Berita Politik Indonesia

Warga Miskin di Indonesia Tanggung Beban Terberat Saat Tsunami

Berita Internasional >> Warga Miskin di Indonesia Tanggung Beban Terberat Saat Tsunami

Korban selamat di Kabupaten Banten mulai membangun kembali kehidupan mereka yang hancur di tengah tuntutan untuk penyediaan sistem peringatan dini tsunami yang lebih baik. Area di sekitar Selat Sunda dihantam oleh tsunami pada tanggal 22 Desember. Reruntuhan gunung Anak Krakatau yang terus erupsi membuat laut meluap.

Baca Juga: Setelah Anak Krakatau, Gunung Agung Kembali Erupsi

Oleh: Rob McBride (Al Jazeera)

Ahmad Hidayat tersenyum getir mengingat kekacauan yang ada di sekitarnya.

Saya pernah melihat senyum itu sebelumnya di Indonesia—respon alami, tidak peduli situasinya, mungkin karena rasa malu atau rasa hormat bawaan ketika berbicara dengan orang asing. Dan kali ini, berdiri di samping tumpukan pakaian, peralatan rumah tangga, buku dan mainan anak-anak, Ahmad menyeringai lebar.

Dibantu oleh istri dan pamannya, dia sibuk menarik keluar isi rumahnya yang tergenang air untuk melihat apa yang bisa diselamatkan.

Bangunan itu dibanjiri gelombang tsunami pada malam 22 Desember, gelombang tsunami itu diyakini dipicu oleh letusan gunung berapi yang menggerakkan gelombang ke pantai dekat rumah Ahmad di desa Sambolo.

Setidaknya atap Ahmad masih utuh, memberinya kesempatan untuk menjaga beberapa barangnya kering.

Rumah-rumah tetangganya sudah tidak beratap lagi, jadi harta benda mereka kemungkinan akan tetap basah sampai akhir musim hujan, masih beberapa minggu lagi.

Di balik senyum Ahmad ada rasa sakit mengetahui betapa rentannya orang-orang di sini, dengan monster gunung berapi Anak Krakatau bergemuruh di atas cakrawala.

“Ini rumah saya. Saya tidak punya tempat lain untuk pulang,” katanya sambil mengangkat bahu. “Tetapi jika saya punya uang, saya akan membeli tempat yang lebih aman untuk hidup.”

‘Tanpa peringatan’

Bagi banyak orang yang tinggal di sepanjang Selat Sunda, selat yang memisahkan pulau Jawa dan Sumatra, laut adalah satu-satunya mata pencaharian mereka.

Baca Juga: Anak Krakatau Timbulkan Tsunami Selat Sunda? Ini yang Anda Perlu Tahu

Dari para nelayan hingga resor dan restoran milik keluarga yang menghiasi garis pantai, orang tidak punya pilihan selain melanjutkan kembali cara hidup mereka sebelumnya.

“Tidak ada peringatan sama sekali,” kata Babay Halimatusadiah, pemilik warung kecil. “Itu terjadi tiba-tiba.”

Dia berdiri di samping suaminya di warung kecil yang mereka miliki, sekitar 100 meter dari pantai di distrik Carita. Di hari saat tsunami melanda, mereka sedang melayani pengunjung malam di tempat yang itu.

Dua hari setelah bencana, mereka sudah kembali berjualan. Pasangan itu mengatakan bahwa mereka akan jauh lebih senang jika ada sistem peringatan dini yang lebih baik.

“Saya berharap pemerintah dapat menggunakan teknologi yang lebih baru,” kata suami Halimatusadiah,  Hasbialoh Asnawi kepada Al Jazeera.

“Karena kita takut akan terjadi hal yang lebih buruk di masa depan.”

Kurangnya peringatan tsunami telah memicu perdebatan sengit di Indonesia tentang kesiapan negara terhadap bencana semacam itu, mengingat betapa rawannya negara kepulauan ini terhadap gempa bumi dan gelombang yang merusak.

Sebagian besar sistem peringatan yang ada sekarang diberlakukan setelah Tsunami 26 Desember 2004—sebuah peristiwa yang jauh lebih dahsyat yang melanda lebih dari selusin negara di sepanjang pantai Samudra Hindia. Diperkirakan ada 200.000 warga Indonesia yang tewas.

‘Masih takut’

Kebetulan, peringatan 14 tahun tsunami 2004 jatuh pada hari Rabu lalu (26/12), di tengah pembersihan setelah bencana yang terbaru terus berlanjut.

Baca Juga: Status Anak Krakatau Naik Jadi Siaga 3, Apa Artinya?

Pada kedua kesempatan tersebut, kekuatan penuh yang dapat dilepaskan oleh tsunami dapat dilihat dari kerusakan yang terjadi pada rumah dan blok yang lebih besar dan lebih kokoh di resor liburan.

Kali ini juga, seluruh dinding tersapu, memperlihatkan perlengkapan kamar, perabot, dan toilet di dalamnya.

Dan kemudian, seperti yang bisa dilihat sekarang, warga yang lebih miskin, lebih rentan untuk menanggung beban terberat.

Rentang garis pantai yang sekarang kehilangan tanda-tanda kehidupan pernah menjadi komunitas gubuk sederhana yang terbuat dari bambu, jerami, dan terpal logam.

Tumpukan puing yang terdorong 100-200 meter ke pedalaman adalah satu-satunya pengingat dari orang-orang yang telah terbunuh, terluka, dan terlantar.

Di kota Labuan, beberapa kilometer ke pedalaman, ribuan tunawisma menunggu untuk melihat kapan dan bagaimana mereka dapat kembali ke rumah. Daerah ini hanya beberapa meter di atas permukaan laut, tetapi itu sudah cukup untuk menawarkan tingkat keamanan bagi orang-orang yang telah mengetahui dan mengalami apa yang laut mampu lakukan.

Di salah satu kamp sementara yang bermunculan, Watinah—istri seorang nelayan yang sekarang tidak tahu bagaimana cara untuk menghidupi dirinya sendiri dan ketiga anaknya—sedang menyaksikan hujan di luar.

“Saya tidak tahu berapa lama kita akan tinggal di sini,” katanya. “Kami belum kembali untuk melihat kondisi rumah kami karena kami masih takut.”

Tepat pada saat itu, berita buruk lain datang. Perangkat yang dimiliki produser Al Jazeera, Syarina, mulai berbunyi. Level siaga Anak Krakatau baru saja dinaikkan menjadi Level 3, satu level di bawah level maksimumnya.

Pra warga masih punya alasan untuk takut. Anak Krakatau masih terus bergemuruh.

Keterangan foto utama: Dampak tsunami paling dirasakan oleh warga miskin Indonesia. (Foto: Al Jazeera)

Warga Miskin di Indonesia Tanggung Beban Terberat Saat Tsunami

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top