wantia wanita di irak
Timur Tengah

Wanita Irak Mulai Tinggalkan Kehidupan Publik Setelah Beberapa Perempuan Terkenal Dibunuh

Home » Featured » Timur Tengah » Wanita Irak Mulai Tinggalkan Kehidupan Publik Setelah Beberapa Perempuan Terkenal Dibunuh

Wanita-wanita di Irak mulai menjauhi kehidupan dan ruang publik. Hal ini dipicu oleh pembunuhan lima orang tokoh wanita yang vokal dan aktif di media. “Semua perempuan yang memasuki kehidupan publik menjadi target,” kata Hanaa Edwar, seorang aktivis Hak Asasi Perempuan yang berbasis di Baghdad, kepada Buzzfeed News.

Baca Juga: Suriah Tahun 2018 Bukanlah Irak Tahun 2003

Oleh: Nizhita Jha (BuzzFeed News)

Seminggu setelah pembunuhan Tara Fares, mantan Miss Baghdad dan orang dengan media sosial yang memiliki pengikut terbanyak keenam di Irak, Shimaa Qasim mempublikasikan sebuah video yang menyedihkan di Instagam.

“Kita bahkan tidak dianggap seperti ayam,” kata Qasim—yang memiliki 2,7 juta pengikut di Instagram, setelah dia diberitahu bahwa dia akan “bernasib sama” dengan Fares. “Ayam saja tidak dibantai seperti ini.”

Saat berita itu diumumkan Jumat (5/10) bahwa Nadia Murad, seorang Yazidi Irak yang disiksa dan diperkosa oleh militan ISIS, yang telah memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian untuk kampanyenya melawan kekerasan seksual, dan merupakan seorang perempuan muda di Irak secara harfiah tengah berjuang untuk tetap hidup di negara yang bermasalah tersebut.

Lima wanita terkenal telah tewas di Irak sejak Agustus. Pada 27 September, Fares ditembak di Baghdad ketika sedang berada di dalam mobilnya, oleh pengendara yang tidak dikenal. Dua hari sebelumnya, aktivis hak asasi manusia Soad al-Ali ditembak oleh pria tak dikenal saat dia memasuki mobilnya di Basra, sebuah wilayah yang mengalami protes anti-pemerintah besar-besaran bulan ini. Pada bulan Agustus, dua pakar kecantikan, Rafeef al-Yaseri dan Rasha al-Hassan, juga meninggal dalam keadaan yang tidak dapat dijelaskan di rumah mereka.

Meskipun angka tersebut terlihat kecil bila dibandingkan dengan kekerasan rutin yang mengguncang negara yang sedang dilanda konflik tersebut, pembunuhan ini—aktivis mengatakan—sesuai dengan pola.

“Semua perempuan yang memasuki kehidupan publik menjadi target,” kata Hanaa Edwar, seorang aktivis Hak Asasi Perempuan yang berbasis di Baghdad, kepada Buzzfeed News. “Fares memiliki hingga 2 juta pengikut. Semua perempuan yang terbunuh merupakan perempuan-perempuan yang tegar, ambisius, dan memiliki kepribadian yang kuat.”

Sebagai akibatnya, kata Edward, banyak wanita Irak yang mengundurkan diri dari kehidupan publik.

“Kami telah melihat begitu banyak wanita bisnis di Basra menghentikan kegiatan mereka; perempuan muda di media telah bersembunyi; perempuan menonaktifkan atau mengubah profil media sosial mereka. Beberapa dari mereka telah berpindah rumah, hidup sederhana dan di bawah radar. Pembunuhan-pembunuhan ini menyebarkan rasa takut dan menakutkan para wanita muda dan aktivis feminis.”

Hajar Youssif, seorang aktivis Irak dan sukarelawan medis, yang diculik, dipukuli, dan diancam karena menghadiri protes, duduk bersama pengunjuk rasa di Basra, Irak. (Foto: AP/Nabil Al-jurani)

Tubuh wanita secara historis diperlakukan sebagai medan untuk perang ideologi politik. Antropolog feminis Lila Abu-Lughod mendokumentasikan cara-cara di mana wanita Muslim dan gender telah menjadi simbol modernitas, westernisasi, dan demokrasi. Ketika wanita melepas cadar mereka seperti Fares dan Qasim, dia berpendapat, mereka dilihat sebagai modern—kode untuk bebas secara seksual, tidak harus sebagai agen seksual.

Baca Juga: Irak Serang Ruang Operasi ISIS di Suriah

“Kami tidak berdiri di luar dunia, melihat ke lautan orang-orang miskin ini, hidup di bawah bayang-bayang—atau cadar—budaya yang menindas,” tulisnya dalam bukunya, Do Muslim Women Need Saving? “Kami adalah bagian dari dunia tersebut, gerakan Islam sendiri telah muncul di dunia yang dibentuk oleh keterlibatan kuat kekuatan Barat dalam kehidupan di Timur Tengah.”

Di Irak, aparat keamanan telah berusaha untuk menjelaskan tentang kematian baru-baru ini sebagai hasil buruk dari perempuan yang mencoba menjadi modern dalam masyarakat yang tidak stabil dan konservatif, daripada mengakui pekerjaan dan kontribusi mereka kepada masyarakat Irak.

Soad al-Ali adalah aktivis hak asasi manusia di Basra yang memerangi korupsi pemerintah dan kontaminasi air minum di kotanya. Tapi ketika dia ditembak, pihak berwenang pertama menyalahkannya karena bekerja sama dengan konsulat AS. Mereka kemudian mengubah tuduhan mereka seminggu kemudian, mengklaim bahwa al-Ali dibunuh oleh mantan suaminya.

“Ketika kami menyelidikinya, syekh atau kepala suku, keluarganya telah mengecam pernyataan polisi, mereka bertentangan dengan polisi,” kata Edwar. “Ini sangat mencurigakan.”

Naza Gora, seorang jurnalis yang menulis tentang hak-hak gender di Kurdistan, mengatakan kepada BuzzFeed News bahwa dia tidak yakin apakah wanita telah dibunuh karena keterbukaan mereka—tetapi pihak berwenang tidak membuat hal-hal tersebut lebih jelas.

“Kami tidak bisa begitu saja mempertimbangkan pembunuhan empat atau lima wanita sebagai sebuah fenomena, karena kekerasan di Irak mempengaruhi semua orang,” katanya. “Tetapi Kementerian Dalam Negeri dan badan keamanan tidak memberi kami informasi lengkap tentang hasil penyelidikan.”

Situasi politik di Irak telah lama bergejolak akibat pertempuran empat tahun melawan ISIS, yang menghancurkan properti dan mata pencaharian lebih dari 3 juta orang. Irak Selatan khususnya masih dipenuhi dengan kerusuhan dan protes yang terjadi sejak bulan Mei. Beberapa bulan setelah pemilihan, Presiden baru Irak Barham Saleh akhirnya memilih politisi veteran Syiah bernama Adel Abdul Mahdi sebagai perdana menteri.

Bagi Qasim, kekerasan dan penguntitan yang tak henti-hentinya telah menghasilkan kelelahan yang mendalam. Karena ia membagikan pesan videonya di Instagram, ia perlu dipindahkan untuk sementara ke London. Qasim menolak untuk berbicara dengan BuzzFeed News, tetapi dalam videonya dia mengatakan dia lelah dengan pelecehan dari orang asing di media sosial yang memposting gambar dirinya dengan tulisan cabul dan kekerasan dan mempertanyakan setiap gerakannya.

“Mengapa semua ini terjadi?” Ia bertanya dalam video yang ia bagikan di cerita Instagram-nya. “Semua pesan Anda bertanya, ‘apa yang Anda lakukan ini, mengapa Anda pergi ke sana, mengapa datang ke tempat ini?’ “Aku tidak menginginkan pesan-pesan itu, oke? Ini sudah cukup. Aku hanya ingin hidup dalam damai.”

Qasim mengakhiri video yang mengatakan: “Kami terkenal, tetapi kami bukan pelacur seperti yang dikatakan beberapa orang. Kami adalah orang-orang yang menempatkan suara orang-orang di TV. Kami adalah profesional media. Kami menyampaikan pesan. Kami menyampaikan suara rakyat, itu saja. Kemudian seseorang yang tidak dikenal datang dan berkata, ‘Dia pelacur, bunuh dia.’”

Keterangan foto utama: Penggemar ratu kecantikan, model fashion, dan bintang media sosial Tara Fares dan nyala lilin diatas kuburannya (Foto: Anmar Khalila)

Wanita Irak Mulai Tinggalkan Kehidupan Publik Setelah Beberapa Perempuan Terkenal Dibunuh

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top