rusia di suriah
Timur Tengah

Waspadai Akhir Permainan Rusia di Suriah

Berita Internasional >> Waspadai Akhir Permainan Rusia di Suriah

Rusia berusaha menjadi pembawa perdamaian di Suriah, namun mereka memiliki tujuan tersendiri di baliknya. Hal ini bukan hanya tentang membantu Assad; ini tentang mengganggu kepentingan Amerika. Rusia telah menghabiskan tahun 1990-an dengan menyaksikan proses perdamaian Suriah-Israel yang berlangsung di bawah naungan Amerika.  Jika hal itu terjadi lagi, Rusia akan kehilangan pengaruh terhadap negara Arab terakhirnya.

Baca Juga: Serangan Udara Rusia di Suriah Tewaskan 18.000 Penduduk

Oleh: Matthew RJ Brodsky (The Weekly Standard)

Rusia telah mengalami beberapa kemunduran strategis dalam usahanya untuk mengokohkan perannya sebagai wasit Suriah. Amerika Serikat (AS), dengan sekutu Suriahnya—belum lama ini Turki bergabung, meskipun hanya sementara—telah mengacaukan rencana Putin dan Assad untuk menciptakan ilusi perdamaian dan stabilitas di Suriah, dengan mencegah kembalinya sebagian wilayah Suriah ke kendali rezim Assad.

Mengingat hal itu, ada baiknya menganalisis bagaimana Rusia telah menanggapinya karena sistem pertahanan udara Suriah telah keliru menembak jatuh sebuah pesawat intelijen Rusia. Tidak mau memperbaiki kesalahan atas ketidakmampuan para operator darat Suriah dan Rusia, Rusia menuduh Israel dengan gegabah membahayakan nyawa para penerbang Rusia dan menanggapi dengan mengirimkan beberapa baterai pertahanan udara S-300 yang lebih canggih ke Suriah.

Jika sistem pertahanan udara itu diserahkan kepada pasukan Assad, hal itu akan melanggar ketentuan Israel yang sudah lama berlaku karena sistem senjata tersebut dianggap Israel seabagai “pengubah permainan” untuk Assad, pasukan Iran atau cabang Lebanonnya, Hizbullah.

Tetapi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengutarakan beberapa komentar tentang Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel, wilayah yang telah dipegangnya sejak perang tahun 1967. Berbicara kepada wartawan dari Kantor Berita TASS Rusia, Lavrov mengatakan “status Dataran Tinggi Golan ditentukan oleh resolusi Dewan Keamanan PBB.” Setiap perubahan, menurutnya, “akan menjadi pelanggaran langsung terhadap resolusi ini.”

Rusia mengandalkan penarikan pasukan AS dari Suriah timur laut untuk menguangkan ladang minyak dan gas alam, 90 persen di antaranya terletak di bawah kendali Amerika dan Kurdi. Rusia juga mengharapkan Turki untuk keluar dari kantong Idlib, yang akan memungkinkan Tim Assad untuk menyatakan akhir dari perang saudara setelah serangan brutal yang disponsori rezim.

Pada akhirnya, hal itu akan memungkinkan Putin untuk mengirim sinyal bahwa Suriah, di bawah Assad, terbuka untuk bisnis lagi. Ini akan membuka keran yang mengalirkan miliaran dolar dalam bantuan internasional dan pembiayaan rekonstruksi yang akan memenuhi kantong Assad dan Putin.

Baca Juga: Militer Amerika Gelar Latihan Perang di Suriah untuk Peringatkan Rusia

Namun, akhir-akhir ini, tujuan terakhir dari maraton Rusia di Suriah belum berjalan sesuai rencana, setidaknya dari perspektif Rusia. Pertama, AS dan sekutu Suriahnya tampaknya tidak akan pergi dalam waktu dekat dan Turki masih mempertahankan posisinya di Idlib. Pemerintah Trump juga menciptakan sekelompok kecil negara-negara dari Eropa dan Timur Tengah untuk bekerja melalui PBB dan menghidupkan kembali proses perdamaian Jenewa.

Di antara prinsip-prinsip kunci lainnya yang telah mereka negosiasikan, “tidak akan ada bantuan rekonstruksi internasional di daerah yang dikuasai pemerintah Suriah yang tidak memiliki proses politik yang kredibel yang mengarah pada reformasi konstitusi dan pemilihan yang diawasi PBB.”

Hal itu mengesampingkan proses Astana yang dipimpin Rusia, yang dirancang untuk reformasi di atas kertas, mempertahankan struktur kekuasaan yang sama, dan mempertahankan kekuasaan Assad. Selain itu, upaya Rusia tergantung pada partisipasi Turki, yang tampaknya kurang memungkinkan karena upaya diplomatik AS belum lama ini. Jadi, setelah tahun ketiga keterlibatan militer Rusia di Suriah ini, Putin berharap akan memegang sesuatu yang lebih dari tangan Iran dan kantong utang yang meningkat.

Tentu saja, Rusia berusaha mencegah pengaruhnya berkurang tetapi Rusia gagal menyampaikan pemahaman tersebut selama pertemuan pertengahan musim panas lalu antara Presiden Trump dan Putin di Helsinki. Jadi dari pertengahan Juli dan seterusnya, Rusia berpura-pura sudah ada kesepakatan dengan pemerintah Trump dan yang tersisa tinggal beberapa detail kecil. Beberapa hari setelah pertemuan, Rusia mengirim surat melalui saluran militer yang mengisyaratkan bahwa AS dan Rusia membentuk kelompok gabungan untuk membiayai renovasi infrastruktur di Suriah.

Menurut Reuters, memo pemerintah AS yang membahas proposal Rusia mencatat bahwa tawaran itu akan secara khusus menangani wilayah-wilayah yang dikuasai rezim di negara di mana Assad “tidak memiliki peralatan, bahan bakar, bahan lain, dan dana yang diperlukan untuk membangun kembali negara itu dan menerima pengembalian pengungsi.” Hal ini menjelaskan sambutan dingin dari AS, karena hal itu bertentangan dengan usaha AS sendiri dengan Kelompok Kecil Suriah. Bahkan, memo itu menggambarkan kampanye Rusia untuk mendorong inisiatif di ibukota lain di mana mereka mengklaim proposal itu sebagai keadaan yang harus diterima setelah pertemuan Trump-Putin.

Ini mengingatkan kembali ke pernyataan Rusia tentang Dataran Tinggi Golan. Selama konferensi pers KTT Helsinki, Putin mengatakan ia akan mengambil langkah-langkah “untuk menciptakan perdamaian abadi sesuai dengan resolusi masing-masing dewan keamanan, contohnya resolusi 338.” Ini merujuk pada Resolusi 338 Dewan Keamanan PBB. Para pengamat yang cermat tergelitik oleh pernyataan ini karena resolusi ini adalah resolusi dari tahun 1973 yang menghidupkan kembali formula tanah-untuk-perdamaian, yang semula ditata dalam Resolusi 242 setelah perang 1967 di mana Israel merebut Dataran Tinggi Golan.

Dengan tema Golan yang sudah ditetapkan dan upaya Rusia untuk melaju ke akhir permainan yang akan menguntungkannya di Suriah, pertanyaan muncul: apakah Putin berharap untuk berperan dalam perdamaian antara Suriah dan Israel berdasarkan prinsip tanah untuk perdamaian? Atau, apakah Rusia menyatakan bahwa pihaknya tidak akan menjamin penarikan Iran dari Suriah dan tidak ada perjanjian perdamaian yang akan mengembalikan Dataran Tinggi Golan ke Assad—seperti cara seorang bos mafia tidak dapat menjamin keselamatan seseorang jika para premannya tidak terbayar?

Satu hal yang pasti: Putin tidak akan menerima posisi regional Rusia begitu saja setelah menghabiskan kenikmatan dari milenium ini dengan mencoba untuk merebut kembali kejayaan Rusia masa lalu. Apalagi, Rusia telah terpinggirkan setelah Uni Soviet runtuh. Rusia telah menghabiskan tahun 1990-an dengan menyaksikan proses perdamaian Suriah-Israel yang berlangsung di bawah naungan Amerika. Jika upaya itu berhasil, hal itu akan menarik negara Arab terakhir keluar dari orbit Rusia.

Hari ini, Rusia berada di bawah tekanan Amerika dan Israel untuk mengusir Iran keluar dari Suriah, padahal Rusia bergantung pada proksi Iran untuk melindungi Assad dan asetnya sendiri. Hubungan lama Putin dengan pemimpin Suriah juga membuatnya memiliki kewajiban strategis, mencegah pembiayaan internasional untuk rekonstruksi Suriah yang akan memperkaya oligarki Rusia.

Dari perspektif Putin, obat mujarab untuk masalah-masalahnya adalah proses perdamaian Suriah-Israel yang dipimpin oleh Rusia. Upaya semacam itu secara bersamaan akan merusak aliansi regional Amerika, sepenuhnya menormalkan Assad sebagai pemimpin Suriah, dan mengukuhkam posisi regional Rusia. Bahkan, proses itu sendiri akan mencapai tujuan-tujuan ini, terlepas dari hasil politiknya.

“Anda tidak bisa berperang tanpa Mesir dan Anda tidak bisa berdamai tanpa Suriah,” adalah pepatah lama yang diciptakan oleh mantan Menteri Luar Negeri Henry Kissinger beberapa dekade lalu. Rusia berusaha untuk mengklarifikasi bahwa setiap solusi damai di Suriah harus melindungi, bahkan meningkatkan, posisinya. Sejarah telah menunjukkan bahwa Rusia akan bersedia menawarkan apa yang tidak bisa Rusia jamin—seperti pengusiran Iran dari Suriah—untuk memajukan proses tersebut.

 

Keterangan foto utama: Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) bertemu Presiden Suriah Bashar Al-Assad (kiri) di Sochi, Rusia pada 17 Mei 2018. (Foto: Anadolu Agency/Getty Images/Kantor Pers Kremlin)

Waspadai Akhir Permainan Rusia di Suriah

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top