya.

Tentu saja, masih banyak hal yang harus dilakukan oleh Presiden Putin jika ia ingin menjamin agar rakyat Rusia dapat hidup sesuai dengan standar yang mereka harapkan; dan jika ia ingin mengamankan warisannya yang telah ia bangun selama hampir 20 tahun berkuasa.

Sejak awal ia diangkat menjadi presiden menjabat setelah kemunduran Boris Yeltsin pada Desember 1999, otoritas Putin jarang sekali ditantang serius. Tentu, kemenangannya dalam pemilu presiden kali ini merupakan kemenangan kampanyenya yang paling menarik hingga saat ini—walaupun ada beberapa kekhawatiran mengenai “ketidakwajaran” dalam kotak suara. Yang juga perlu diingat ialah bahwa lawan terberatnya, Alexei Navalny, tidak ikut serta dalam pemilu dikarenakan kasus penggelapan.

Bagaimanapun, diatas semua kekuasaan yang berhasil diraih oleh Putin, Rusia masih menjadi negara yang memiliki permasalahan ketimpangan ekonomi dan ketidakstabilan yang signifikan. Seperti yang ditekankan oleh sang presiden sendiri dalam pidato kenegaraan tahunannya pada bulan Maret, 20 juta rakyat Rusia masih hidup dibawah garis kemiskinan, apalagi setelah negara tersebut terkena dampak dari resesi global setelah tahun 2008. Peningkatan yang diraih sebelum tragedi finansial yang melanda dapat dikatakan telah hilang, bersamaan dengan kerentanan paling buruk yang terjadi.

Meskipun telah ada tanda-tanda peningkatan di tahun lalu, prediksi hingga tahun 2020 menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB hanya akan naik paling tinggi sekitar 2 persen. Putin telah menegaskan bahwa permasalahan tersebut hanya dapat diselesaikan jika Rusia menyambut perubahan teknologi.

Bagi masyarakat umum—dan mungkn juga bagi para investor dan kaum oligarki—hal tersebut kedengarnnya baik dan sehat, setidaknya karena tidak ada permasalahan dalam detail. Namun kenyataannya teknologi telah menjadi andalan bagi pedekatan Rusia dalam permasalahan hubungan luar negeri, baik dalam medan perang maupun dalam interaksi yang melalui proses demokras dengan negara lain.

Tentu saja, hal ini menjadi sebuah ironi yang aneh bahwa otoritas Putin di dalam negeri sangat dipengaruhi secara signifikan oleh petualangannya diluar negeri, terlepas dari fakta bahwa upaya tersebut membutuhkan dana yang banyak. Rusia telah melaksanakan operasi militer di Suriah selama tiga tahun, dan juga keterlibatan yang komplek di Krimea, dan juga di Ukraina baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Baca juga: Rusia Segera Lengkapi Sistem Pertahanan Rudal bagi Suriah, Israel Bersumpah Akan Menghancurkannya

Paradoks yang lebih jauh adalah bahwa pemilihan Donald Trump ke kursi kepresidenan Amerika Serikat, yang mungkin disambut baik oleh Putin sebagai perpecahan divisi di Amerika dan Barat, telah membuat musuh potensial menjadi lebih mudah diprediksi di Gedung Putih. Putin tidak sendirian dalam menganggap bahwa Trump adalah seorang pria yang sulit untuk dibaca: tetapi skala kekuatan kedua negara membuat hubungan antara pemimpin mereka lebih penting daripada yang lain.

Baik dalam urusan dalam negeri maupun luar negeri, Putin memiliki banyak hal yang harus diselesaikan. Fakta bahwa dia masih menjadi populer diantara populasi Rusia secara umum bukan sesuatu yang diragukan lagi, namun yang juga menjadi jelas adalah bahwa pernyataan positifnya berkaitan dengan Rusia yang akan menjadi “masyarakat bebas” juga tidak dapat dianggap serius. Kebebasan media telah menurun drastis selama masa pemerintahannya dan oposisi politik masih terus diawasi dengan ketat.

Namun secara fundamental Putin telah menyinggung sebuah kebenaran yang sangat penting. Ketika dia mengatakan bahwa Rusia harus “melewati segala aspek dalam kehidupan” dan bahwa “dan bahwa perkembangan semacam itu hanya dapat diraih dengan masyarakat yang bebas”, dia memang benar. Pertanyaannya adalah apakah dia akan memperbolehkan kebebasan jika hal tersebut dapat mengorbankan pengaruhnya.

Keterangan foto utama: Beberapa orang membandingkan pelantikan presiden dengan penobatan. (Foto: AFP/Getty)

Vladimir Putin Benar: Rusia Hanya Bisa Maju Jika Masyarakatnya Bebas
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top